
Pancaran sinar mentari menerobos melewati kaca besar dinding hotel dan mulai menerangi wajah cantik wanita itu yang sedang tertidur pulas.
Karena merasa silau membuat wanita itu tersadar dari tidurnya. Memandangi suasana kamar yang terasa asing baginya.Tubuh juga terasa begitu dingin menerpa. Ternyata ia sedang tidak memakai sehelai benang pun pada tubuhnya. Lalu terperanjak kaget dengan kehadiran seseorang disampingnya. Ia berdiri dengan gemetar menatap lelaki itu untuk menjauhinya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Lelaki itu merasa terusik dengan tingkah Ayudia yang kaget mengguncang ranjang hingga membuatnya terbangun juga.
Apa yang terjadi?
Ayudia mengingat jelas rekaman yang terjadi semalam dengan lelaki itu hingga membuatnya terdiam kaku tak bisa berkata-kata.
Ini gila!
Sementara lelaki itu terlihat masih santai dan hanya menatap wanita itu dengan tatapan heran karena ia terlihat akan menangis.
"Ada apa denganmu?"
"Bagaimana bisa aku ada disini? Apa yang kau lakukan padaku sehingga aku ada disini bersamamu. Kau siapa???"
"Cihh drama! Apa kau lupa aku sudah membayar mu mahal. Kau sendiri yang menjual diri. Kenapa sekarang bertanya kepadaku?"
"Apa!!" Ayudia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan lelaki itu. Ia tidak merasa menjual dirinya apalagi menjadi wanita malam.
"Seumur hidupku aku tidak pernah menjual diriku!. Apa yang kau lakukan padaku? Kau siapa? Bagaimana bisa aku ada disini??"
Masih tidak terima dengan kenyataan yang ada. Ayudia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa dia ada dikamar ini bersamanya. Sementara yang dia ingat terakhir kali ia sedang menikmati minuman dengan teman-temanya semalam.
"Minumlah obat! Sepertinya kau lupa ingatan." Lelaki itu menggelengkan kepalanya sambil jalan ke kamar mandi karena tidak percaya dengan kata-kata wanita itu.
Ayudia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Ia benar-benar merasa stress dan pusing pagi ini.
Ya Tuhan,,apa yang terjadi. Siapa lelaki itu. Kenapa aku bisa bersamanya saat ini. Dan semalam, itu mimpi kan???
__ADS_1
Ia segera mengambil bajunya dan bersiap-siap untuk pergi dari kamar itu. Ia merasa semakin stress jika terus berasa di dalam kamar itu. Lagi-lagi rasa pusing di kepalanya juga kembali berdenyut saat mengingat kejadian semalam bersama lelaki itu.
Man sudah keluar dari kamar mandi itu. Mungkin hanya sekitar 5 menit ia berada di dalam kamar mandi. Namun saat keluar kamar suasana kamar tampak sepi dan ia tidak melihat kehadiran wanita itu lagi didalam kamar. Mungkin dia sudah pergi, tapi Man juga tidak memperdulikannya.
Man segera merapikan dirinya untuk pergi dari kamar itu juga. Namun setelah ia sudah berada di dekat pintu untuk keluar kamar jam tangannya tertinggal dan membuatnya kembali ke dekat ranjang untuk mencari-cari Jam. Sementara diatas meja kecil dekat ranjang pun ia tidak melihat adanya jam tangannya.
"Dimana Jam tangan ku"
Menyibakkan selimut. Dan malah melihat bercak darah diatas ranjang itu yang membuatnya langsung terdiam mengingat hal semalam.
Dia masih perawan??
Beruntung jam tangannya ia temukan dibawah bantal tempat ia tidur tadi.
Ia pun segera pergi dari tempat itu bersama Rio yang selalu setia menunggu di depan pintu.
Sepanjang perjalanan Man tidak pernah terpikir bahwa wanita itu masih perawan. Gelagatnya yang seperti orang kebingungan saat bangun tadi juga membuat Man kepikiran terus.
Membuat Man terusik sendiri untuk bertanya kepada Rio yang memesan wanita itu.
"Rio. Kau mendapatkan wanita itu darimana?"
"Dari aplikasi biasa Tuan. Ada apa Tuan. Apa ada yang salah?"
"Dia marah-marah kepadaku dan bilang dia tidak pernah menjual dirinya selama ini"
"Benarkah? Kenapa aneh sekali Tuan.."
"Dasar wanita malam."
*******
__ADS_1
Ayudia sudah sampai di depan pintu masuk rumah orang tuanya.
Tanpa berbicara ia langsung masuk ke dalam kamarnya itu.
Orang tua Ayudia pun heran melihat hal itu. Sementara ia sudah menikah dan seharusnya ia berada di rumah suaminya sekarang. Jikapun dia pulang pastinya di ikuti dengan kehadiran suaminya ke rumah.
"Dimana suaminya? Ada apa dengan anak itu??"
Ibunya Ayudia pun merasa heran dan menghampiri pintu kamar yang sudah tertutup rapat.
Thok thok!
"Ayudia. Dimana suamimu? Kenapa kau pulang sendiri sayang?"
Tidak ada sahutan dari putrinya. Bahkan pintu kamarnya terkunci rapat hingga membuat ibunya tidak bisa masuk ke dalam kamar untuk berbicara.
Kali ini Ayudia langsung membasahi dirinya dengan air sambil menangis di kamar mandi karena tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia merasa begitu terpukul atas apa yang telah terjadi padanya.
Ya Tuhan,,aku telah menikah dengan seseorang tapi kenapa aku harus bermalam dengan orang lain semalam. Apa yang telah aku lakukan. Kenapa ini semua terjadi padaku.
Tak ada hentikan guyuran deras air keran yang menjadi saksi bisu kesedihannya. Ia benar-benar merasa geli dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya yang telah ternoda.
Ibunya masih terdiam di depan pintu. Sejak tadi ia terus memanggil-manggil putrinya berharap dapat menerima balasan suaranya. Namun ternyata nihil. Putrinya benar-benar terdiam membisu tidak menyahut panggilannya.
"Ada yang tidak beres!"
Ibunya sangat tahu gelagat putrinya jika ia sedang memiliki masalah. Ia pasti akan terdiam dan mengurung dirinya didalam kamar.
Dengan cepat ibunya Ayudia langsung menghubungi keluarga Aldigar untuk bertanya-tanya dan memberi kabar. Keluarga Aldigar yang menerima kabar itupun merasa semakin pusing dengan keadaan.
Di satu sisi anak pertamanya telah gagal menikah dan tidak pulang ke rumah. Di sisi lain putra kedua dan menantunya pun juga tidak pulang kerumah semalam. Tapi justru kabar tadi membuat Nyonya rumah syok karena Aldigar tidak sedang berada dengan istrinya. Ia justru membiarkan istrinya pulang kerumahnya sendirian.
__ADS_1
"Aldigar! Kau benar-benar telah memalukan keluarga. Seharusnya kau berterimakasih kapada istrimu dan keluarganya karena telah mau menikah dan menyelamatkan reputasi keluarga kita. Tapi kau sungguh tidak mengerti!!"