
"Aku minta maaf kak, edisi pertama jadinya seperti ini"
Kak Adam lama menatapku, raut mukanya tidak bisa ditebak
"It's okay, human being.." jawabnya singkat, dia menghela nafas
"Kamu tau, aku rasa ini kutukan turun menurun majalah sekolah ini....setiap edisi pertama selalu ada kejadian diluar rencana seperti ini, itu sebabnya, kita pernah vakum enam bulan..." ujarnya menerawang, aku hanya diam. Hanya kami yang ada di ruangan majalah sekolah ini, duduk berhadap-hadapan membuka halaman majalah sekolah, dengan satu artikel kontroversial seorang siswi yang mengaku menulisnya. Setelah ditelusuri, siswi tersebut melakukan cetak lepas dari sebuah artikel dengan judul sama.
"Aku rasa terbitan bulan depan harus ada ruang kosong untuk pimpinan redaksi juga buat bicara" tambah kak Adam dengan sedikit dengus geli memikirkan idenya
"Ga usah kak, biar aku yang buat, ini tanggung jawab aku bukan kakak"
kak Adam kembali menatapku
"Elang, jangan buat semua jadi bebanmu, kita tim. Apalagi ini sudah seharusnya jadi tanggung jawab pimred"
"Tapi tanggung jawab sebenarnya di aku kak, biar aku yang selesaikan"
lama kak Adam merenung
__ADS_1
"Baik, aku serahkan ke kamu, tapi urusan dewan redaksi biar aku yang maju, aku juga ga mau kehilangan muka di depan mereka, sudah hal biasa untukku terima kritik tidak menyenangkan dari mereka"
aku mengangguk pelan
"Dua tahun jabatanku jadi pimred, mereka selalu membahas kekuranganku, tidak pernah ada pujian. Bahkan pada saat majalah sekolah menerima penghargaan, diluar sana mereka berkoar-koar membanggakan, tapi secara pribadi tidak ada pujian yang aku terima, apalagi tim majalah"
kak Adam menarik nafas, menatapku langsung
"Titipan dariku, bicarakan baik-baik dengan timmu, pelajaran berarti buat mereka agar lebih bijaksana. Ini pengalaman berharga, Lang"
aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mengangguk, kak Adam juga mengangguk, menepuk pundakku
kak Adam berjalan keluar ruangan, lama aku berdiri menatap punggungnya yang hilang dibalik pintu. Kemudian aku mengikuti kak Adam keluar ruangan menuju taman kecil dibelakang ruangan. Dan aku menemukan Daya di sana.
Aku makin mengenal Daya setelah bekerja sama di tim editor majalah sekolah. Semakin aku mengenalnya, semakin aku terpesona olehnya. Selama hidupku, tidak pernah aku memperhatikan lawan jenis dengan ketertarikan yang begitu besar seperti ini, biasanya aku memperlakukan mereka seperti biasa sesuai sopan santun, selebihnya tidak ada perasaan tertarik. Tetapi Daya lain, keinginanku memilikinya makin besar hari demi hari, aku tidak memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya, aku rasa saat ini kesempatan terbaik.
Daya masih duduk termenung memeluk lutut, menatap ujung sepatunya. Bunga cantik yang rapuh, begitu ingin aku memeluk melindungi kerapuhannya. Sebelum Daya menyadari keberadaanku, aku hanya memperhatikan dia memainkan ujung tali sepatu, menggores-gores tanah dengan ranting kecil atau mendongak menatap langit.
"Sejak kapan kamu disitu?" ujarnya sangat terkejut ketika menoleh karena suara dehemanku, aku tersenyum menatap raut wajah terkejutnya
__ADS_1
"Sudah agak lama, karena sepertinya kamu terlalu asik melamun"
"Kamu tau arti dari stalking kan? Lebih baik jangan begitu.." ujarnya pelan, menjulurkan kakinya
"Kamu sedang apa?"
"Seperti kamu bilang, melamun"
aku kembali tersenyum
"Boleh aku duduk?" tanyaku pelan, dia diam sebentar sebelum mengangguk, aku mendekatinya, walaupun tubuhku terasa kaku dengan jantung berdebar, aku memaksakan untuk duduk disampingnya, menatap langsung ke matanya. Sungguh tidak ada yang bisa mengganti keindahan wajah gadis ini, semakin aku membulatkan tekadku, yang aku inginkan Daya.
"Aku mau kamu tau bahwa aku menyukaimu, sejak pertama kita bertemu aku memperhatikanmu, setiap gerak gerik, bicaramu, bahkan candaanmu menyiksaku, aku ingin kamu jadi milikku Ya"
kata-kataku barusan membuat Daya menatap terkejut dengan bibir sedikit terbuka, ekspresinya menggemaskan
"Mungkin terdengar aneh. Kita baru kenal belum ada satu bulan, tapi aku begitu ingin disisimu, menemani. Sejujurnya, mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi aku pikir, aku tidak mau membuang waktu dengan hal lain, karena aku ingin kamu dan aku memulai semuanya bersama" Aku diam sejenak mengatur nafas, Daya tertunduk dan kekakuanku menghilang, dengan jantung yang masih saja berdebar aku lanjutkan "Aku sudah utarakan semua, sekarang giliran kamu, aku tunggu jawaban kamu, kamu bisa pikir-pikir dulu karena ini terlalu mendadak..." aku berdiri kemudian berjalan menjauh, aku takut jawaban Daya tidak sesuai yang aku inginkan, aku ingin memberikan Daya kesempatan dengan keputusannya
"Iya, aku mau...." aku diam dengan sangan pelan aku berbalik, aku takut pendengaranku salah
__ADS_1
"Apa??" tanyaku semakin tak yakin, Daya tersenyum sangat manis seperti saat pertama kali aku jatuh cinta padanya "Aku mau kita bersama" Dan jawabannya membuka kesadaranku, seakan aku baru menemukan hal yang lama kucari, aku tersenyum lebar seakan baru pertama aku mengalami hal membahagiakan dalam hidupku.