
Hari senin, aku berkaca lebih lama, masih bingung memutuskan bagaimana aku menata rambut panjangku. Karena panggilan mendesak Mama, akhirnya aku memutuskan menggerai rambutku dengan sentuhan bandana sederhana, untuk terakhir kalinya aku mematut diri depan kaca, tersenyum kemudian melangkah keluar kamar
"Kenapa lama sekali dandannya? biasanya mau buru-buru ke sekolah?" sapa Mama begitu aku mencium pipinya sapaan selamat pagi
"Mau kelihatan cantik dong Ma.." jawabku tanpa berpikir, Mama menaikkan alisnya
"Kok tumben amat..."
aku hanya tersenyum malu, Mama memajukan badannya berbisik lirih
"Anak Mama lagi jatuh cinta yaaa???"
kata-kata Mama barusan sukses membuat mukaku terasa panas luar biasa, Mama tersenyum puas sudah menemukan hal yang bisa dia goda dariku
"Engga Maaa" jawabku lirih
"Iya kah???"
"Aaahhh engga kok Maaaaa"
Mama tertawa,
"Ada apa ini?" sela Papa langsung duduk disamping Mama. Tawa Mama terpotong, aku meletakkan telunjuk didepan bibir
"Mmmmmm ga ada kok..."
Papa menatap aku dan Mama bergantian
"Sepertinya sih tadi seru...."
Mama tersenyum pada sarapannya tapi tidak mengatakan apa-apa, aku juga diam menghabiskan sarapan di hadapanku
__ADS_1
"Daya, nanti pulang sekolah sendiri dulu ya.." ujar Papa setelah beberapa saat
"Kenapa Pa?"
"Papa mau ke bandara jemput Kakakmu, masa lupa?"
aku membulatkan mulut, mengangguk, banyak hal-hal yang mudah terlupa bagiku akhir-akhir ini. Setelah membersihkan sarapanku, aku bergegas membereskan tas sekolah, duduk diam dikursi belakang mobil. Papa dan Mama berbincang seperti biasa. Tempat kerja Papa dan Mama berdekatan dan searah juga dengan sekolahku, sehingga pulang pergi aku selalu antar jemput. Tidak berapa lama mobil sudah sampai didepan gerbang, tidak lupa mencium pipi Mama dan Papa akupun turun dari mobil dan langsung mematung, ada Elang di situ, bersandar di pagar sekolah memperhatikanku. Aku berjalan kaku menghampirinya
"Pagi Elang..." dijawab dengan senyum tipis dan anggukan
"Kamu nunggu...siapa?.." tanyaku pelan
"Sam" jawab Elang singkat, ada sedikit perasaan kecewa dan malu, kenapa bisa-bisanya aku berpikir Elang menungguku? Aku segera berbalik, takut Elang menyadari raut mukaku yang aku yakin sudah merah padam
"Daya!" suara itu memanggilku pada saat aku berbalik aku terpaku begitu saja melihat Elang berjalan ke arahku
"Kenapa kamu ga tunggu aku?"
"Sebenarnya itu alasan, kamu buat aku gugup bertanya langsung seperti itu..." aku mendongak menatap Elang, tidak percaya dengan apa yang aku dengar baru saja. Elang yang bertubuh tinggi, aku hanya mencapai tinggi dadanya
"Harusnya kamu jujur saja..."
Elang masih saja tersenyum, mengangguk
"Baik, besok aku tunggu kamu didepan lagi. Kamu jangan kabur seperti tadi"
Selagi kami berbicara berhadap-hadapan begini siswa dan siswi yang lewat mulai memperhatikan kami. Aku mulai risih karena beberapa dari mereka ada teman-teman sekelasku juga
"Elang...apa tidak sebaiknya kita bicara ditempat lain..."
"Kenapa mesti begitu?"
__ADS_1
"Banyak siswa lain yang lewat"
Elang melayangkan pandang ke arah beberapa siswi yang lewat sambil berbisik
"Memangnya salah dimana?"
aku diam, menggigit bibir
"Apa kamu malu?"
"Aku ga pingin jadi bahan omongan orang"
Giliran Elang diam, aku merasa tatapan menembus kepalaku yang tertunduk
"Baik, kamu mungkin malu dekat orang sepertiku"
aku mengangkat wajahku
"Maksudku bukan gitu..."
"Ga apa-apa, aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Yuk ke kelas.." Elang melangkah mantap memasukkan tangan dalam saku celana, aku merasa seperti menyinggung Elang
"Elang maaf...bukan begitu maksudku"
Elang malah tertawa
"Aku bilang kan sudah biasa...tidak usah diambil hatilah..."
aku berjalan disebelah Elang, tercium aroma samar dari Elang sangat menyegarkan. Entah kenapa, aromanya mengingatkan aku pada hutan sehabis hujan, memyegarkan dan menenangkan
"Kalau begitu, sore nanti aku tunggu di tempat biasa" ujarku setelah dekat dengan kelasku, Elang berbalik menatapku, tersenyum kembali
__ADS_1
"Baiklah" dan sosoknya pun berlalu.