
"Ra!" panggilnya lagi, seakan ada sesuatu yang kembali ingin ia katakan padaku. Raut wajahnya terlihat bingung, entah ada apa sebenarnya.
"Rim! Kenapa si? Dari tadi, gue liat muka lo, kok kaya orang bingung banget gitu si? Ada apa?" sahutku, yang lantas bertanya dan memastikan pada Rima.
"Eemmm.. Gini, Ra. Sebenernya, gue pengen kasih lo kerjaan. Tapi, Gue gak yakin si, kalo lo mau ambil kerjaan ini." ucap Rima, membuatku menjadi semakin penasaran dibuatnya.
"Kerjaan? Kerjaan apaan, Rim? Pasti mau lah, gue. Lo tau sendiri kan, gimana kondisi Gue sekarang?" timpalku, tanpa berpikir panjang soal pekerjaan yang di maksud Rima saat itu.
"Cewek panggilan!" celetuk Rima, yang entah aku salah dengar, atau memang Rima yang tengah bercanda. Yang pasti, ucapannya tersebut sama sekali tak ku tanggapi. Aku hanya tertawa, karena saat itu aku merasa jika ia tengah meledek keadaanku saja.
"Kok diem, Ra? Gak mau kan, lo?" tanyanya, sedikit memastikan.
"Apaan si, Rim? Gue nanya serius! Kalo lo jawabnya kayak gitu, sama aja kalo lo lagi ngeledek gue!" Aku pun sedikit protes padanya.
"Tapi, gue serius, Ra!" celetuknya, sambil terus meyakinkanku.
"Udah lah, Rim. Gak usah di bahas lagi!" sahutku, yang sebenarnya bingung. Entah Rima sedang bercanda, atau memang dia hanya ingin menggodaku saja.
Aku pun lantas berdiri, bermaksud untuk sejenak meninggalkan Rima. Namun, ketika aku yang baru saja hendak melangkah, tiba-tiba saja ucapan Rima seolah menahannya.
__ADS_1
"Lo pikir, gue bisa hidup sekeren ini, karena apa, Ra?" tanyanya, yang membuatku lantas mengurungkan niatku untuk meninggalkannya.
"Gue hidup sebatangkara, Ra. Gak ada nyokap, gak ada bokap, apa lagi saudara. Logikanya, gadis remaja kayak gue, hidup sendirian tanpa orang tua, masih bisa sekolah, masih bisa bebas beli ini, beli itu. Pake baju mahal, barang-barang mewah, punya rumah, penampilan selalu wah! Duit dari mana, Ra?" lanjutnya, lagi. Sedikit membuatku menjadi berpikir.
"Jangan bilang, Lo jadi...." belum sempat aku meneruskan pertanyaanku, rupanya Rima telah mengerti, dan langsung menjawabnya tanpa menunggu untuk menyelesaikan pertanyaanku.
"Iya! Gue lakuin semua itu, karena gue gak mau hidup susah, Ra. Gue gak mau, sekolah gue putus di tengah jalan. Gue gak mau, semua orang menghina gue, cuma karena gue miskin! Gue gak mau, Ra!" sebisa mungkin Rima menjelaskannya padaku.
Aku pun hanya terdiam dan cukup tercengang dengan semua ucapan Rima saat itu.. Seketika, aku melihat wajahnya yang berubah menjadi kemerahan, juga matanya yang mulai berkaca-kaca. Saat itu, aku benar-benar masih tak percaya, jika Rima bisa melakukan hal tersebut, hanya karena dia tidak mau di hina sebagai orang miskin.
"Lo liat diri lo yang sekarang, Ra? Sorry! Bukan Gue mau menghina atau pun ngerendahin lo, Ra. Tapi, mungkin diri lo yang sekarang ini, adalah gambaran hidup gue, kalo seandainya gue gak ngelakuin hal itu." Sambungnya, lagi. Yang kini, air matanya terlihat jatuh dan menetes di pipinya.
