Dia (Mantan) Istriku

Dia (Mantan) Istriku
Keraguan


__ADS_3

Jake merasa tubuhnya lemas, ia merasa tidak sanggup bahkan hanya untuk berdiri di atas kedua kakinya. Seperti tersambar petir mungkin itu adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan keadaan pria itu saat ini.


Perasaan Jake kembali hancur, ia tidak sanggup lagi untuk menanggung perasaan akibat semua yang disembunyikan Isabelle selama ini.


Ternyata Isabelle sudah memiliki anak, tega sekali wanita itu menipunya dengan begitu buruk. Dia bahkan mulai meragukan bahwa Isabelle adalah wanita yang terhormat.


Jake hanya memejamkan mata mengingat kembali ucapan sang pengasuh, rasanya ia ingin tertawa rupanya Isabelle menipu semua orang dengan membuat kebohongan lain.


Ya, ternyata wanita itu punya ribuan tipu muslihat dalam hidupnya, membuat Jake begitu kecewa lebih daripada sebelumya.


Padahal ia baru saja merasakan sesuatu yang berarti untuk wanita itu. Status janda yang Isabelle miliki menjadi senjata tersendiri untuk menutupi semua aib kotornya-- itulah yang dipikirkan Jake tentang sang mantan istri.


...


Brak ...


Jake membuka pintu kamar dengan amarah yang begitu meluap, ia melempar jas ke sembarang tempat untuk melampiaskan amarah.


Dadanya terasa begitu sakit, bayangan wajah Isabelle yang menertawakan dirinya tidak juga enyah.


Mata pria itu memerah, ia bisa melihatnya dari pantulan cermin yang sedang ia tatap.


'Sialan kau, Isabelle!!'


Prang ...


Serpihan cermin berhamburan memantulkan ratusan bayangan wajah Jake yang murka, terlihat pula beberapa bercak darah di atas pecahan dan juga di lantai.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, ia emosi sampai tidak tertahan lagi rasa sesak yang memaksanya meneteskan air mata kemarahan.


Ia memukul meja beberapa kali dengan sekuat tenaga. Ia marah karena merasa Isabelle sudah membodohinya selama ini.


Jake kembali menghitung waktu ketika ia mengetahui pernikahan palsu itu. Satu tahun yang lalu dan ia bercerai tiga hari setelahnya.


Usia Mickey baru menginjak dua atau hampir tiga bulan, lalu bagaimana Isabelle bisa memiliki anak itu dengan pria lain ketika masih terikat pernikahan dengan dirinya.


Sungguh itu seperti hinaan yang sangat besar bagi Jake. Sang mantan istri sudah melempar kotoran di wajahnya.


Rupa malaikat Isabelle hanya topeng untuk menutupi tubuh iblis wanita itu, Jake benci pada kepalsuan dan kemunafikan dari wajah lugu serta cantik milik mantan istrinya itu.


'Aku sangat membencimu!'


...


Suasana meriah begitu terasa di sebuah aula gedung hotel berbintang, dekorasi mewah dan mahal menghiasi hampir setiap sudut ruangan tersebut.


Pelaminan berada di bagian depan dengan posisi sedikit lebih tinggi dari lantai dansa atau lantai untuk para tamu.

__ADS_1


Para tamu undangan juga bukan orang biasa, mereka dari kalangan tertentu dengan kedudukan penting seperti para pejabat dan pengusaha sukses.


Sebuah pesta pernikahan pengusaha muda yang sukses Jake Xander dan model terkenal Silvia Ganus sedang digelar dengan acara resepsi setelah resmi melakukan janji pernikahan tadi pagi.


Siapa yang tidak penasaran pada pernikahan pria terkaya di Tennesee dan wanita tercantik untuk kalangan para model. Sudah pasti semua orang akan hadir pada pesta besar tersebut.


...


Isabelle menatap gedung yang menjulang di hadapannya, ia hanya mampu menghembuskan napas secara perlahan untuk menghilangkan kegugupan.


Dengan menggenggam sebuah kartu undangan Isabelle berdiri di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca dan logam yang mengkilat.


Pintu tembus pandang yang membuatnya bisa melihat ke dalam. Ia tidak yakin apakah dirinya bisa memenuhi undangan sang mantan suami untuk melihatnya menikah lagi.


Dengan langkah yang penuh keraguan, Isabelle berusaha untuk menyeret kakinya supaya bisa tetap melangkah, ia tidak ingin terpaku di luar sana seperti seorang pengecut.


Ia merasakan firasat hal buruk akan terjadi, tapi ia tidak mengindahkan pemikiran itu, yang terpenting sekarang adalah hubungannya dengan Jake mulai membaik-- itu adalah yang dipikirkan Isabelle setelah mengingat beberapa kejadian yang dilalui bersama sang mantan suami.


Suasana ramai jelas tergambar di hadapan mata Isabelle, pernikahan Jake dan Silvia diadakan dengan begitu luar biasa dengan para undangan yang merupakan orang-orang penting di Tennese.


Bibir Isabelle mungkin melukiskan sebuah senyum tapi tidak akan ada yang tahu bahwa ia merasa cukup hampa dan ada rasa sakit di dalam dadanya.


Menghadiri pesta pernikahan pria yang dicintai dengan wanita lain, itu sama saja seperti menabur garam di atas luka, perih dan nyeri. Isabelle hanya busa mengusap dengan sedikit menekan dadanya yang sesak.


