Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 8. Mendapat Kabar Tentang Ibu


__ADS_3

Siswa itu seolah menatap dan tersenyum manis ke arahku. Namun, aku sama sekali tak menghiraukannya. Meskipun ku lihat, wajahnya begitu tampan, dengan postur tubuh yang tinggi, juga kulitnya yang berwarna kecoklatan.


Aku perhatikan, teman-teman wanitaku begitu terkesima melihat dirinya, termasuk juga dengan Dhea.


"Anak-anak, kebetulan hari ini kita kedatangan murid baru di kelas ini. Dan sekarang, coba kita suruh dia buat memperkenalkan dirinya terlebih dulu, ya." Ucap Pak Roni.


Mengetahui jika siswa tersebut adalah murid baru, suasana kelas pun berunah menjadi sedikit ricuh, karena beberapa siswi begitu antusias atas ke datangannya.


Siswa itu lantas menyebutkan namanya, yang ku dengar namanya adalah Reyhan. Ia pindahan dari salah satu sekolah yang berada di Kota Bandung.


Karena demi pekerjaan ayahnya, yang mengharuskan mereka untuk pindah ke Jakarta. Yang mau tak mau, Reyhan pun akhirnya harus ikut kedua orang tuanya untuk menetap di sini dalam waktu yang ia sendiri pun tidak bisa memastikannya.


Ku lihat, Reyhan terus menatap ke arah ku. Entah aku yang ke ge-eran, atau memang mataku yang salah penglihatan. Ah sudahlah, yang pasti, aku tidak akan memperdulikan soal itu.


Pak Roni pun akhirnya mempersilahkan Reyhan untuk memilih bangku kosong, yang akan ia tempati. Lagi-lagi, ku lihat pandangannya tertuju pada bangku kosong yang tepat berada di belakangku.


Ia pun berjalan menuju bangku kosong tersebut, sambil terlihat tersenyum yang membuatku sedikit sebal.


"Dih! So' ganteng banget si tuh orang." gerutuku, yang ternyata terdengar oleh Dhea.


"Emang ganteng, Ra. Serius, senyumannya itu loh, Ra. Gak tahaann!" celetuk Dhea, membuat ku sedikit bergidik.


Sementara itu, Pak Roni pun memulai perlajarannya, dengan memberikan sedikit materi dan berakhir dengan memberikan beberapa tugas.

__ADS_1


Setelah memberikan tugas, Pak Roni pun terlihat berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Padahal, jam pelajaran belum berakhir.


Mengetahui jika Pak Roni telah keluar dari dalam kelas, suasana kelas pun lantas berubah, dari sebelumnya terasa tenang, kini menjadi sangat berisik.


Belum lagi, beberapa siswa yang terlihat keluar-masuk kelas. Sebagian juga banyak yang mondar-mandir mencari contekan jawaban dari tugas yang di berikan Pak Roni.


Entah kenapa, saat ini rasanya pikiranku selalu tertuju pada ibu. Padahal, Dhea selalu saja berusaha mengajak ku untuk sakadar mengobrol.


Tapi, rasanya aku enggan untuk menanggapi obrolannya. Aku lebih memilih untuk diam, hingga celetukan seseorang membuatku sedikit merasa geram.


"Eh! Nama lo siapa si? Perasaan, gue perhatiin cuma lo doang yang dari tadi diem aja. Gak terpesona apa lo, sama gue?" celetuknya, membuatku kembali bergidik.


"Hah! Terpesona? Seganteng apa emang muka lo? Jijik banget gue dengernya!" timpalku, sedikit jengkel.


"Ye! Lo pikir, lo juga cantik gitu? Belagu banget lo, jadi cewek! Cupu aja, belagu lo!" cetusnya lagi, membuatku semakin kesal. Rasanya, ingin sekali aku menarik kerah bajunya. Namun, Dhea menarik tangan ku, seolah ia menahan ku untuk tidak melakukannya.