"Iya, gue tau, Ra. Tapi, Gue sama sekali gak peduli, Ra. Gue miskin, gue kelaperan, apa semua orang bakal peduli sama gue? Gue nangis, karena gue gak bisa sekolah, apa mereka semua juga bakal peduli? Enggak, Ra! Sama sekali mereka gak peduli. Begitu juga sama Gue! Gue gak bakal tuh, peduliin apa kata mereka yang selalu ngomongin gue, selalu ngegosipin gue. Toh, Gue juga gak pernah yang namanya numpang hidup sama mereka. Masa bodo amat, sama omongan mereka! Yang penting, gue bisa ngelanjutin hidup gue, tanpa ngebebanin mereka." Ucap Rima, yang membuatku seolah setuju dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Gue tau, Ra, lo anak yang baik. Tapi, baik aja gak mungkin bisa cukup, buat ngerubah perut lo yang kelaperan, jadi kenyang. Baik juga gak bakal bisa, buat nyembuhin nyokap lo, yang sekarang lagi butuh perawatan. Dan, apa karena lo anak yang baik, lo bisa bayar semua hutang-hutang bokap lo? Enggak 'kan? Lo terus-terusan bersikap baik aja, gak bakal bisa ngerubah keadaan, Ra. Apa lagi ngerubah nasib lo!" lanjutnya, lagi. Yang kali ini, aku mulai merasa muak, berlama-lama mendengarkan ucapannya tersebut.
"Cukup, Rim! Semua yang lo bilang emang bener. Gue juga gak bisa pungkiri dengan semua kenyataan yang ada. Tapi, gue masih punya hati dan pikiran yang jernih. Semua orang punya pilihan hidupnya masing-masing kan? Dan gue juga gak bakal nyalahin lo, gue juga gak mau banyak komentar kok, tentang apa yang udah lo pilih buat hidup lo. Tapi, please! Jangan komporin gue, apa lagi paksa gue buat ngikutin apa yang udah jadi pilihan lo! Karena apa? Karena gue juga punya pilihan buat hidup gue sendiri, Rim. Dan apa yang lo bilang, itu bukan pilihan yang harus gue pilih saat ini." sahutku, sedikit menegaskan kepada Rima. Jika aku, tidak akan memilih untuk menjadi seperti dirinya.
"Oh, ya? Barusan lo bilang, kalo apa yang gue pilih sekarang ini, bukan pilihan yang harus lo pilih saat ini. Berarti, masih ada kemungkinan kan, buat lo ganti pilihan? Ya, emang si bukan untuk saat ini. Tapi, untuk besok? Lusa? Atau bahkan nanti sekalipun, kita gak pernah tau, Ra. Karena kita gak tau, Ra, skenario Tuhan yang mana, yang di jadiin takdir buat kita terima. Cuma Dia, yang tahu! Dan seharusnya jangan pernah ada kesombongan untuk menolak kesempatan, sebelum Tuhan menghilangkan kesempatan itu!" balasnya, yang lantas beranjak dari tempat duduknya, seraya pergi begitu saja tanpa ada kata pamit sedikit pun.
__ADS_1
Aku pun sempat kesal dengan semua perkataan dan pernyataannya Rima saat itu. Tapi, aku berusaha secepat mungkin untuk tidak mengingat lagi segala ucapannya tadi.
Aku pun mulai berusaha masa bodo, dan melupakan ucapannya Rima. Dengan menyibukkan diri, membereskan rumah kontrakan yang baru saja aku tempati.
Hingga akhirnya, aku pun berhasil melupakan ucapannya tersebut, yang menurutku itu hanyalah ajakan sesat darinya.
Setelah selesai membereskan rumah, aku pun menyempatkan diri untuk melihat keadaan ibuku. Ternyata, Ibu masih tertidur pulas.
Perlahan, aku mulai mendekat ke arahnya. Aku melihat raut wajahnya, yang seketika mengingatkan ku pada sosok ayah.
Tak terasa, kini air mataku kembali menetes. Namun dengan cepat aku pun membasuh air mata tersebut. Aku tidak mau, jika isak tangisku nanti, akan membangunkan tidur lelap Ibu.
Aku segera beranjak, dan berjalan perlahan keluar dari kamar Ibu. Kemudian, aku pun mulai berjalan cepat, menuju kamar tidurku.
Sesampainya di kamar, aku pun lantas terduduk di sebuah ranjang yang cukup reot. Aku perhatikan sekeliling kamarku, sangat jauh berbeda dari kamar tidurku sebelumnya.
Yang mana, dulu kamar ku menjadi tempat terhangat, ternyaman untuk ku bisa beristirahat dengan sangat tenang. Tanpa sedikit pun terpikirkan sesuatu yang memang tidak seharusnya aku pikirkan, selain hanya pelajaran dan nilaiku di sekolah.
Tapi kini, semuanya berubah dengan begitu cepat. Kamar ku, tak lagi jadi tempat ternyaman untuk ku. Baru saja mata ku ingin terpejam, tiba-tiba saja segala sesuatu itu kembali muncul di pikiranku.
__ADS_1
Bagaimana bisa, sekarang aku dapat beristirahat dengan tenang? Sementara, banyak hal yang harus secepatnya aku selesaikan. Namun, aku tidak tahu, dengan cara apa, dan bagaimana, aku harus mulai menyelesaikannya