
Man sudah berdiri dideket meja kue itu.
Pancaran lilin juga sudah berdiri tegak menyempurnakan keindahan kue ulang tahun yang ada untuk ditiup.
Sekarang waktunya untuk meniup lilin.
"Tunggulah sebentar Man. Tunggu Aldigar dan adik iparmu"
Dari kejauhan terlihat Aldigar dan Ayudia yang baru saja muncul menuju ke taman belakang.
"Seperti apa hubungan kamu dan kakakmu. Apakah tidak terlalu baik. Kenapa kau begitu malas untuk menghadiri acara ulang tahunnya. Bahkan kalian berdua satu rumah kan"
"Diam. Tak usah banyak bicara. Bukan urusanmu juga kan!"
Ayudia hanya menatapnya kecut. Ia merasa menyesal telah mengajaknya berbicara.
Keduanya semakin dekat ke area pemotongan kue dimana orang-orang sedang berkumpul menunggu mereka.
"Mohon maaf Tuan Muda. Ada telepon penting"
Rio tiba-tiba datang menjulurkan ponselnya ke Man karena ada panggilan masuk.
Man yang sedang fokus menatap langkah keduanya dari kejauhan tadi langsung teralihkan untuk menerima telepon itu.
Man pun langsung meninggalkan meja kue untuk menerima telepon itu terlebih dahulu,sementara Ayudia dan Aldigar semakin mendekati meja kue itu.
"Ini dia menantuku sudah datang" Suara gembira Nyonya rumah dengan kehadiran Ayudia yang sudah berdiri di dekatnya.
Sementara Rio yang melihat wanita itu langsung terdiam. Ia merasa wanita itu tidak asing baginya.
Tunggu Dia..??
Aku pernah melihatnya dimana??
Bayangan wanita itu langsung bersliweran dikepalanya tentang kejadian malam itu. Membuat Rio terbelalak saat semakin melihat wajah wanita itu dengan jelas.
Wanita itu??..
Menantu? Tidak mungkin!.
"Man ayo tiup lilinnya.."
Man sudah selesai bertelepon. Mendengar teriakan ibunya membuatnya terburu-buru mendekat ke arah meja itu kembali.
Deg!
__ADS_1
Dengan waktu yang bersamaan pandangan mereka berdua bertemu. Bahkan Man tanpa sadar menjatuhkan ponselnya setelah menatap wajah wanita yang pernah ia lihat sebelumnya.
Yaitu wajah wanita yang pernah bermalam dan berkeringat bersamanya beberapa hari yang lalu.
Prakkk!
"Man. Ponselmu..."
"Ya ampun"
"Biar saya yang ambil Tuan" Rio langsung bersikap gesit. Ia juga tahu bahwa Man pasti kaget dan sok setelah melihat wanita itu hingga menjatuhkan ponselnya.
Ya Tuhan,, apa yang terjadi?
Tidak mungkin! Ini tidak mungkin kan? Lelaki itu... Lelaki itu...
Langsung terbayang dibenak Ayudia tentang malam yang panas bersama lelaki yang barusan ia tatap itu. Ia juga sangat syok. Bahkan terdiam kaku setelah menatap penuh pria itu. Bahkan lidah tarasa kaku dan mati tidak bisa berkata-kata.
"Kamu kenapa Man? Bagaimana ponselmu bisa jatuh?"
"Ohh tidak papa. Tanganku hanya kesemutan Ma"
"Ada-ada saja kamu. Ya sudah sebelum kamu tiup lilin kenalan dulu dengan adik iparmu"
"Ohh.. Iya Ma"
Kakak ipar?? Ya Tuhan,,
Mata Man kembali menatap wanita itu lekat. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Namun untuk menutupi gelagatnya sendiri Man langsung mengulurkan tangannya kepada wanita itu untuk berkenalan agar tidak ada orang yang curiga.
Ya ampun tuan muda, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa wanita malam itu adalah istri adik anda sendiri.
"Aku Man. Kakaknya Aldigar" Sambil menjulurkan tangannya ke arah Ayudia.
Kakak? Dia beneran kakaknya???
Ayudia dengan tegang pun ikut menjulurkan tangannya untuk berkenalan.
