
...
...
...
...
...🌺🌺🌺...
Langkah Isabelle sedikit cepat di koridor gedung perkantoran, kurang dari lima menit, jarum jam akan menunjukkan pukul tujuh.
"Ahh ...." Isabelle bernapas lega, karena akhirnya ia bisa selamat dari kata terlambat.
Bukan disengaja, ternyata manusia hanya bisa berencana. Isabelle sedikit terlambat karena si kecil Michael tiba-tiba demam tadi malam.
Isabelle cemas walaupun bayi kecilnya itu sudah lebih baik dan sedang bersama pengasuhnya. Jika bukan karena terpaksa ia tidak akan mau untuk meninggalkan malaikatnya itu.
...
Jake tiba di kantor tiga-puluh menit lebih lambat dari pukul tujuh. Siapa yang akan protes dia adalah bos di tempat tersebut.
Jake sudah melihat ruangannya rapi dan wangi, bunga segar dan baru pada sebuah vas terlihat cantik di matanya.
Secangkir kopi masih mengepul dengan aroma yang semerbak dan lezat. Jake hanya tersenyum sinis karena tahu bahwa si mantan istri berhasil di hari pertama bekerja.
Jake menaruh tas kerja, kemudian duduk di kursi kebesarannya. Ia mencicipi kopi buatan si office girl.
Jake menekan sebuah tombol yang terhubung ke dapur kantor, tidak lama kemudian seorang wanita datang dengan mengenakan seragam khusus.
...
Isabelle mendatangi ruangan dengan kode nomer satu, yang artinya itu adalah ruangan milik presiden direktur. Ia tidak tahu kenapa Jake memanggil.
Sebelum bekerja ia diberi pengarahan oleh senior untuk semua tugas yang harus ia kerjakan. Isabelle sangat bersyukur karena pekerjaannya tidak terlalu sulit.
Senior Isabelle mengatakan, biasanya direktur utama alias Jake akan memanggil kembali pada saat jam makan siang jika pekerjaan awal sudah selesai.
Namun, belum sampai pukul delapan, lampu panggilan nomer satu sudah menyala yang menandakan ada panggilan untuk office girl atau office boy.
Isabelle merasa terintimidasi oleh tatapan dingin Jake. Pria itu tidak berkata sampai Isabelle merasa cukup jengah dengan sikap sang mantan suami.
"Apa keperluan Anda, Tuan?" Isabelle bertanya dengan nada suara yang dingin.
Jake hanya tersenyum kecut menanggapi sikap Isabelle yang cukup berani padanya. "Kau tidak cukup baik sebagai seorang mantan istri."
__ADS_1
Isabelle menatap heran pada Jake. Apa yang sedang pria itu bicarakan? Dia terdiam tidak berniat untuk menimpali ucapan dari si pria dingin.
"Kopi mu terlalu manis," ucap Jake, padat dan jelas.
Tidak butuh waktu lama untuk Isabelle memahami ucapan pria itu. Kesimpulannya Jake tidak suka rasa manis untuk kopinya.
"Aku akan menggantinya," jawab Isabelle sambil meraih cangkir kopi yang berada di hadapan Jake.
Isabelle hanya bisa menghela napas, Jake memang sengaja memanggil supaya ia bisa menekan dirinya, karena bisa saja Jake memesan kopi baru lewat pesan suara di ruangan dapur kantor.
"Aku tidak menyangka punya mantan istri yang tidak tahu apa yang tidak disukai mantan suaminya sendiri," sindir Jake yang membuat Isabelle hanya bisa memejamkan mata saat ia sudah berbalik membelakangi pria itu.
Isabelle menahan mulutnya untuk tidak terbuka dan memberi ucapan balasan, ia memilih untuk segera pergi dengan perasaan yang berkecamuk.
...
Hari-hari berikutnya pekerjaan Isabelle tetap sama, Jake selalu mencari cara untuk menunjukkan kesalahan kerja Isabelle walaupun itu adalah hal kecil.
Beruntung Isabelle memiliki penyemangat hidup, bayi kecilnya itu mampu menghilangkan semua rasa lelah pada diri Isabelle.
Saat pulang kerja, ia akan bermain dengan Michael dan itu menjadi hiburan tersendiri baginya.
...
Isabelle kembali membersihkan ruangan Jake, tanpa sengaja ia menemukan sebuah kartu undangan dengan desain mewah.
Sepasang nama terukir dengan tinta emas dalam undangan tersebut--Jake Xander Ryan dan Silvia Ganus. Mata wanita itu hanya terpaku dengan tatapan tidak terbaca.
Tidak perlu mengenal lebih jauh tentang Silvia, karena sepertinya wanita itu sudah dikenal di seluruh penjuru negara, bahkan mungkin mancanegara.
Siapa dirinya? Jelas Isabelle tidak berani memberanikan diri untuk membandingkan antara Silvia dan dirinya yang seperti langit dan bumi.
