
Seperti mendapat jalan buntu, Jake tidak bisa mendapat banyak informasi tentang Isabelle. Dia cukup kewalahan untuk menghadapi segala macam permasalahan sekaligus.
Tentang Isabelle dan Michael, serta masalah perusahaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Jangan lupakan kehidupan rumah tangga yang baru dibangun bersama Silvia belum juga mengalami kemajuan. Wanita itu juga terus merengek tentang bulan madu yang tertunda.
"Siang nanti ada pertemuan dengan kolega dari Mexico, saya harap anda bisa menghadirinya kali ini, Tuan!" Chen berkata dengan sopan, sebenarnya pria asia itu cukup kerepotan untuk membuat alasan pada klien karena Jake seringkali mangkir beberapa hari terakhir.
Jake hanya melirik sekilas, ia tahu dirinya sudah terlalu banyak meninggalkan tugas pekerjaan. Jake memang tidak bisa menyewa seorang detektif karena alasan beresiko akan diketahui oleh ayahnya.
Bagaimana jika keluarganya tahu ia menyewa mata-mata hanya untuk mencari tahu kehidupan seorang wanita terlebih itu adalah orang yang sudah menipu mereka.
Jake cukup bertoleransi untuk tetap menyembunyikan identitas Isabelle pada semua orang. Ia bingung karena satu sisi ia merasa peduli terlebih jika mengingat bayi lucu yang membuatnya penasaran setengah mati.
Namun, satu sisi ia merasa kesal karena Isabelle sudah membuatnya terbebani dengan masalah yang wanita itu timbulkan.
"Chen, bagaimana dengan surat kepemilikan lahan Nyonya Aryngwin? Apa dia sudah menanda tanganinya?" tanya Jake sekadar menanyakan karena mungkin ada info lain yang akan ia dapatkan tentang Isabelle.
"Sudah, bahkan beliau menyerahkan dengan suka rela tanpa meminta pengganti untuk propertinya," jawab Chen dengan yakin.
Jake cukup tercengang, semudah itukah Isabelle menyerahkan apa yang ia miliki tanpa tuntutan? Benar-benar menguras emosi sang mantan suami.
"Perlu anda ketahui, gabungan perusahan juga akan bekerja sama penuh untuk memperluas pembangunan berikutnya," ungkap Chen, dia terus mengingatkan sang atasan bahwa ia tidak bisa bersantai dengan tugasnya.
Jake mengusap wajah dengan kasar, mendengar ucapan Chen jelas ia merasa cemas, gabungan perusahaan yang dibicarakan sang sekretaris adalah persaingan dengan adiknya sendiri--Monique Xander yang mewarisi penuh sifat sang ayah.
Hal itu jelas akan mempersulitnya untuk menggali informasi tentang Isabelle karena sang adik akan mengawasinya setiap waktu.
"Kepalaku sakit, aku ingin istirahat," jawab Jake, sebenarnya ia tidak tahan pada kehidupan yang ia jalani.
Seharusnya ia dan Monique bisa menjadi saudara akrab jika saja tidak ada aturan untuk bersaing dalam keluarga tentang siapa yang lebih baik.
Jake juga yakin adiknya juga merasakan hal yang sama walaupun wanita muda itu bisa menutupinya dengan sempurna oleh keangkuhan dan ketegasan.
Tok-tok ...
Belum selesai obrolan Jake dan Chen, pintu kantor diketuk dari luar, tanpa dipersilakan pintu terbuka dengan sendirinya dan memperlihatkan seseorang yang beberapa saat menjadi bahan pikiran sang direktur.
"Selamat siang, Tuan Direktur?!" Jake hanya menatap sekilas tanpa minat.
"Untuk apa kau datang kesini, Monique?" tanya Jake tanpa menghiraukan kehadiran wanita muda yang baru saja datang.
__ADS_1
Jake menatap Chen dan sekretaris itupun memahami, pria asia itu segera pamit untuk memberi ruang pada dua kakak beradik tersebut.
"Apa begitu sambutanmu pada orang penting?" protes Monique sambil menyilang tangan di dada. Wanita elegan itu duduk di sofa kantor milik sang kakak.
"Bagiku kau tetap adik yang cengeng dan manja, jadi jangan bertingkah di hadapanku!" ujar Jake yang jelas membuat sang adik memasang wajah kesal.
"Jangan coba menyinggung masalah prrnikahanku, aku tahu itu senjatamu satu-satunya!" Mulut Monique yang terbuka segera menutup kembali mungkin ia mengurungkan niat untuk mengeluarkan perkataan.
"Mungkin kau benar, Jake! Tapi kau harus waspada dengan semua ketenangan ini, aku yakin mantan istrimu tidak akan tinggal diam tanpa keuntungan," ungkap Monique yang sukses membuat perhatian sang kakak beralih padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Jake dengan tatapan mengintimidasi.
"Cih, jangan pura-pura bodoh, mungkin saja dia sedang menyiapkan bom waktu untuk mengejutkan semua orang," ujar Monique.
"Jangan menganggapku sebagai orang yang terlalu bodoh, aku yakin ada hal yang kau sembunyikan." Monique tersenyum sinis.
