
Sejak keputusan Elang menugaskanku untuk melakukan pekerjaannya sebagai editor, aku kembali menemukan semangat yang meredup karena memikirkan Elang, aku fokus dan bertekad membuktikan pada semua, aku juga bisa.
Sudah berjam-jam aku duduk di depan laptop sambil sesekali mencatat di notes karena aku menargetkan semua pekerjaan editing artikel selesai malam ini. Sesuai janjiku pada tim, aku mengerjakan editing hampir seluruh artikel yang terbit di majalah. Aku sampai pada sebuah artikel utama milik seorang siswi kelas satu juga. Aku mengenal gadis ini sebagai gadis manis yang banyak diperbincangkan oleh siswa pada masa orientasi sekolah. Aku membaca artikel tulisannya untuk kedua kalinya, artikel yang bagus, bahasa yang baik tanpa salah ketik apapun. Aku menggeleng-gelengkan kepala takjub, gadis ini bisa-bisa makin terkenal, sudah cantik, pintar bergaul, pandai dalam segala hal pula. Ada perasaan sedikit iri memikirkan gadis ini. Tapi segera kutepis perasaan iri tadi berganti menjadi menyimpan artikel tulisannya bersama semua artikel lulus editing yang sedari tadi kukerjakan. Setelah semua file tadi aku simpan di diska lepas, aku segera beringsut ke atas kasur yang mulai kurindukan, ada perasaan terlupa, belum aku lakukan tapi menguap begitu saja karena kepala sudah kurebahkan diatas bantal.
Berulang kali aku melihat kliping koran lama di hadapanku. Tanganku yang memegang kliping tebal itu berkeringat dan dingin menyebar dari sana sampai ke ujung kaki, jantungku berdetak begitu kencang sehingga telingaku menjadi bedenging, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dalam otakku berkecamuk segala perasaan, marah, terkhianati dan yang paling terasa adalah malu luarbiasa. Elang dan Sam duduk dihadapanku. Mereka berdua mengajakku bicara bertiga di perpustakaan satu hari setelah majalah selesai cetak. Artikel lulus edit dariku ternyata hasil plagiat dari artikel lain yang terbit lima tahun lalu di majalah sekolah. Sungguh tamparan menyakitkan yang harus aku terima, betapa aku merasa di bodohi dengan kenyataan ini. Aku menyodorkan kembali kliping tebal dengan tangan gemetar ke arah Sam yang mengambilnya dengan senyum pahit. Kulirik Elang yang belum bicara sama sekali, jelas sekali Elang terlihat marah, rahangnya terkatup rapat, hanya menatap melewati kepalaku
"Aku minta maaf..." aku bicara pelan pada meja tak berani menatap yang lain
"Buat apa?" ketus Elang, makin tak ada nyali yang tersisa padaku mendengar nada suara sinis itu
"Salahku seharusnya aku cek juga artikel lain.."
"Hebat benar kamu mau cek semua artikel yang bakal terbit...."
__ADS_1
aku tersentak mendengar Elang berkata seperti itu, tapi aku tidak mampu membalas apapun
"Bukan gitu maksud Elang..., kamu juga jangan ngomong gitu" ujar Sam, menatap bergantian kepadaku dan Elang. Aku mulai menggigiti kuku, kebiasaan yang kulakukan jika dalam kondisi tidak nyaman. Sam menatapku menggigiti kuku
"Daya...." ujarnya pelan, kemudian menggeleng, membuatku berhenti
"Jadi... kita harus gimana?..." ujar Sam setelah beberapa saat kami hanya diam
"Aku harus minta maaf sama kak Adam dan semua anggota pengurus majalah sekolah. Aku juga minta maaf sama tim editor, aku sudah diberikan kepercayaan, mungkin aku terlalu berkemauan tinggi sehingga lengah. Jika ada yang bisa disalahkan sudah tentu itu aku"
"Menurutku, tidak perlu" ujar Elang pelan, pertama kalinya sejak masuk ruangan ini, dia menatap mataku
"Kamu tidak perlu merasa bersalah berkepanjangan, ini tanggung jawab aku juga" suara Elang menenangkan, Sam melakukan hal yang sama lagi bergantian menatap kami
__ADS_1
"Nah gitu dong, bicara yang baik-baik, ga perlu pake emosi.... Bukannya aku ga bisa baca suasana yaaa, tapi kalau lihat kalian berdua saling pengertian satu sama lain aku lihatnya seneng, hahahaha" tawa Sam meledak, membuat aku tersenyum canggung dan Elang mendengus geli, kembali dia menatapku, tapi dengan tatapan yang tidak biasa
"Biar aku yang bicara sama kak Adam sekalian minta izin apakah bisa hal seperti ini pembaca harus tau? Sekalian aku juga akan bicarakan penambahan pojok editor di majalah kita"
"Elang katamu tadi, yang tau hal ini hanya internal kita, pojok editor bukan maksud untuk bagi-bagi informasi seperti ini kan?"
"Bukan untuk itu Sam, usul Daya kemarin sudah aku pertimbangkan..."
Sam tersenyum lebar
"Syukur banget deh.. kalian bener-bener sudah baikan"
"Aku ga pernah musuhan" ujar Elang pelan memalingkan muka, ada senyum berlesung dipipinya, dan ada perasaan senang luar biasa, lega, berbunga melihat suasana hati Elang sekarang, aku tidak ingin momen seperti ini hilang, aku membatin 'Apakah ini yang orang bilang jatuh cinta?'
__ADS_1