Dia (Mantan) Istriku

Dia (Mantan) Istriku
Janda Muda


__ADS_3



Sebuah toko bunga 'Lavender Love' sudah buka sejak pukul delapan pagi. Banyak pengunjung baik pria maupun wanita yang sengaja membeli bunga dari toko Isabelle.


Isabelle juga bersiap untuk membantu Calio setelah makan siang, sesuai janjinya kemarin malam.


"Permisi!" Seorang pria datang dengan setelan jas rapi ala pegawai kantoran.


"Silahkan masuk! Ada yang bisa saya bantu, Tuan?!" Isabelle menyambut dengan ramah karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai pemilik toko.


"Nona Isabelle Aringwyn?" tanya pria tersebut, Isabelle mengangguk dengan tatapan heran.


"Saya sekretaris Xander Group, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda!" ucap pria itu lagi.


"X-Xander Group?" Isabelle sangat terkejut, tentu dia tidak asing lagi pada nama itu. Sebuah nama yang pernah jadi nama belakangnya.


"Benar, kami sedang mengadakan observasi lahan untuk semua toko yang berada di area Xander Group," jawab pria itu panjang lebar, Isabelle hanya mengangguk, tetapi setidaknya dia bisa bernafas lega dari rasa cemasnya.


"Oh begitu? Silahkan duduk!" Isabelle memandu tamunya untuk duduk di sebuah sofa yang berada di bagian sisi toko.


Setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk, Isabelle segera menyuguhkan secangkir kopi, karena pembicaraan mereka pasti berlangsung sedikit lama.


Satu yang Isabelle tidak mengerti, observasi lahan apa yang ingin dibicarakan pria kantoran tersebut? Isabelle hanya tahu dia membeli lahan tanah langsung dari pihak bank.


...


Isabelle tengah gelisah karena kejadian tadi siang cukup menguras emosinya. Bagaimana pria yang mengaku sebagai sekretaris Xander Group mengatakan bahwa lahan yang dia tempati akan dibeli oleh perusahaan tersebut.


Isabelle juga bertanya pada pria tua Italia--Calio yang sudah menyetujui jika restorannya diambil alih karena mereka mengajukan harga dua kali lipat sehingga para pemilik toko kecil menjadi tergiur dan menjual toko mereka pada Xander Group tanpa berpikir ulang.


Janda muda Isabelle sama sekali tidak ingin menjual karena toko itu adalah hasil jerih payah sang kakak yang memberi wasiat supaya dia merawatnya dengan baik.


'Jika merasa keberatan, Anda bisa menemui direktur kami untuk bernegosiasi.'


Ucapan pria itu terus terngiang, bagaimana dia bisa menemui direktur Xander Group yang tidak lain adalah mantan ayah mertuanya. Itulah yang ada dalam pikiran Isabelle.


Rasa cemas dirasakan wanita muda itu mengingat skandal pernikahan dirinya dengan putra sang direktur. Isabelle tidak tahu apakah keluarga Xander mengenal dirinya? Apakah mereka tahu dialah yang sudah memanipulasi pernikahan dengan Jake Ryan?


"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?" gumam Isabelle sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kakak, bagaimana ini?" lirihnya.

__ADS_1


Pihak Xander Group memberi waktu padanya selama satu minggu untuk memikirkan tawaran tersebut. Apakah dia harus menemui sang direktur?


...


Jake kembali melihat toko Isabelle dari dalam mobil mewahnya. Sebuah senyuman terpatri di wajah tampan Jake, tentu itu adalah senyuman sinis yang penuh kepuasan.


"Bersiaplah untuk mendapat hukuman dari apa yang sudah kau lakukan padaku!" gumam Jake.


"Isabelle Aringwyn aku bahkan tidak tahu wajahmu," ucap Jake, tentu saja dia tidak tahu wajah mantan istrinya dengan begitu jelas, karena dia hanya pernah bertemu sekilas dalam dua kali pertemuan.


"Aku juga ingin melihat wajah kakakmu, bagaimana sikapnya nanti jika mengetahui adik kesayangannya hidup menderita." Jake masih bergumam, pria itu berdecak karena merasa menjadi pria tidak waras karena terus bergumam sambil menatap toko bunga yang sudah tutup.


...


Pagi yang cerah tidak membuat Isabelle merasakan hal yang sama dengan perasaanya. Wanita muda itu menatap sendu keadaan sekitar depan tokonya.


Restoran Italia milik Calio dan beberapa toko lain sudah tutup karena sudah dijual pada Xander Group yang ingin memperluas jangkauan dan menunjukkan betapa kuatnya perusahaan tersebut.


