Dia (Mantan) Istriku

Dia (Mantan) Istriku
Gelombang Cinta


__ADS_3

Isabelle hanya bisa meremat pakaian di bagian dada kiri seolah ia bisa menggengam detak jantung yang bertalu.


Berkali ia mengingat kembali kejadian di mobil bersama Jake. Jarak wajah pria itu terlalu dekat serta ucapan lembut namun mengintimidasi hampir membuat Isabelle menyerah.


Seandainya jika pemilik perkebunan tidak segera datang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak hujan deras, mungkin Isabelle tidak punya jalan selain berterus terang dan mengatakan apa yang ia rahasiakan dari Jake.


"Hanya ada satu kabin yang kosong, jadi bagaimana?" Suara Jake membuyarkan lamunan Isabelle.


"Apakah kau masih betah dengan pakaian basah itu?" tanya Jake yang melihat Isabelle masih betah duduk di kursi kayu sejak mereka turun dari mobil dan kebasahan.


"Eh? A-aku baik-baik saja," jawab Isabelle, ia merasa gugup luar biasa karena tanpa sengaja ia langsung bertatapan dengan mata tajam sang mantan suami.


"Ini, kau bisa memakainya. Jangan berpikir aku adalah bos kejam dengan membiarkan karyawanku mati kedinginan," kata Jake sambil menyerahkan beberapa pakaian yang entah dari mana ia dapatkan itu.


Isabelle hanya bisa menunduk, bagaimanapun Jake tidak akan pernah bersikap lembut pada dirinya yang seorang pembohong.


"Jangan membuatku tampak seperti pria jahat jika wajahmu murung di depan nyonya pemilik peternakan!" Jake kembali berucap dan kali ini Isabelle mengangguk sebagai jawaban.


"Boleh aku bertanya?" Isabelle memberanikan diri untuk berucap. Sang mantan suami hanya menatap tapi terlihat dia tidak keberatan atas permintaan sang mantan istri.


"Mm, setahuku Xander Group bergerak di bidang infrastruktur, lalu untuk apa kau datang ke tempat terpencil ini?" tanya Isabelle walaupun penuh keraguan.


Bukan tanpa alasan, ia hanya khawatir perusahaan yang Jake kelola hanya menginginkan dan memanfaatkan peternakan Luis Conty. Dengan kata lain Jake akan membeli lahan secara paksa dari mereka.


Jake hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. "Ah, kau takut mantan suamimu ini menjadi pria yang jahat?" tanya Jake setengah menggoda.


Jake mendekat dan sekarang mengurung tubuh Isabelle yang terpaksa mundur sampai punggungnya menyentuh sandaran kursi.


Jake menatap wajah yang terlihat masih muda dan ranum. Bibir wanita itu masih memiliki warna merah muda yang alami. Rambut panjang yang sedikit bergelombang juga meneteskan air hujan di bagian ujung.


"Apa kau tahu? Tanah di sini sangat subur, tapi tempat ini tidak memiliki akses transportasi dan juga alat pertanian yang terbatas. Menurutmu bukankah ini bisa jadi peluang yang bagus untuk Xander Group?" Jake memainkan ujung rambut Isabelle dan membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


"Jangan lakukan itu! Apa kau tega mengambil semua yang mereka miliki, mungkin tempat ini terbelakang tapi--...." Ucapan Isabelle terhenti karena jari telunjuk Jake berada tepat di bibirnya.


Isabelle berkedip beberapa kali, apa dirinya terlalu banyak bicara? Mungkin itu benar dan ia sadar bahwa dirinya tidak berhak untuk ikut campur.


"Kau peduli pada mereka?" tanya Jake kembali. Ia tersenyum jahil, entahlah ia terus menginginkan untuk membuat Isabelle seperti kelinci yang siap dimangsa.


Jari telunjuk Jake malah menelusuri garis bibir wanita muda yang berada dalam kurungan tubuhnya. Ia suka sekali melihat Isabelle yang gugup setengah mati.


"Apa kau ingin menggodaku?"


"Eh?" Isabelle tidak mengerti pada ungkapan sang mantan suami, ia belum menjawab pertanyaan sebelumya tapi pria itu sudah memberi yang lainnya.

__ADS_1


"Dengan pakaian seperti ini kau bisa membuat para petani muda di luar sana menjadi liar," jawab Jake sambil menunduk dan melihat ke arah tubuh Isabelle.


"Eh?Ap- apa?" Isabelle segera tersadar dan menutupi bagian dada dimana pakaian warna putih yang ia kenakan sedikit menerawang karena basah.


Isabelle segera mendorong tubuh Jake dan ia segera beranjak. "Aku tidak bermaksud begitu!" jelasnya sambil menutup dada dengan pakaian yang Jake berikan tadi.


Si pria matang hanya tertawa ternyata Isabelle memang punya sifat unik, biasanya para wanita yang dekat dengannya selalu bersedia membuka pakaian walaupun tanpa diminta.


Wajah Isabelle memerah menahan malu, tapi Jake semakin ingin menggodanya. Itu adalah hiburan yang sangat langka baginya.


Tok-tok


Pintu kabin diketuk dari luar, membuat sepasang pria dan wanita segera mengalihkan perhatian.


