Dia (Mantan) Istriku

Dia (Mantan) Istriku
Luka Cinta


__ADS_3

Isabelle merasakan sakit di kedua bahu karena Jake memegangnya begitu kuat. Tatapan pria itu benar-benar mengintimidasi hingga ia merasakan kelu di lidahnya.


"Kau terluka, Jake." Itu bukanlah pertanyaan, Isabelle merasakan bahu kirinya basah dan ketika ia lihat tangan Jake yang berbalut perban putih berubah warna menjadi merah.


Jake mengikuti arah pandang Isabelle pada tangannya, luka itu akibat ia memukul cermin kemarin. "Bukan urusanmu!" geramnya.


Isabelle sedikit panik karena ia tahu Jake pasti kesakitan sekarang. "Luka ini tidak sebanding dengan luka yang kau berikan padaku." Pria itu kembali berkata.


Isabelle memberanikan diri untuk menyentuh tangan kanan Jake yang terluka. Tubuh pria itu seperti melemah, mungkin karena telah mengeluarkan amarah.


"Jake, ini harus segera diobati! Ayo ikut aku!" Isabelle menarik tangan sang mantan suami dan entah kenapa pria itu tidak memberikan penolakan yang berarti.


Tubuh Jake menyerah begitu saja ketika Isabelle membawanya pergi menjauh dari toilet, dia seolah merasa lelah dan tidak ingin lagi banyak bicara.


Isabelle membawa Jake ke atap gedung dengan sangat terpaksa, di tempat umum ia tidak bisa memperlihatkan kebersamaan dengan pria itu karena akan ada banyak masalah nantinya.


Isabelle menatap dengan rasa bersalah sambil membersihkan luka di tangan Jake, sebelumnya ia sudah meminta pada pada petugas gedung untuk meminjamkannya kotak pertolangan pertama.


Luka di tangan Jake memang tidak terlalu parah tapi tetap saja akan terasa perih.


"Kau harus menahan rasa sakitnya!" bisik Isabelle, suaranya seperti akan menghilang terbawa angin di atas gedung tersebut.


Jake tidak bergeming membuat Isabelle tidak tahu bagaimana caranya supaya pria itu bersikap normal.


Ibu satu anak itu kembali membalut tangan sang mantan suami, sementara Jake sendiri diam seribu bahasa membiarkan Isabelle merawat lukanya.


Pria itu hanya bisa menatap sang mantan istri yang begitu telaten untuk memberi perawatan.


Rambut Isabelle yang tersanggul sudah tidak lagi rapi seperti awal kedatangannya. Anak rambut yang terlepas sebagian terbawa angin dan menempel di pipi pualam wanita itu.


Wajah tanpa cela milik Isabelle terlihat begitu bersinar karena adanya cahaya bulan di atas sana. Hal itu tentu membuat Jake tersiksa karena debaran jantungnya menggila dan tidak terkendali.


Hidung mancung dengan ukuran yang begitu pas di wajah Isabelle, bulu mata yang lentik dan jangan lupakan bibir yang terlihat lembab berpoles lipstik dengan warna yang tidak terlalu merah.


Jake tidak bisa melepaskan tatapan pada pemandangan yang indah di hadapannya. Ia merasa tidak waras, mengingat kembali hal yang telah dilakukan wanita itu pada dirinya. Rasa kecewa kembali menguasai pikirannya.


Jake segera beranjak dan mengabaikan Isabelle yang masih berlutut di hadapanya sekadar memberi perawatan pada tangannya yang terluka.


"Entah sampai kapan takdir mempermainkanku karena terus bertemu dengan dirimu, kuharap ini adalah yang terakhir kalinya," ucap Jake dengan suara seperti tanpa emosi.


Pria itu memejamkan mata, ia merasa semua begitu rumit dengan perasaan yang bercampur aduk. Satu sisi ia benci, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada perasaan lain di dalam hatinya untuk Isabelle.


Jake melangkah untuk meninggalkan segala penderitaan yang selalu timbul dari Isabelle--itu yang dipikirkan Jake saat ini, ia tidak ingin lagi melihat wajah sang mantan istri walaupun rasanya sangat berat.


"Saat usiaku lima belas tahun, aku hanya tinggal dengan seorang kakak dan juga seorang nenek yang begitu menyayangi kami."

__ADS_1


Langkah Jake terhenti saat ia mendengar sebuah suara yang bungkam cukup lama sejak mereka berada di atap.


"Nenek yang memberi segalanya sampai beliau tutup usia, dan akhirnya hanya ada aku dan kakakku."


"Kakak yang seperti ibu dan ayah, kemudian aku merasa bahagia karena akhirnya ia memiliki beberapa teman dan sahabat, percayalah dia yang paling menghargai semua sahabatnya."


"Tapi selalu ada perpisahan setelah pertemuan, begitupun persahabatan kakak, akhirnya dia kesepian dan tidak bisa mengatakan tentang penyakitnya pada siapapun."


"Tapi aku juga menyesal karena tidak bisa mengatakan pada akhirnya, bahwa aku sudah mencintai salah satu temannya."


Jake hanya bisa mendengarnya, ia tidak tahu apa yang dibicarakan Isabelle, terlalu rumit dan terlalu banyak yang tidak ia percaya dari ucapan Isabelle.


"Seperti yang kau katakan ada pertemuan dan perpisahan, itulah kenyataan yang harus kuhadapi sekarang, pergilah, Isabelle!" Jake hanya bisa memejamkan mata merasa tidak kuasa mengatakan hal tersebut.