Isabelle merasa kebingungan, karena pria bernama Chen kembali menghubunginya untuk memberi keputusan. Bahkan pria itu menawarkan harga lebih dari pada orang lain.


Isabelle tidak tergiur sama sekali, tetapi masalahnya dia tidak punya kuasa untuk tetap mempertahankan toko pemberian sang kakak.


Mungkin dia tidak sendiri, masih ada beberapa toko yang masih bertahan, tetapi tekanan dari pihak Xander Group bisa mengubah pemikiran mereka, jika terus menaikkan nominal tawaran.


...


"Bagaimana, Chen?" tanya Jake pada sang sekretaris.


"Hampir 80 persen berjalan dengan lancar, sebagian masih bernegosiasi dan satu orang yang sama sekali tidak memberi jawaban bahkan menolak mentah-mentah," jawab Chen panjang lebar.


Mendengar itu Jake menaikkan satu alisnya. "Benarkah? Siapa itu?" tanyanya.


"Nona Isabelle Aringwyn di blok 6 menolak tawaran ini," jawab Chen.


"Hmm, kalau begitu apa kau memintanya untuk bernegosiasi denganku?" Jake kembali bertanya.


"Tentu saja. Dia bilang akan memikirkannya. Sepertinya dia juga tidak tahu jika ayah Anda sudah pensiun," ucap Chen. Seperti yang semua orang tahu, Jake adalah direktur baru untuk Xander Group.


Jake tersenyum penuh arti, siapa yang tidak kenal ayahnya. Si mantan istri ternyata memang tidak tahu jika dirinyalah yang menggantikan posisi tertinggi di perusahaan tersebut.


"Saya bisa mewakili Anda, Tuan!" tawar Chen pada sang atasan.


"Tidak perlu, Chen! Untuk yang satu ini aku bisa meluangkan waktu," jawab Jake sambil tersenyum pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Chen membungkuk kemudian pergi meninggalkan ruangan sang direktur.


Selepas kepergian Chen, pria berusia tiga-puluh-lima tahun tersebut hanya terdiam sambil menatap salinan berkas kepemilikan tanah atas nama sang mantan istri.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Sejujurnya dia tidak suka menekan orang lemah, tetapi dia masih marah dan kesal atas apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu.


"Kita lihat apa yang akan terjadi nanti!" ucapnya lirih.


"Lepas begitu saja, itu terlalu mudah bagimu, Isabelle!" lanjutnya.


Jake menyimpan berkas tadi kemudian segera pergi untuk acara rapat saham yang akan dipimpin oleh dirinya sendiri.


...


Isabelle tersenyum saat seorang teman menghiburnya dengan candaan, setelah memutuskan untuk menutup toko sejenak dia pergi mengunjungi teman lama.


Isabelle juga menceritakan tentang masalah yang sedang dialaminya saat ini dengan perusahaan sang mantan suami.


"Jadi begitu? Aku tidak mengerti, memangnya mereka tidak mengenali namamu?" tanya teman Isabelle--Mariela.


"Kenapa tidak temui saja mantan mertuamu! Ceritakan pada mereka hal yang sebenarnya. Lagipula putranya yang manja itu harus bertanggung jawab padamu!" Mariela berkata panjang lebar pada temannya yang sedang menggendong bayi laki-laki berusia tiga bulan.


"Aku tidak bisa, Mariela! Itu adalah kesalahanku," kilah Isabelle sambil menatap bayi kecil dalam pangkuannya.


"Lalu, kau akan membiarkan pria itu tidak bertanggung jawab pada putra kalian?" Mariela menahan amarah.


"Itu kesalahanku," lirih Isabelle sambil menunduk.


"Iya, kesalahanmu dan si bodoh itu yang sedang mabuk, sampai kau mengandung dan dia malah tidak tahu apa-apa, menyebalkan!" Mariela menggerutu karena kebodohan Isabelle, itu menurutnya.


"Michael Ku adalah harta yang paling berharga," ucap Isabelle sambil menciumi pipi bayi mungil yang menggeliat dalam gendongannya.


"Hmm, tetap saja dia harus tahu tentang bayinya. Michael adalah putranya juga."


Isabelle terdiam, ternyata mendatangi Mariela malah menambah beban pikirannya. Dia tidak mau jika keluarga Xander sampai tahu jika dia dan Jake punya seorang anak, walaupun semua hanya kesalahan dan tidak sengaja.


TBC


What? Isabelle dan Jake punya anak?


Bagaimana bisa? Nanti ada chap keterangannya ...


See you next chap ...

__ADS_1


I Love you all 🌺🌺🌺


__ADS_2