"Hai, Isabelle!!" Seorang pria melambaikan tangan dari jarak yang tidak begitu jauh, itu adalah Sean Wood si pria baik hati sahabat sang kakak.


"Sean, sejak kapan kau kembali?" Isabelle menyambut jabatan tangan Sean.


"Aku ingin menjadi sahabat yang bisa diandalkan, ini adalah janjiku setelah tidak bisa memberi hal baik untuk sahabatku yang lain," jawab Sean, tentu Isabelle sangat mengerti, pria itu masih merasa bersalah pada mendiang kakaknya karena terlambat mengetahui bahwa Issac sudah meninggal.


"Jangan begitu, kurasa sebagai sahabat baik, Jake dan kakakku akan selalu menghargai persahabatan kalian, apapun yang terjadi!" Senyuman terpatri di bibir Isabelle.


"Baiklah, karena kau dan aku tidak membawa pasangan jadi kau boleh meminjam tanganku ini!" tawar Sean yang tentu saja dijawab tawa oleh Isabelle.


"Tentu saja," jawab Isabelle dan tanpa ragu ia menggandeng tangan Sean.


Kehadiran Sean mengurangi rasa cemas Isabelle yang masih saja bersarang di dalam dadanya. Sekarang ia sudah menyerah untuk segalanya. Ia akan merelakan Jake untuk bahagia bersama wanita pilihannya sejak dulu dan sekarang ia hanya perlu memikirkan Mickey seorang.


"Bagaimana kabar pangeranmu?" tanya Sean.


"Hmm, dia semakin menggemaskan," jawab Isabelle dengan antusias.


"Aku selalu teringat pada pria kecil itu, apa rencanamu selanjutnya. Kau sudah tidak bekerja pada Jake lagi 'kan?!" Pria itu kembali bertanya tidak lupa tatapannya tertuju pada objek yang dimaksud, seorang pengantin pria yang berada di pelaminan.


Tatapan Isabelle juga tertuju ke sana, ia hanya mampu kembali mengusap pelan dada kirinya yang terus berdenyut nyeri.


"Apa dia tahu tentang putramu?" Isabelle hanya menggelengkan kepala, ia mendengar ucapan Sean tapi tatapannya terlihat kosong.

__ADS_1


"Tidak, kurasa dia tidak perlu tahu, kau tahu Sean, semua orang punya urusan masing-masing jadi itu bukan hal penting," jawab Isabelle, tentu itu adalah kebohongan yang ke sekian kalinya.


Terus berbohong apakah itu akan baik pada akhirnya, bohong tetaplah bohong tidak ada kebaikan dalam kata tersebut apapun alasannya.


"Maaf, aku permisi sebentar!"


"Silakan!"


Isabelle pamit pada Sean untuk pergi ke toilet, ia tidak tahan lagi pada rasa sesak yang semakin mendesak ingin keluar dari matanya.


Isabelle tidak mau dikasihani, ia tidak ingin orang lain melihat penderitaannya, jika dulu ia akan kuat menahan segalanya, tapi sekarang ia tidak sanggup ketika memikirkan Michael.


Bayi kecil itu adalah kekuatan dan juga kelemahannya, ia tidak akan bisa lagi memberikan kasih sayang utuh sebuah keluarga pada putra tunggalnya itu.


Wanita muda Isabelle membasuh wajah dan merapikan kembali riasan yang luntur, ia akan kembali menjadi pembohong di luar sana. Di pesta sang mantan suami yang tidak akan pernah merasakan cintanya.


"Oh sekarang kau berusaha menjerat Sean untuk kau permainkan?" Isabelle sangat terkejut ketika keluar dari bilik toilet dan mendengar sebuah suara yang tidak asing.


"J-Jake?" Isabelle hampir tidak percaya bisa melihat pria itu berada dekat di hadapannya.


Jake terlihat sempurna dengan jas hitam yang begitu rapi dan pas di badannya, wanita mana yang tidak akan terpesona pada pria tampan tersebut.


"Cih, kau belum lupa pada diriku, Mantan Istriku?" Isabelle menatap heran, sikap Jake begitu dingin padanya.


"Apa perlu aku rekomendasikan pria bodoh untuk kau tipu?" ucap pria itu lagi.


"Apa maksudmu? Aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat padamu," kilah Isabelle, ia masih menahan gejolak di dalam dadanya.


Jake mendekat kemudian menarik baju bagian depan Isabelle dan mendorong tubuh wanita itu sampai punggungnya mengenai dinding toilet.


"Kau wanita kejam, Isabelle! Tega sekali kau menipuku seperti ini!" Jake menggeram menahan amarah.


Isabelle yang tidak mengerti ucapan Jake hanya bisa menatap heran dengan sudut mata yang sudah menggenang.


"Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal yang begitu penting bagiku??" teriak Jake yang mulai hilang kendali.


"Apa kau begitu suka mempermainkan hidupku??"


"Jake, aku- ...."


"Siapa? Siapa ayah bayi itu?" teriak Jake dengan mata yang sudah memerah.


Mata Isabelle membulat sempurna, apakah itu tentang Michael? Tidak mungkin, dari mana Jake tahu tentang hal itu?


TBC


See u on the next chap ...

__ADS_1


Terima kasih karena sudah setia pada cerita ini, i love u all ❤️❤️❤️


__ADS_2