"Aku ingin kau sadar, setiap perbuatan selalu ada balasan baik atau buruk," kata Jake tanpa pernah berbalik sejak ia melangkah tadi, ia tidak tahu ekspresi apa yang ada di wajah Isabelle.


Grep ...


Jake cukup terkejut ketika sepasang tangan melingkar di perutnya, rupanya Isabelle memeluknya dari belakang.


"Aku tahu, kau sudah terluka begitu dalam, tapi aku tidak pernah ingin melukai siapapun, tapi ternyata aku mengacaukan segalanya," ucap Isabelle.


"Aku merenggut semua kebahagiaanmu, aku membuat banyak orang terluka," lanjut wanita itu.


Jake hanya bisa menunduk menatap sepasang tangan dengan kulit yang begitu halus, jemari yang tidak terlalu besar, serta kuku dengan cat bening menghiasi.


"Dan aku bersalah karena ... karena aku sudah mencintaimu sejak dulu, itu kesalahan terbesar dalam hidupku." Jake terpaku dan terdiam, apakah ia mengalami gangguan pada pendengarannya?


"Hukuman ini begitu berat tapi aku pantas menerimanya."


Sulit untuk dicerna, ucapan Isabelle seperti menggantung di udara, dan sekarang ia mendengar isak tangis wanita yang pernah menjadi istrinya itu.


"Aku akan mengabulkan keinginanmu, aku tidak muncul lagi di hadapanmu untuk selamanya," ucap Isabelle, ia melepas pelukan secara perlahan karena tidak ada respon sama sekali dari sang lawan bicara, ia tahu bahwa setelah ini Jake akan semakin membencinya.


Isabelle mungkin seorang pembohong tapi ungkapan cinta untuk Jake adalah hal yang paling tulus dari dalam hatinya.


Flashback


'Kakak, kau harus sembuh!' ucap Isabelle saat ia berada di rumah sakit untuk menjaga sang kakak.


'Waktuku tidak banyak lagi, aku tidak berguna, aku bahkan tidak bisa mewujudkan keinginan nenek untuk melihatmu bahagia dan menikah.'


Isabelle hanya bisa menangis, tentu ia ingat janji sang kakak kepada neneknya untuk tetap bisa menjaga dirinya sampai ia bahagia dan memiliki keluarga.


'Sekarang hal itu juga yang menjadi keinginan terakhirku, Isabelle!'

__ADS_1


Tatapan mata Issac seperti sebuah permohonan, dan itu membuat Isabelle merasa putus asa.


Keinginan nenek dan kakaknya tidak bisa ia penuhi dan Isabelle tidak akan pernah bisa merasa tenang.


Gadis muda Isabelle berpikir keras untuk membuat sang kakak sehat kembali bagaimanapun caranya. Tanpa pikir panjang ia merencanakan hal yang pastinya dianggap begitu buruk.


'Kakak, aku butuh uang pinjaman untuk membeli toko bunga, tapi aku butuh seseorang untuk penjamin,apakah kakak bisa membantuku?! Teman kakak dari keluarga Xander dia orang kaya, 'kan?'


Issac hanya bisa mengangguk, sementara Isabelle memberinya selembar kertas kosong pada pria yang sedang duduk lemah di kursi.


'Kakak akan meminta bantuan Jake.'


'Tunggu! Sebaiknya kakak katakan itu hanya untuk sebuah petisi di kampus ku!'


...


Semudah membalik telapak tangan Isabelle mendapat tanda tangan Jake pada sebuah lembaran kertas. Berkat sang kakak, ia menggunakan nama Jake sebagai jaminan untuk pengajuan pinjaman pada sebuah bank.


Bukan hanya itu dia membuat surat nikah palsu karena pihak bank tidak bisa memberi jika ia tidak terkait sebuah hubungan dengan Jake.


Semua ia lakukan demi pengobatan sang kakak, membeli toko bunga hanya demi sebuah aset untuk ia mendapat penghasilan, walaupun ia sudah menjadi seorang penipu.


Uang yang ia pinjam memang sudah kembali dan pengobatan Issac tetap berjalan tetapi takdir selalu berkata lain.


Hampir beberapa bulan, Issac tidak pernah tahu bahwa Isabelle sudah menikah di atas kertas dengan sahabatnya sampai ia tidak bisa bertahan lagi dengan penyakitnya.


Isabelle menyimpan rahasia itu, sampai pada akhirnya kebohongannya juga terungkap dengan sendirinya.


Flashback end


Jake merenung di dalam kamar, ia tidak bisa berpikir jernih, sudah hampir dua malam ia mengabaikan malam pengantin bersama Silvia dengan alasan lelah.


Sebenarnya ia hanya berusaha keras untuk mengingat sesuatu di masa lalu, sudah terlewat dan terjadi begitu saja.


Wajah Isabelle dan bayi kecil Michael terus terbayang di pelupuk matanya. Apa hanya dirinya yang tidak tahu apapun.


Sebuah pemikiran muncul di kepala Jake, mungkin mulai sekarang ia tidak akan tinggal diam, jalan satu-satunya adalah ia harus mencari tahu segalanya.


Jake hanya tidak ingin lagi mendengar kebohongan lain dari Isabelle jika ia hanya bertanya pada wanita itu.


Pria matang itu hanya akan mencari tahu tanpa harus terlibat emosi yang bercampur keraguan pada semua ucapan Isabelle.


"Sean, benar. Mungkin dia tahu segalanya," gumam Jake setelah mengingat pria itu cukup dekat dengan keluarga Aringwyn.


TBC

__ADS_1


Yoo, yang kangen silakan merapat jangan lupakan dukungannya ya ... I Love u all ...


__ADS_2