
"Jadi gimana kegiatan majalah sekolah kamu Ya?" Tanya Papa sambil lalu saat makan malam sudah setengah berjalan
"Seru banget Pa!"
"Kamu bagian apa?"
"Daya di bagian editor Pa"
"Wah hebat anak Papa"
"Iya dong Paaaa"
"Kalau teman-teman pengurusnya gimana?"
"Iya, teman-temannya orangnya asik"
"Ga ada yang aneh-aneh?"
"Kayaknya ga ada deh..."
"Kapan terbit majalah sekolahnya?"
"Mmmm...kira-kira tiga hari lagi naik cetak. Daya sudah mulai perkerjaan editing, Pa..."
__ADS_1
"Kerjasama dengan tim kamu lancar juga?"
"Lancar...Daya banyak belajar juga urusan editing dan lain-lain"
"Kamu bukannya ketua editor?"
"Bukan, siswa lain jadi ketua editornya.."
"Kamu kan sudah dua tahun jadi ketua editor sebelumnya, kenapa sekarang jadi anggota? Memang pimpinan redaksi ga tau kamu sudah berpengalaman sebelumnya?"
"Kak Adam sudah kenal Daya, dia tau kegiatan Daya sebelumnya, tapi kan posisi Daya dulu ga bisa di samain dengan sekarang Pa..., mungkin ketua editor sekarang lebih bagus..." ucapanku menggantung, mungkin Papa merasakan ada perasaan lain dari kata-kataku sehingga Papa diam sejenak
"Sudah-sudah, Dayanya makan dulu dong Paaa.." sela Mama, lama kami hanya menikmati makan malam kami tanpa bicara, setelah itu aku berpamitan dengan Papa Mama untuk naik ke kamar.
Apakah aku yang aneh, atau Elang yang aneh atau seluruh situasi ini yang aneh, aku tidak paham.
Sejak pertemuan pertamaku dengan Elang, aku merasa ada yang kurang, ada perasaan kehilangan yang tidak kumengerti. Tapi jika Elang ada, aku tidak tenang, jantungku selalu berdebar kencang, seluruh tubuhku panas dingin dan yang paling menyebalkan menurutku, aku kadang melamun memperhatikannya.
Tim editor majalah sekolah kami sudah berkali-kali rapat, kami saling bertemu, saling menuangkan ide, berbagi pengalaman dan kadangkala kami berdebat. Akhirnya aku mengakui bahwa kak Adam tepat memilih ketua editor, Elang sangat cakap dan kompeten.
Tetapi ada yang mengganjal perasaanku, setiap ide atau saran dariku, selalu di tepis dengan dingin oleh Elang. Perasaan tidak adil, kesal, marah, kadang aku sampaikan di rapat yang hanya ditanggapi dengan senyum kecil oleh Elang atau dengan berapi-api kepada Sam secara pribadi, karena aku yakin Sam akan menyampaikan uneg-unegku ke Elang.
"Memangnya ada apa sih dengan Elang?" tanyaku satu hari kepada Sam, setelah ideku untuk cover majalah yang akan terbit ditolak
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Sam balik
"Kamu jawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi" sungutku, Sam tertawa keras
"Kesal sama Elang kok aku ikut dimarahi juga..."
"Maka dari itu, tolong dong jelasin kenapa semua ideku mentah? Dia hanya bilang ga bisa begini ga bisa begitu tapi ga jelasin kenapa ga bisa, mana aku tau salah dimana, kalau begini caranya aku ga ada sumbang ide sama sekali. Ini sudah dekat waktunya dengan naik cetak, buat apa namaku ada di tim editor tanpa ada kontribusi, aku ngapain aja?"
"Yang aku heran ya Sam, kenapa hanya ideku yang ga di terima Elang, masukan kamu, ide, semua di pertimbangkan oleh Elang, hanya aku yang tidak, memang apa yang salah, Elang ga bilang apa-apa" Dadaku naik turun dengan nafas memburu, mengeluarkan semua kekesalan sekaligus.
Sam diam, menatap langit, aku sengaja mengajaknya jauh dari pendengaran orang lain, aku tidak suka terlihat sedang membicarakan orang, apalagi dengan rekan setim.
"Bukankah lebih baik bicara langsung dengan Elang?"
Giliranku terdiam 'Apakah aku sanggup?' aku tidak menjelaskan kepada Sam betapa jantungku berdebar jika menatap mata coklat itu, ditambah lagi dengan keluhan-keluhanku yang sudah mencapai puncaknya, jika aku langsung bicara padanya mungkin aku bisa emosi berlebihan
"Tapi ini aneh, selama aku mengenal Elang, baru sekarang dia bersikap seperti ini"
"Biasanya Elang tidak sekeras kepala ini, dia selalu memberikan jawaban dengan penuh pertimbangan untuk masukan-masukan yang disampaikan kepadanya, bukan dengan tidak tanpa penjelasan seperti ini, aneh banget..."
Aneh....kata-kata Sam mengiang di telingaku, iya mungkin Elanglah yang aneh, tapi apakah benar? Bukankah aku juga aneh karena memikirkan Elang lebih dari biasanya?
Aku menatap kertas-kertas di atas meja, aku meraihnya dan mulai menyortir, yang akan aku bundel atau buang ke kantong sampah sambil membulatkan tekad, aku harus bicara pada Elang besok, untuk mencari penjelasan situasi aneh ini.
__ADS_1