Dia Cinta Pertama

Dia Cinta Pertama
Elang yang terluka


__ADS_3

Lelaki di hadapanku tertunduk diam, duduk membisu memandang kaki


"El" panggilku


"Kamu dengar ucapanku?"


Pelan dia mengangkat kepala menatapku dengan sorot mata yang membuat lubang di hatiku mulai menganga. Tatapan tajam karena kecewa, marah, bertanya tercermin di bola mata coklat itu. Melenyapkan binar indah yang kurindukan dikedua matanya


"Ya" ucapnya singkat penuh penekanan tiap katanya


"Jadi El, kita..." aku tersedak, berdehem pelan sebelum melanjutkan


"Kita hanya sampai disini saja, aku nggak bisa terusin hubungan ini"


giliranku terdiam, tertunduk tak sanggup melihat lelaki di hadapanku yang masih menatap tajam. Kami berdua diam lama, hanya suara di sekeliling kami yang bergerak tak perduli. Aku menyibukkan diri dengan mempermainkan jari-jari masih belum berani menatap sepasang mata itu

__ADS_1


"Kamu gak kasih aku alasan" ujarnya,


aku menelan ludah,


"Aku harus keluar kota"


"Memangnya kenapa kalau berjauhan?" tanyanya sedikit meninggi


"Aku yang nggak bisa...." jawabku


"Aku rasa itu bukan alasannya.." ujarnya datar, detak jantungku mulai berdetak cepat, nafasku mulai memburu, menahan tangis


Lelaki itu menghela nafas keras, membuat kata-kata di ujung lidahku membeku


"Menjalin hubungan jarak jauh bukan masalah Ya....Beberapa kenalanku ada yang tinggal berjauhan, hubungan jarak jauh juga, padahal mereka sudah nikah tapi mereka bisa, atur jadwal, komunikasi"

__ADS_1


"Bahkan beberapa tinggal lain negara, mereka bisa-bisa aja" tambahnya


"Apalagi sekarang lebih mudah, ada ponsel, email, pesan singkat. Lagipula, kalau hanya kota itu, jaraknya beberapa jam saja, bisa kan pulang pergi diakhir pekan"


Lelaki itu bicara panjang lebar dengan tidak sabar, mulai mengetuk meja dengan jari, aku merasakan tatapan diam yang semakin membuat degup jantungku menderu.


Saat itu kami duduk berhadapan di sebelah jendela besar dalam sebuah kafe dengan pemandangan jalanan kota yang sibuk di sore hari, suara-suara di sekitar kami saling membaur, bercampur tanpa tau keheningan yang memekakkan antara kami.


Cuaca pun menyisakan abu-abu gelap sehabis hujan reda. Udara dingin yang semula berputar di sekelilingku, sekarang seakan aku menggunakan pelapis dingin di sekujur tubuhku. Tidak ada perasaan hangat yang aku rasakan, tidak dari sekitarku, juga dari tatapan lelaki di hadapanku.


Kami baru saja bertemu setengah jam lalu tapi seakan kami sudah berdiam selama seminggu. Seperti ada pemberat pada jarum jam untuk berputar, sedangkan kami terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing


"Baik aku ngerti" ujarnya memecah keheningan, sepertinya situasi ini membuatnya bosan


"Kita harus putus walaupun kamu nggak punya alasan logis. Aku nggak akan tanya-tanya lagi apa alasan sebenernya dari kamu Daya" tambahnya. Semua ucapannya memberikan efek yang tidak normal untuk semua indra di tubuhku, pahit. Hatiku menjerit tercabik, jantungku semakin berdegup kencang, kedua kakiku melemah. Kini giliran panas merambati sepanjang punggungku, tapi aku bergeming. Seperti baru saja bumi terbelah dan aku tersedot kebawah, sofa yang kududuki semakin menelanku dan keberadaanku.

__ADS_1


"Aku pamit" akhirnya tanpa memberi waktu aku untuk berkata apa-apa, dia berdiri tanpa menoleh, apalagi tersenyum, meninggalkanku dengan kedua tangan saling menggenggam seakan saling menguatkan, berusaha untuk tidak menggapai tangan hangatnya untuk berpegangan agar tidak jatuh. Lelaki itu pergi dengan luka yang sudah terbuka di hatiku, pandanganku mulai kabur, berkaca


"El....." hanya itu yang bisa aku ucapkan, seakan memanggil namanya bisa membuatnya berhenti. Aku menggigit bibir, luka ini semakin berdarah, perih. Akhirnya air mata mulai menetes hangati pipiku, aku masih duduk lama tidak sanggup berdiri. Jadi inilah akhir dari cinta pertamaku yang indah penuh bunga, aku harus melepasnya lelaki itu, Elang, untuk pergi dengan luka dan luka ku melepasnya.....


__ADS_2