"Ish, udah lah, Ra! Apaan si lo? Orang kayak gitu gak usah di ladenin si, biarinin aja! Gue rasa, tuh orang pindah karena kelakuannya deh, bukan karena orang tuanya yang pindah kerja." timpal Dhea, yang aku pun setuju dengan tanggapannya terhadap Reyhan, si cowok ngeselin itu.


Hingga jam istirahat tiba, ku dengar suara Bu Ani yang memanggilku melalui speaker yang berada di sudut kelas. Sedikit membuatku teringat, ketika beliau mengabarkan tentang kepergian ayah beberapa waktu lalu.


Pikiranku pun menjadi tak menentu, yang saat itu hanya tertuju pada ibu.


"Ada apa dengan ibu? Apa ibu gak baik-baik aja di rumah? Ya, Tuhan!" keluhku, semakin khawatir dengan kondisi ibu.

__ADS_1


Aku pun berusaha menemui Bu Ani, yang lagi-lagi ia tengah berada di ruangannya. Ku ketuk pintu ruangannya tersebut, dan ku dengar ia menyuruhku untuk segera masuk.


"Permisi, bu. Ada apa ya, manggil saya?" tanyaku, penasaran.


"Nadhira, duduk dulu, nak!" sahut Bu Ani, yang menyuruhku untuk duduk.


"Begini, Nadhira. Sebelumnya, ibu beserta guru yang lain turut prihatin atas kondisi kamu saat ini." Ucap Bu Ani, yang membuat aku merasa bingung, dan semakin penasaran.


"Iya, bu. Tapi, maaf, bu. Sebenarnya, ada apa ya, bu? Kenapa saya di panggil ke sini?" tanyaku lagi.


"Begini, Ra. Sebelumnya, ibu mewakili pihak sekolah, juga seluruh guru yang turut prihatin atas keadaan dan kondisi kamu saat ini. Terlebih lagi, kami baru saja mengetahui jika kondisi ibumu sedang tidak baik-baik saja." jawab Bu Ani, yang membuatku semakin mencemaskan ibu.


"Iya, terimakasih banyak, bu. Tapi, mohon maaf sebelumnya, bu. Maksud ibu, apa ya? Bilang, kalau kondisi ibu saya sedang tidak baik-baik saja? Maksudnya gimana, bu? Apa terjadi sesuatu dengan ibu saya?" tanyaku lagi, yang entah mengapa perasaanku ini semakin tidak enak.


Ku lihat wajah Bu Ani yang seolah mulai ragu untuk menjawab pertanyaanku, kepalanya sedikit tertunduk, dan ke dua matanya yang terlihat sesekali terpejam.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibu." Harapku, yang semakin cemas memikirkan kondisinya.


"Ibu, baru saja mendapat kabar, jika ibu kamu masuk rumah sakit, Ra. Ibu harap kamu bisa sabar ya mendengar kabar ini." celetuk Bu Ani, yang sontak membuatku lantas menangis.


Semua yang aku khawatirkan tentang ibu, kini benar-benar terjadi. Aku pun segera berpamitan kepada Bu Ani, untuk pulang dan menjenguk ibu di rumah sakit.


Namun, tiba-tiba saja Bu Ani memeluk ku, sambil air matanya mengalir dengan cukup deras.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya, Ra! Ibu tahu, ini semua sangat berat untuk kamu hadapi. Tapi, ibu yakin jika kamu mampu menghadapi dan menjalani ini semua. Jangan pernah sungkan untuk cerita sama ibu ya, Ra. Kapan pun kamu butuh, ibu pasti selalu ada untuk kamu. Meskipun gak banyak yang bisa ibu lakukan untuk kamu, dan juga ibu kamu, Ra." Ucapan Bu Ani, yang membuatku semakin bersedih. Aku tak pernah menyangka, jika Bu Ani bisa sebaik ini terhadapku.


Aku hanya tersenyum, dan tetap berusaha menahan tangis. Aku pun kembali berpamitan, seraya pergi untuk langsung menjenguk ibu di rumah sakit.


__ADS_2