Dia Cinta Pertama

Dia Cinta Pertama
Cinta Pertama (Elang)


__ADS_3

Suasananya ribut, kepalaku mulai berdenyut, obrolan siswa disekitarku mulai mengganggu, seakan mendengarkan radio dengan volume besar-kecil tak beraturan.


Kutarik nafas dan mulai menghembuskan pelan, aku ulangi dan mulai menghitung teratur di kepala, sambil melayangkan pandang keluar jendela, menyipitkan mata di sela lebat daun pohon di hadapanku, mencoba mencari pemandangan lainnya di kejauhan.


Seperti yang diajarkan oleh Kakekku, jika dihadapi suasana yang mulai membuat kepalaku sakit, aku disarankan bernafas, menghitung dan menatap ke kejauhan.


Kejadian tadi pagi yang membuat suasana hari ini menjadi sesak buatku, Papa membahas lagi rencananya menikahi kekasih mudanya bahkan pada saat Mama belum keluar rumah sakit. Kedua saudariku hanya diam menatap piring sarapan, sedangkan aku langsung meninggalkan meja tak menghiraukan amukan Papa, tidak perduli dengan semua sumpah dan ancamannya yang tidak akan memberikan uang atau warisan. Aku sudah terlalu muak bahkan hanya melihat wajahnya. Dia bahkan tidak pantas aku panggil Papa, karena dia, Mama menjadi sering keluar masuk rumah sakit dengan penyakit yang berbeda-beda, bahkan dengan Kakek Nenekku yang adalah orangtuanya, Papa tidak mau mendengar nasihat apapun, jika bukan karena aku dan saudari-saudariku mungkin mereka enggan tinggal bersama Papa. Dua tahun sudah Papa melakukan hal ini, bertengkar dengan Mama, pulang dalam keadaan mabuk, beberapa bulan lalu pulang menggandeng tangan seorang wanita muda dan memperkenalkannya sebagai kekasih barunya, membuat Mama jatuh pingsan dan Kakek mengusir Papa keluar rumah, tapi itu hanya bertahan 1 minggu, Papa kembali ke rumah tanpa penyesalan apa-apa. Aku menyibukkan diriku dengan sekolah baru, membiasakan diri tidak memerdulikan kehadiran Papa dan kerap memanggilku. Aku menenggelamkan diri di perpustakaan membaca buku-buku yang aku suka, sesekali mengikuti teman-teman yang bermain musik, melakukan beberapa pekerjaan sambilan, dan hobi paling baru yaitu mendekor ruangan. Aku membangun duniaku tanpa Papa, bahkan aku sangat nyaman sendirian, duduk berjam-jam tanpa tau kebisingan yang di buat orang-orang sekitarku.


Tapi saat ini, aku paksakan kembali pada keadaan sekarang, ketua siswa berdiri memperkenalkan diri dengan suara keras penuh semangat membuatku menoleh menatapnya tapi kemudian duduk menopang kepalaku yang mulai terasa berat. Pada saat ketua siswa sampai pada pembagian pengurus majalah siswa, aku mendengar namaku di panggil dan beberapa siswa lain, pada saat suara di depanku berseru tertahan, perhatianku teralih.


Yang membuat suara tadi adalah gadis yang duduk satu bangku di depanku, tersenyum sangat manis kepada gadis lain yang duduk disebelahnya. Gadis itu berkulit langsat dengan struktur wajah kecil, kedua bolamata hitam legam dinaungi bulumata lentik yang menarik, dia mengikat rambut hitamnya menjadi kuncir satu, kadang bergoyang-goyang mengikuti kepala mungilnya ke kanan dan kiri, semakin membuat perhatianku teralihkan bak pendulum.


Dan hipnotis gadis itu sepenuhnya mengalihkan sadarku, pelan-pelan denyutan di kepalaku menghilang, ngelenyer aneh terasa diseluruh tubuhku dan tanpa kusadari, detak jantungku yang tadi tenang kembali berdetak kencang. Aku mencoba metode tarik nafas dan menghitung seperti ajaran Kakekku, tapi kepalaku tidak bisa menghitung apapun, hanya menatap lurus kearah gadis dihadapanku. Kemudian gadis itu tertawa kecil dan perasaan sesak sejak pagi tadi hilang dan tanpa sadarpun aku tersenyum 'Apa ini?' tanyaku dalam hati, tetapi aku tidak bisa melakukan apapun selain menatap gadis itu, wajahnya, senyumnya ataupun semua keberadaannya.


Saat ketua siswa berdiri, serentak semua siswa melakukan hal yang sama, ruangan riuh dengan berbagai suara dan aku kehilangan gadis itu, sedikit panik aku berdiri, berjinjit tetapi, whopss sesuatu menghantamku dan aku menemukan gadis yang kucari di hadapanku, kami bertubrukan

__ADS_1


"Upss maaf...." aku sedikit lega menemukannya


"Ga apa-apa, aku juga salah...." suaranya pun terasa menenangkan bagiku


"Hei, kamu ga apa-apa?" aku bertanya memastikan karena gadis itu hanya berdiri diam, menatapku


"Iya" jawabnya tersenyum singkat


"Kamu bagian majalah sekolah juga kan?" tanyaku tak mau kehilangan momen "Mereka di ruangan lain, sini yuk" tambahku, kemudian segera memimpin jalan keluar dari ruangan utama.


"Daya!" aku menoleh ke sumber suara, kak Adam, kakak tingjat pimpinan redaksi majalah sekolah


"Kak Adam disini juga??" tanya gadis itu


"Kok aku ga di tanya Ya??" sela seseorang, gadis lain di sebelah kak Adam

__ADS_1


"Ya ampun Nita" seru gadis itu terlihat gembira


"Kamu juga pasti kenal Zaki dan Susan kelas 1B, trus kak Winny, kak Ghani, sama kak Olly kan?" tambah gadis yang dipanggil Nita, aku hanya memperhatikan gadis itu tersenyum cerah, makin menyilaukan sinar matahari


"Daya kok kamu ga kenalan dulu sama yang tadi sama kamu?"


aku senang kak Adam bicara begitu


"Iya aku belum kenalan..."


ujar gadis itu pelan


"Daya kamu di bagian editing, nih kenalin sama Elang, dia ketua editornya loh" tambah kak Adam lagi, gadis itu langsung berbalik menatapku seolah menilai, dari mulai rambutku yang kusut, baju seragamku yang setengah dimasukkan sampai kebiasaan lama menyelipkan pulpen ditelinga, tapi gadis itu tersenyum tulus dan mengulurkan tangan


"Kenalin aku Andayani Friska, biasa dipanggil Daya"

__ADS_1


Hipnotisnya semakin kuat menembus pertahananku, aku bergeming


__ADS_2