"Jika kau bicara tentang mantan istriku, sebaiknya jangan bertindak jauh dan jangan ikut campur!" tegas Jake.
"Apa? Mantan istriku? Ucapanmu seolah kau pernah hidup dengan wanita yang tidak kau kenal itu," ejek sang adik.
"Sayangnya kau terlambat mengingatkanku untuk tidak ikut campur, karena aku sudah tahu siapa dia."
Sang direktur mengepalkan tangan, ia kesal dan tertinggal satu langkah dari adik ambisius nya itu. Tidak ada jalan lain selain bertemu langsung dengan Isabelle, entah kenapa ia tidak ingin terjadi hal buruk apapun pada sang mantan istri.
...
"Sayang, jadilah malaikat Mama untuk selamanya, kau satu-satunya milik Mama," ucap Isabelle pada putra kecilnya yang sedang ia peluk.
Wanita muda itu menampilkan senyum bahagia ketika bersama anak semata wayangnya itu. Hanya Michael yang bisa menguatkan sang ibu untuk bisa menghadapi semua masalah.
Sekarang semua harapan indahnya benar-benar hilang, ia sudah menyerahkan toko bunga pada Jake dan tidak ada alasan lagi untuk bertemu pria itu.
Lagipula ia tidak bisa mengingkari janji untuk tidak muncul di hadapan Jake. Malam ketika di atap ia menyesali semua ucapannya. Entah mendengar atau tidak Isabelle hanya berharap Jake akan menghiraukan ungkapan cintanya.
'Maafkan aku, Jake!'
...
Malam penuh bintang di kota Tennese membuat langit tampak begitu indah dengan gemerlap cahaya dari ribuan benda di atas sana.
__ADS_1
Jalanan beraspal tampak dipenuhi kendaraan yang melintas. Suasana yang mencerminkan tentang keadaan kota dengan segala kemajuan zaman dan teknologi.
Jake dan Silvia merencanakan sebuah makan malam indah di sebuah restoran mewah dan terbaik di kota Tenesse. Mungkin ia harus melupakan sejenak semua yang menjadi beban pikiran dan membahagiakan Silvia yang sudah lama menunggu dirinya.
Jake mungkin terlihat baik-baik saja, tapi jauh di dalam pikiran pria itu ada sesuatu yang begitu mengganjal. Sekeras apapun ia berusaha, ia tetap tidak bisa mengenyahkan hal tersebut.
"Apakah kita harus menunda rencana pindah ke luar negri?" tanya Silvia ketika menikmati makanan penutup.
"Maafkan aku, Silvia! Pekerjaanku terlalu banyak untuk ditinggalkan," sesal Jake, ia merasa bersalah pada sang istri.
"Tidak apa, kalau begitu aku akan tanda tangan kontrak dengan agensi baru karena bayaran yang mereka tawarkan sangat tinggi." Silvia berkata dengan penuh semangat. Super model seperti dirinya sudah pasti mendapat jalan yang mudah untuk mendapat keuntungan.
"Tapi menurut rumor yang bereder mereka juga sedang mencari model baru," keluh Silvia.
Jake sangat memahami, sebagai model profesional Silvia tidak suka bersaing dengan siapapun. Dia tidak suka jika dikalahkan dalam segala hal, tapi tidak ada yang sempurna di dunia ini.
"Memangnya model seperti apa yang mereka cari? Jika mereka sudah memilikimu sebagai aset utama," tanya Jake yang sukses membuat sang istri tersenyum bahagia.
"Entahlah, tapi asisten ku mengatakan mereka akan mencari secara acak," jawab Silvia dengan kesal.
Jake hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Silvia, dia cukup senang bisa menghibur wanita itu setelah semua penundaan rencana mereka.
"Jika bisa kau tidak perlu menjadi model, bisakah kau menjadi istri yang menungguku di rumah?!" pinta Jake pada sang istri.
"Aku tidak akan mau, menjadi model nomer satu adalah impianku," jawab singkat Silvia dan sebenarnya Jake sudah tahu akan jawaban itu.
Silvia terlalu keras kepala dan itu adalah hal yang tidak disukai Jake dari wanita tersebut. Silvia terlalu ambisius untuk menonjolkan diri, sedangkan Jake hanya menyukai wanita sederhana.
Memikirkan itu Jake teringat Isabelle, ia berpikir predikat wanita sederhana sangat cocok untuk Isabelle mengingat dari semua sudut yang ia lihat dari diri sang mantan istri.
Lagi dan lagi nama Isabelle membuat dadanya bergemuruh tidak karuan, di saat yang tidak tepat Jake mengingat senyuman dan juga suara tawa sang mantan istri yang pernah didengarnya.
'Sial ....'
Jake merutuk karena jauh di dalam hatinya ia merasa hampa. Tidak pernah ia lupakan kejadian malam itu ketika ia bersama sang mantan istri. Apa ia tidak salah dengar? Apa saat itu Isabelle mengucap kata cinta? Pada dirinya?
TBC
C u the next time 😘😘
__ADS_1