
Setiap hari Elang selalu menungguku di gerbang depan sekolah, kadang menunggu bersama Sam, atau berdiri melamun sendiri. Pagiku menyenangkan karena selalu bersama Elang, walau hanya perjalanan dari gerbang ke kelas. Seusai sekolah, setelah berkumpul bersama teman-teman pengurus majalah, Elang akan menunggu di taman belakang tempat biasa.
Terkadang kami membahas sesuatu tentang majalah, sekolah, hobi atau hal-hal yang remeh seperti cuaca. Tidak ada pembicaraan tentang perasaan yang aku atau Elang rasa.
Kadang-kadang aku penasaran bagaimana Elang bisa tertarik denganku? Kenapa dia mengajakku pacaran? tapi aku masih belum berani bertanya padanya
"Daya, hari sabtu kamu ada acara?" tanya Elang mengejutkan
"Hmmm ga ada sih"
"Jam 4 kujemput ke rumahmu"
"Jangan!"
Akupun terkejut dengan suaraku, Elang menatapku, alisnya terangkat
"Ak...aku... mmmm, aku belum bilang Mama ku kalau...mmmm....jadi kayaknya jangan jemput deh..."
__ADS_1
Elang tersenyum kecil
"Ga apa, kalau ga kerumah, aku jemput kamu dimana?"
aku sedikit panik tadi, benar aku belum bicara apa-apa tentang Elang kepada orang tuaku, aku belum yakin dengan respon mereka, apalagi aku dan Elang berpacaran baru 2 minggu ini
"Aku tunggu kamu di halte perempatan jalan Semanggi aja, tapi, kamu tau rumahku?"
Tawa Elang pelan sebelum menjelaskan
"Pastinya tau, mana mungkin aku mau jemput kamu kalau belum tau rumahmu"
"Dari Sam" ujarnya pelan, aku membulatkan bibir, aku memang satu SMP dengan Sam tapi apa kami sedekat itu hingga Sam tau rumahku?
"Tapi, Sam bukan teman sekelasku waktu SMP, kenapa dia tau rumahku?" aku masih saja bertanya penasaran, entah kenapa Elang melempar pandangan sebal sebelum menjawab
"Itu juga yang buat aku penasaran. Kenapa waktu itu dia cari-cari tau alamat rumahmu, apa dia suka padamu? atau dia bantuin temannya yang suka padamu?"
__ADS_1
Aku menatap Elang mengerutkan dahi, kenapa Elang terganggu? bukannya Sam teman dekatnya
"Mmm mungkin Sam tanya atau tau dari teman dekatku?" Ujarku tak yakin, Elang membalikkan badan, menatap lurus kemataku
"Teman sekelas SMP yang tau alamat rumahmu siapa? Teman laki-laki atau perempuan?"
Ada sesuatu pada tatapan Elang, perasaan apa yang tercermin dimatanya? aku tidak mengerti
"Maksud kamu..... saat ini kamu sedang menyelidiki aku? siapa teman SMP dekatku?"
"Iya. Kata Sam aku cemburu karena dia lebih tau kamu dari pada aku" lugasnya. Jadi inilah Elang cemburu, ada perasaan berbunga karena Elang mengatakan itu, aku tersenyum
"Teman dekat SMP ku namanya Sofia, dan yang pasti itu bukan nama laki-laki kan? Bisa aja Sam tanya sama Sofia..." tambahku karena Elang diam, kemudian tiba-tiba saja Elang mengambil tanganku, menyisipkan jemarinya diantaranya, masih menatapku
"Aku cemburu Daya. Sekarang kita pacaran, tolong jangan buat aku merasa kamu bukan milikku. Aku mau kita berdua miliki perasaan yang sama, ya?"
Mungkin karena Sang Cupid memanah dengan tepat kejantungku sehingga aku tidak mendengarkan hal aneh selain aku terhanyut oleh perasaan terbuai jatuh cinta. Aku memandangi tanganku dalam genggaman Elang. Tangan itu berukuran lebih besar dari tanganku, terasa agak kasar namun sangat hangat. Jantungku semakin berdetak cepat
__ADS_1
"Kita pacaran???" bisikku, Elang mendengarnya mendekatkan wajahnya, dan kulihat sepasang mata coklat dengan iris berwarna keemasan itu berbinar, tanpa bicara, Elang mendekatkan tanganku di dadanya dan akupun kembali terhanyut perasaan.