
Aku mengumpulkan keberanianku menghadapi Elang di rapat editor terakhir sebelum majalah naik cetak. Aku harus memiliki jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini mengganggu.
Minggu siang itu kami berkumpul di taman belakang ruangan majalah sekolah yang sudah jadi markas sah tim editor. Sam duduk di sampingku "Aku mau jadi pembela kamu Ya, biar kalau ada apa-apa aku bisa bantuin kamu" candanya sewaktu Elang datang dengan tatapan diamnya. Aku mengatur nafas sebelum memulai bicara
"Sam, Elang, tujuanku bertemu diluar ruangan seperti ini sebenarnya ingin menyampaikan keluhan, agar semua jelas diantara tim editor ini"
"Aku gak mau kita kerja dengan memendam sesuatu. Dan sekarang aku mau menyampaikan uneg-uneg, terutama menyangkut kamu Elang"
aku menatap Elang lurus untuk memberikan kesan tegas, padahal jantungku seakan jatuh ke tanah dengan emosi yang begitu meluap-luap
"Tolong jelaskan kenapa selama ini semua ide yang aku ajukan tidak pernah kamu terima, apakah karena ideku tidak berguna? Kenapa ide-ide orang lain bisa kamu pertimbangkan, atau paling sial kamu akan bilang idenya tidak kreatif. Sedangkan aku? kamu gak pernah jelasin apapun. Setidaknya jika kamu tidak setuju kamu bisa bilang ide aku kampungan, ga bernilai. Aku bingung, apakah kamu ga suka ide aku, ga suka cara pikirku atau kamu cuma tidak suka denganku?"
Sam terperangah dengan mulut sedikit menganga menatapku bicara meluap-luap, sedangkan Elang masih bergeming tanpa ekspresi. Aku jadi makin tidak sabar melihat Elang yang terlihat santai menanggapiku
"Elang, jadi gimana? bisa kamu jelaskan pertanyaan aku?" Elang mengusap matanya, dahi berkerut
__ADS_1
"Aku rasa, tadi bukan pertanyaan tapi penyataan" Aku jadi tergagap mendengar jawabannya
"Maksud kamu gimana? Aku menginginkan penjelasan dari pertanyaan aku"
"Daya kamu hanya menyatakan bahwa kamu merasa tersinggung kenapa ide-ide kamu tidak lolos edit. Kamu sudah punya jawabannya sendiri, jadi aku rasa kamu tidak perlu penjelasan kembali dariku"
aku seperti tertampar dipipi mendengar kata-kata Elang. Dia mampu berkata ketus dan dua kali lebih menyakitkan mendengar langsung darinya. Hatiku perih, raut wajah Elang tidak terbaca, apakah benar dia tidak menyukaiku?
"Elang, jangan terlalu vulgar begitu lah..." sela Sam, aku menggigit bibir kuat-kuat agar tidak menangis, tubuhku gemetar karena merasa malu oleh kata-kata Elang tadi
"Biarkan aku bekerja dengan adil di tim ini. Aku ingin punya kesempatan melakukan tugas sebenarnya menjadi editor, karena percuma aku mengutarakan ide apapun karena kamu akan selalu menolaknya" tandasku, kutantang tatapan mata Elang, dia memiringkan kepala lama menatapku
"Oke kalau itu maumu" lambat kucerna kata-katanya
"Jadi aku.."
__ADS_1
"Iya, kamu akan full editing. Terutama di bagian pemilihan artikel karena itu belum selesai" entah aku harus senang atau kecewa memikirkan alasan sebenarnya kenapa Elang mengijinkanku melakukan pekerjaan utamanya sebagai kepala editor
"Jadi kita sudah jelas kan? Aku membubarkan pertemuan ini" sebelum aku sempat berbicara, Elang membalikkan badan dan berlalu, aku hanya menatapnya, Sam juga diam kemudian dia berdehem
"Jangan sakit hati sama Elang, bicaranya kadang ketus seperti itu, biasakan dirimu" aku tidak tau mau membalas apa perkataan Sam
"Aku pikir, Elang suka sama kamu Ya," ujar Sam mengejutkanku
"Apa??????" begitu cepat aku menoleh, membuat leherku seperti tertarik, Sam melanjutkan sambil merenung
"Iya aku juga heran, kenapa aku dapat kesan itu dari pertama dia bicara soal kamu"
aku tidak merespon apa-apa
"Aaah mungkin aku yang salah," Sam menggelengkan kepala "Yang penting kamu sudah lega kan mendengar keputusan Elang? Jadi sekarang sudah terjawab, di tim editor ini sudah tidak ada lagi perasaan dongkol dan ga jelas..."
__ADS_1
Tetapi anehnya keadaan ini membuatku merasakan salah paham dan kehilangan Elang.