"A-Ayudia.."
"Baiklah. Sekarang waktunya tiup lilin"
Keduanya langsung tersadar setelah mendengar suara Nyonya rumah yang berbicara.
"Ayo Man tiup lilinnya. Dan nyatakan apa harapanmu didalam hati sambil berdo'a"
__ADS_1
Man pun mencoba menenangkan dirinya dan menutup matanya untuk berdoa sebelum meniup lilin.
Apapun yang terjadi atas kenyataan hari ini aku benar-benar ingin tahu akan wanita itu. Tolong jelaskan atas perasaan ini Tuhan. Kenapa aku merasa sakit saat mengetahui ia adalah adik iparku sendiri.
Man mulai membuka matanya dan meniup lilin itu. Lalu dilanjutkan dengan memotong kue dengan perasaan grusa-grusu karena perasaannya yang tak tenang.
"Ini untuk Mama..." Man menyuapi ibunya dengan satu suapan kue sambil merangkulnya erat. Ia juga terlibat memberikan kecupan hangat untuk ibunya. "Terimakasih untuk semuanya Ma"
"Iya sayang" Nyonya rumah pun tersenyum gembira dengan perlakuan hangat putranya.
"Mama yang melanjutkan potong kuenya ya.., Man sangat capek" Man langsung meninggalkan tempat itu begitu saja. Bahkan sesi foto saja belum dilaksanakan untuknya.
"Loh Man?? Ini kok jadi Mama?? Kan belum foto juga.."
"Mungkin dia kecapean Sis. Yang penting aku sudah memotret nya juga tadi" Adik dari ibunda Man pun mencoba memberikan pengertian untuk kakaknya itu.
Acara pesta pun dilanjut begitu saja tanpa ada kehadiran Man yang berulang tahun.
"Sayang. Kok dari tadi diem aja. Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo makan kuenya.."
"Emm iya Ma.."
Ya Tuhan,, apa yang harus aku lakukan sekarang?
******
"Ini bukan mimpi kan Rio?" Man terlihat begitu resah sambil memegangi pelipis kepalanya karena masih tidak percaya dengan semua ini.
"Bukan Tuan ini nyata. Ponsel Anda saja sampai retak"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa dia ada disini dan apa maksudnya kalau dia itu istri Aldigar??" Man benar-benar tidak peduli akan ponselnya. Yang sedang ia pikirkan adalah keberadaan dan posisi wanita itu saat ini yang membuatnya begitu syok.
"Saya kurang tahu Tuan. Tapi nanti akan saya selidiki semuanya"
"Yang saya pertanyakan adalah bagaimana bisa dia menjadi istri Aldigar dan kau, bagaimana bisa kau mendapatkan wanita malam itu saat malam itu??"
"Sepertinya dia memang bukan wanita malam Tuan. Menurut dari data yang aku lihat dari akun tersebut memang temannya lah yang mendaftarkan diri di akun wanita malam itu. Dan yang mengantarkannya malam itu juga wanita ini. Ia yang juga menerima uangnya. Aku hanya sebagian klien saja jadi tidak berkomentar atas siapa yang akan melayani Tuan saat itu" Rio menunjukkan akun dan foto wanita malam yang memiliki akun di situs aplikasi online itu. Ternyata bukan Ayudia pemiliknya melainkan wanita lain yang mengantar Widya waktu itu.
Sementara saat ini di ruangan lain Ayudia sedang bercermin dikamar mandi. Menatap dirinya yang begitu hina dengan mata berkaca-kaca. Teringat akan kebersamaannya bersama kakak ipar malam itu membuatnya terpuruk dan menangis.
Apa yang telah aku lakukan ya Tuhan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Bagaimana bisa aku sudah bermalam dengan kakak ipar sedangkan aku adalah istri adiknya.
Ya Tuhan....kenapa jadi seperti ini?? Kenapa aku seperti masuk kedalam lubang jurang yang sama yang telah aku masukkin kemarin.
"Hiks.. Hiks.." Ayudia tidak bisa menahan kesedihan yang ada. ia benar-benar merasa syok dan terpukul sekarang.
__ADS_1