Jake membuka pintu kabin dan ternyata yang mengunjungi mereka adalah nyonya tua pemilik peternakan Luis Conty.


"Permisi anak muda! Makan malam sudah siap, nanti datanglah ke rumah kami setelah berganti pakaian!" Wanita tua berkata dengan ramah membuat Isabelle tersenyum ketika mendengar dari belakang.


Ia teringat pada mendiang sang nenek yang sangat menyayangi dirinya ketika beliau masih hidup.


"Baiklah, terima kasih Nyonya!" jawab Jake juga sikap yang begitu ramah, "kami akan segera ke sana," tambahnya.


Setelah wanita tua itu pergi Jake kembali berhadapan dengan Isabelle. Wanita hanya menatap daun pintu yang sudah tertutup.


"Kalau begitu jangan abaikan undangannya dan segera ganti pakaian, atau kau ingin aku membantumu?" goda Jake.


Isabelle kehilangan kata dan semakin merasa malu. "Jangan bercanda!"


Isabelle segera masuk ke bagian lain kabin yang bisa dikatakan sebagai kamar. Dadanya masih terasa berdebar, ia tidak menyangka bahwa ia akan mengalami hal yang luar biasa terlebih itu bersama dengan Jake.


...


Isabelle dan Jake memenuhi undangan makan malam istri dari Jhony Hopkins, mereka adalah pasangan lanjut usia yang masih terlihat segar, mungkin karena mereka masih produktif bekerja di peternakan.


Makanan penutup juga disajikan kepada pasangan muda dari kota yang sepertinya memang sangat kelaparan sejak datang beberapa jam yang lalu.


"Bagaimana makanan di sini tidak buruk, 'kan?" tanya wanita tua yang bernama Alma.


"Oh, tentu saja tidak, ini yang terbaik," jawab Isabelle disertai wajah yang tidak menunjukkan kebohongan.


"Semua bahan makanan di sini kami tanam dan olah sendiri," jelas Alma sambil melirik ke arah sang suami yang hanya mengangguk seolah membenarkan ucapan Alma.


"Pantas saja, semua terlihat segar!" seru Isabelle, ia melirik ke arah Jake yang sepertinya juga menikmati sajian dari Alma.

__ADS_1


"Itu tidak mengejutkan karena tempat ini memang cukup terkenal di kota, penduduk di desa ini tidak banyak menggunakan bahan kimia untuk pertanian," jelas Jake membuat Isabelle cukup tertegun mendengarnya.


Dia tidak menyangka bahwa pria itu bisa juga berkata jujur tanpa terlihat ada gurat keangkuhan pada mimik wajahnya.


"Itulah tujuan kami datang kemari," lanjut Jake.


Isabelle kembali merasakan sedikit cemas, ia takut jika pria itu mengacaukan suasana yang baik dengan membicarakan bisnis.


"Kami sangat menghargai niat baik mu, Anak Muda!" Kali ini Jhony Hopkins membuka suara.


"Kita hanya perlu menunggu sampai besok, semua keperluan akan di datangkan dari kota," ucap Jake kembali.


Isabelle masih mencerna percakapan antara dua pria beda usia tersebut, sepertinya tidak ada ketegangan yang dibayangkan oleh wanita tersebut.


...


"Jake, tunggu!!" Isabelle mengikuti langkah sang mantan suami yang berjalan lebih dulu.


Setelah makan malam selesai mereka segera kembali ke kabin untuk beristirahat karena sudah terlalu larut.


"Ada apa?" tanya Jake setelah ia berhenti berjalan dan berbalik pada wanita muda.


"Apa kau tidak jadi mengambil lahan di tempat ini?" tanya Isabelle dengan ragu.


"Apa kau berpikir begitu?" tanya Jake yang dijawab anggukan oleh Isabelle.


"Dengar, Nyonya! Seharusnya Chen yang datang kemari mengurus semuanya,  Xander Group memberi fasilitas pada para petani dan peternak di Luis Conty karena kontribusi mereka memasok bahan makanan untuk perusahaan kami," jelas Jake panjang lebar.


"Benarkah? Aku bahagia mendengarnya! Terima kasih!" seru Isabelle dengan begitu gembira, ia juga tidak menyadari sekarang ia sudah menghambur ke pelukan sang mantan suami.


Jake mematung dan terdiam, ia terkejut mendapat perlakuan manis dari Isabelle, sikap wanita itu sulit untuk ditebak.


Si pria matang hanya bisa tersenyum, ternyata Isabelle bisa begitu bahagia hanya karena hal yang begitu sederhana menurut dirinya.


Kedua tangan Jake terangkat begitu saja dan membalas pelukan wanita muda berambut panjang. Wangi lembut tubuh wanita itu terasa memberi ketenangan untuknya.


Rambut Isabelle juga terasa halus saat kedua tangan Jake melingkar di punggung wanita muda itu.


'Ini seperti Dejavu atau mimpi yang pernah kualami.'


TBC


Maaf untuk keterlabatan ku yang sangat tidak terampuni ...

__ADS_1


C u next chap, i love u all 🌸🌸


__ADS_2