
...
...
...Jake Xander Ryan...
...
...
...Isabelle Aringwyn...
...🌺🌺🌺...
Isabelle dan Sean saling berhadapan di ruang tamu, wanita muda itu hanya bisa memeluk putra kecilnya dalam pangkuan, sedangkan Sean hanya menatap dari sebrang sofa.
"Aku tidak tahu kau sudah menikah dan punya anak," ucap Sean sambil tersenyum.
"Maaf, aku teman Issac yang sangat buruk," lanjut pria itu lagi.
Isabelle menggelengkan kepala. "Waktu cepat berlalu, ada banyak hal yang sudah dilewati semua orang," jawabnya kemudian.
Sean mengangguk beberapa kali. "Jake juga tidak pernah memberitahuku," ucapnya lagi, "tapi itu memang salahku, aku sangat sibuk dan aku yakin Jake juga demikian."
Isabelle terdiam, mendengar nama sang mantan suami disebut dia merasa debaran di jantungnya semakin menggila.
"Oh, aku baru ingat dan ingin menanyakan sesuatu?" Perkataan Sean membuat Isabelle sedikit cemas. Dia tidak ingin jika pria muda itu bertanya lebih jauh tentang kehidupannya.
"Kau bekerja di kantor Jake. Iya, 'kan?" Rupanya apa yang ditakutkan Isabelle benar-benar terjadi. Sean bisa saja menggali dan mengungkap semua yang ingin ia simpan.
"Aku baru ingat saat pulang dari sana, aku merasa familiar dengan wajahmu itu. Ah, jika kau kenal denganku kenapa tidak menyapa? Jake juga begitu, kenapa dia tidak mengenalkan ku padamu?" ujar Sean panjang lebar.
Akankah semua semakin buruk? Isabelle tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan pada Sean.
"Mu-mungkin dia sedang banyak pikiran, maksudku dia memang selalu sibuk dalam pekerjaannya," jawab Isabelle dengan gugup.
"Iya, kau benar." Sean berkata untuk memaklumi keadaan.
Waktu terus berlalu dan pada akhirnya Isabelle dan Sean larut dalam pembicaraan hangat yang mengurangi kecemasan dalam hati wanita itu.
Sean adalah pria paling ramah dan hangat yang Isabelle kenal selama ini, dia memang berbeda dengan Jake sejak dulu, dan mereka adalah sahabat terbaik kakaknya.
...
Isabelle sangat senang melihat keakraban Sean yang bermain dengan Michael, pria itu terlihat menyukai bayi kecil tersebut.
"Ah dia sangat menggemaskan!" seru Sean sambil menggendong Michael, "maaf untuk semua yang terjadi, kau harus berjuang sendiri setelah Issac tiada."
__ADS_1
Perkataan Sean yang penuh penyesalan membuat Isabelle hanya bisa mengingat semua kenangan tentang sang kakak.
"Aku merasa heran pada mantan suamimu, kenapa dia tega meninggalkan wanita sebaik dan secantik dirimu? Terlebih dia tidak tahu kau memiliki bayi lucu ini," ujar Sean tanpa berhenti bermain dengan Michael.
Isabelle memang tidak mengatakan semua pada Sean tentang siapa Michael dan siapa ayah bayi itu, lagi dan lagi Isabelle terpaksa berbohong pada Sean. Dia memberi jawaban yang dibumbui dengan dusta.
"Aku punya alasan untuk tidak memberitahunya, dan percayalah aku tidak sebaik yang kau kira," jawab Isabelle, tentu kali ini ia menjawab dengan jujur.
"Aku tidak bisa mengatakan segalanya, mungkin jika kau tahu alasannya kau juga tidak akan berpikir aku wanita yang baik," lanjut Isabelle.
"Aku paham, baiklah aku tidak akan bertanya dan mencampuri semua urusanmu," kata Sean sambil memberikan senyuman yang mampu memberi kehangatan pada siapa yang melihatnya.
"Ah, mungkin suatu hari nanti kita bisa membawa Michael berjalan-jalan bersama Jake- ...."
"Tidak!!"
Sean sangat terkejut ketika Isabelle memotong ucapannya secara tiba-tiba, dia melihat raut wajah Isabelle yang gelisah dan sedikit pucat.
"J-Jake tidak tahu aku sudah memiliki anak," jawab Isabelle, membuat sang lawan bicara menatap heran.
"Pe-perusahan Jake tidak mempekerjakan wanita yang memiliki anak kecil," ucap Isabelle.
"Aku membutuhkan pekerjaan, jadi aku merahasiakan hal ini, tolong jangan beritahu dia!" pinta Isabelle, untung saja kali ini dia tidak berbohong tentang hal tersebut.
Perusahan Xander punya kebijakan untuk tidak mempekerjakan wanita yang memiliki anak kecil. Tujuannya untuk mengurangi resiko pada anak-anak tersebut akan terlantar oleh sang ibu atau yang lebih buruk seperti penculikan atau keburukan dari pihak-pihak tertentu.
Sean hanya terdiam, memang benar di luar sana ada banyak kasus kejahatan pada anak-anak yang tidak berdosa. Penculikan, kekerasan oleh pengasuh atau bahkan keluarganya sendiri. Serta tidak jarang kasus pelecehan juga terjadi.
Maka para pegawai wanita di perusahaan Xander yang memiliki anak di bawah umur akan diberhentikan dari pekerjaan tanpa memecat mereka.