Lagi dan lagi ia hanya bisa mengingat tentang kesalahan di masa lalu. Intinya Isabelle cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan Jake akan menatapnya.
Kenapa? Apakah ia mengharapkan itu?
Siapa yang tahu tentang rahasia hati Isabelle yang sebenarnya, ia memang sudah jatuh cinta pada Jake sejak ia bertemu pertama kali dengan pria itu, walaupun usia Jake lebih tua sepuluh tahun darinya.
Isabelle memang mencintai sahabat dari sang kakak. Dia masih ingat ketika ia bertatap muka dengan Jake sebanyak dua kali saja. Itu yang Jake ketahui.
Sebenarnya Isabelle sering melihat Jake secara diam-diam saat Jake berkunjung untuk menghabiskan waktu bersama sang kakak.
Dari kesalahan itulah bayi Michael terlahir, karena Isabelle tidak bisa menolak sentuhan Jake yang sedang mabuk di malam pria itu tahu atas penipuan yang ia lakukan.
Semua karena rasa cintanya kepada Jake. Kesalahan kedua yang cukup fatal, tetapi jika mengingat Michael, ia tidak menganggap itu sebuah kesalahan. Bayi itu segalanya bagi Isabelle.
Sangat terasa begitu rumit jika Isabelle terus melihat ke arah belakang, tetapi ia sudah tidak bisa mundur dari takdir sekarang.
Jalan satu-satunya ialah tetap merahasiakan keberadaan Michael dari Jake dan biarkan pria itu dengan segala kebenciannya.
__ADS_1
"Apakah dulu kau juga menyebar undangan seperti itu?" Isabelle sangat terkejut saat mendengar suara Jake.
Ia lupa telah berdiri cukup lama sambil menatap undangan itu. "Ma-maaf," jawabnya gugup.
Isabelle kembali menyimpan undangan tersebut. "Permisi!" pamitnya setelah berbalik pada Jake yang masih berada di ambang pintu ruangan direktur.
"Hari ini aku ingin memesan makanan dari restoran Italia milik Tuan Calio!" ucap Jake yang lebih tepat dikatakan sebagai perintah.
"Tuan Calio sudah tidak membuka restoran. Bukankah pihak perusahaan sudah membeli tempat itu?" jawab Isabelle.
"Kudengar beliau membuka restoran baru di pusat kota Tennesse," jawab Jake dengan santai.
"Berikan alamatnya!" pinta Isabelle, ia tahu Jake kembali menguji dirinya.
"Temui Chen karena ia yang mengurus tentang pembelian tanah!" perintah Jake lagi.
"Tuan Chen sedang cuti," jawab Isabelle, apakah Jake lupa bahwa sekretaris kepercayaannya itu sedang pulang ke negara asalnya.
"Kurasa aku tidak perlu menjelaskan bahwa sekarang zaman modern yang serba canggih." Jake berlalu melewati bahu Isabelle, pria itu kemudian duduk dan mulai menata semua dokumen yang akan ia kerjakan.
"Baiklah!" jawab Isabelle kemudian pergi dari ruangan direktur.
...
Lagi dan lagi Jake dibuat tidak berkutik atau lebih tepatnya tidak bisa menyudutkan Isabelle tentang pekerjaan.
Beberapa kotak makanan khas Italia tersaji di atas meja tamu ruangan kerjanya. Ia hanya bisa menatap Isabelle, mungkin pria itu berpikir begitu mudahnya bagi Isabelle menemukan restoran baru milik pria tua yang restoran lamanya selalu ia datangi untuk mengawasi Isabelle.
Jake merasa bodoh saat menyadari dan mengingat ia selalu mengawasi Isabelle dari restoran milik pria tua Calio yang kebetulan letaknya bersebrangan dengan toko bunga milik Isabelle.
"Seperti yang Anda katakan, sekarang zaman yang sudah serba canggih. Aku berterima kasih karena berkat Anda, aku bisa bertemu kembali dengan Tuan Calio," ucap Isabelle seolah mengerti tatapan bertanya dari wajah sang mantan suami.
Isabelle memang masih menyimpan nomer kontak milik si pria Italia, sehingga ia hanya perlu menghubungi dan akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan pria tua tersebut dan juga memesan makanan yang diinginkan Jake.
Sebuah senyuman terukir di bibir Isabelle dan pemandangan itu tidak luput dari perhatian mata Jake.
'Sial ....'
Jake merutuk karena walaupun hanya sedikit dan sekilas ia berpikir bahwa senyuman milik sang mantan istri terlihat begitu manis.
'Cantik sekali!'
TBC
Hmm, gimana nich?
Sudah jelas si Jake melakukan kesalahan di sini. Apakah dia akan berhasil membuat Isabelle tertekan, atau dirinya yang akan terjebak pada sang mantan?
Soo, see u on the next chap ...
__ADS_1
I Love u all 🌺🌺🌺