"Bagaimana jika ada karyawan lain yang tahu, mereka juga bisa melaporkanmu nanti?!" Isabelle terdiam, bukan takut dipecat atau kehilangan pekerjaan, sekali lagi dia tidak ingin Jake tahu bahwa ada seorang anak hasil dari pernikahan di atas kertas mereka berdua.
"Selain kau yang akan kehilangan pekerjaan, nama baik perusahaan Xander juga terancam karena sudah mengabaikan peraturan," ucap Sean sekadar mengingatkan Isabelle bahwa tindakannya bisa menimbulkan masalah.
"Apakah aku harus berhenti saja?" tanya Isabelle.
Itulah yang dipikirkan Isabelle selama ini, apa yang ia pertahankan dengan menjadi pegawai di perusahaan sang mantan suami? Dia bisa pindah dengan membuka toko sederhana di rumah dan menyerahkan toko kecil peninggalan Issac pada pria itu.
"Aku akan berusaha membantu, mungkin aku bisa mencarikan pekerjaan di tempat lain," tawar Sean.
Isabelle sangat menghargai kebaikan Sean, ia merasa bersalah karena tidak bisa berkata jujur pada Sean, bukan tentang pekerjaan atau uang, masalah yang ia hadapi adalah Jake sendiri.
"Terima kasih, aku akan memikirkan langkah selanjutnya, lagipula putraku memang membutuhkan diriku. Aku tidak mau terus meninggalkannya bersama pengasuh," jawab Isabelle, ya mungkin sebaiknya ia menyerah daripada Michael yang harus menjadi korban keegoisan dirinya.
...
Kembali beraktifitas dengan pekerjaan, Isabelle harus mulai memikirkan cara untuk mengundurkan diri dari Xander Group walaupun sebenarnya ia bisa pergi kapan saja jika ia menyerah.
Kali ini dia sedang makan siang di kantin kantor, sambil memikirkan semua keputusan yang akan ia ambil, ia belum berani memberikan surat pengunduran diri pada sang mantan suami karena hari ini Jake terlihat emosional dengan semua pekerjaannya.
Sean yang kebetulan memiliki kerja sama dengan Jake juga berada di tempat tersebut. Dua pria itu juga sedang berada di kantin sekarang.
__ADS_1
Sebelum duduk Jake sempat beradu pandang dengan Isabelle dan wanita itu segera mengalihkan perhatian, membuat Jake semakin kesal karena berpikir bahwa si office girl terlalu kerasa kepala.
Berbeda dengan Jake yang angkuh, Sean justru melambaikan tangan pada Isabelle yang duduk beberapa jauh dari mereka berdua.
"Waktu itu kenapa kau tidak mengatakan kalau office girl di kantormu adalah Isabelle?" tanya Sean.
"Aku lupa," jawab Jake dengan malas.
"Hm, apakah kau tahu siapa mantan suami Isabelle?" tanya Sean yang sukses membuat sang lawan bicara menatap heran.
"Tidak," jawab Jake, "memangnya kenapa?" tanyanya kemudian.
"Hanya menyayangkan pada sikap bodohnya," jawab Sean sambil menatap ke arah Isabelle.
"Maksudmu?" Jake mulai menanggapi semua ucapan Sean, entah hal apalagi yang akan ditimbulkan si wanita penipu itu.
"Dia bodoh meninggalkan wanita sebaik dan secantik Isabelle," jawab Sean tanpa menyadari raut kesal di wajah sang sahabat.
Jake tersenyum kecut dan berdecak. "Aku tidak kenal dia, lagipula kurasa itu urusan dia kau tidak berhak ikut campur," ucapnya dengan nada suara yang dingin.
"Baik atau buruk kau tidak akan tahu sifat seseorang," tambah Jake.
"Ah, ucapan mu terlalu kejam untuk seseorang yang tidak kau kenal." Sean berucap sambil tersenyum, pria itu tidak tahu bahwa sang lawan bicara sudah merasa kesal setengah mati.
Sementara itu orang yang mereka bicarakan terlihat sedang melakukan panggilan video dengan seseorang.
'Oh Sayang, aku sangat merindukanmu. Setelah pulang kita akan habiskan waktu berdua saja, ya?!'
Demi Tuhan Jake merasa muak pada Isabelle, apakah ia melakukan panggilan dengan seorang pria? Apakah dia korban baru Isabelle?
"Wah, dia pasti sedang bicara dengan pangerannya," ucap Sean yang juga melihat kejadian serupa.
"Cih, bukankah terlalu cepat untuk dia memiliki kekasih setelah menjadi janda?" tanya Jake sambil tersenyum sinis.
"Hey, ucapan mu seperti pria yang sedang cemburu?" goda Sean.
"Ap-apa?" Jake terkejut mendapat pertanyaan tersebut. Walaupun ia tahu hal itu sangat mustahil baginya.
"Aku hanya bercanda, kau terlalu serius, Kawan!" Sean tertawa sedangkan Jake justru semakin marah.
"Sialan, Kau!!!"
TBC
Lama up? Maaf ya my loveee semuahh ...
Semoga chap ini bisa ngobatin rasa rindu kalian sama pair Jake--Isabelle ini ❤️❤️❤️
Yang cinta Jake--Isabelle acung tangan??
Thank u for support
__ADS_1
See u on the next chap
I lovee u all ❤️❤️