Diantara Cinta Kedua Mr. Alexander

Diantara Cinta Kedua Mr. Alexander
5. Pulang kerumah


__ADS_3

Waktu sudah semakin sore bahkan hampir gelap.


Entah hari apa hari ini. Kesialan terus menghampiri diri Aldigar. Bahkan disaat ia ingin pulang dan istirahat dirumah ia harus mengantar istrinya ke rumah sakit karena pingsan.


Istrinya tidak kenapa-napa. Setelah diperiksa dokter ia hanya mengalami kecapean dan kurang istirahat.


"Apa perlu rawat inap Dok?"


"Tidak juga. Yang penting setelah pulang nanti ia harus istirahat dengan cukup. Saya juga akan menyiapkan vitamin untuknya"


Dokter pun pergi meninggalkan ruangan itu untuk memberikan vitamin.


Sementara ibunya Ayudia terlihat masih cemas dan khawatir dengan kondisi anaknya yang terbaring pingsan.


"Lihatlah! Ini semua gara-gara kamu. Seharusnya kau bisa menjaga istrimu dengan baik, bukan malah membuatnya sakit begini dan tidak bertanggung jawab"


Ya Tuhan tidak ada selesainya dia mengomel. Seolah-olah semua kesalahan ada padaku. Menyebalkan sekali!


"Mohon maafkan aku ibu. Aku akan menebus semua kesalahanku nanti. Tapi izinkan aku membawanya pulang dan merawatnya dengan dokter pribadi nanti"


"Aku tidak butuh perkataan manis. Aku hanya butuh bukti dan perlakuan baikmu terhadap anakku. Tidak lebih!"


"Baik Bu. Percayalah padaku untuk kali ini saja.."


Setelah merayu ibu mertuanya mati-matian akhirnya Aldigar mendapatkan izin untuk membawa istrinya pulang kerumah.


Awalnya istrinya juga kekeh tidak mau pulang dengannya. Namun demi kebaikan bersama dan pernikahan yang baru saja terjalin membuat Ayudia menyetujui hal itu.


Di sepanjang perjalanan pun tidak ada percakapan diantara keduanya. Keduanya sama-sama memprioritaskan gengsi mereka untuk saling tidak berbicara.


Ya Tuhan aku harus bagaimana sekarang. Aku menikah dengannya tapi berhubungan dengan orang lain semalam.


Kita memang sama-sama tidak memiliki perasaan, tapi kita sudah terikat oleh satu ikatan. Lalu bagaimana jadinya jika aku sudah melakukan hal itu dengan orang lain. Ini adalah dosa besar.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan Ayudia tidak dapat berhenti berpikir soal kejadian itu. Kejadian yang sudah terjadi dan membuatnya terpuruk saat ini.


Aku rasa dia tidak se-agresif kemarin. Apa karena dia sedang sakit?


Aldigar sendiri merasa heran dengan sikap istrinya yang diam tanpa berbicara sedikitpun sejak tadi. Namun ia memilih untuk tetap fokus menyetir.


*****


Tepat sekali saat mobil Man keluar dari halaman rumah itu justru mobil Aldigar datang masuk ke halaman depan rumah itu. Jadi mereka saling bersimpangan satu sama lain.


Mereka tidak dapat bertemu dengan Man hari ini karena Man ternyata harus pergi ke Bangkok sore ini juga.


Man sendiri sedang mengejar waktunya untuk berangkat ke Bandara jadi ia tidak bertemu dengan adik iparnya yang sudah menikah dengan Aldigar itu.


Saat mobil itu sudah terparkir wanita itu justru tertegun melihat rumah suaminya yang begitu mewah dan megah dengan lahan yang luas pula.


Ternyata dia sangat kaya raya. Aku tidak menyangka rumahnya akan sebesar ini.


"Hey. Kau tidak mau turun?" Aldigar sudah turun dari mobil sejak tadi. Tapi istrinya justru terdiam di dalam mobil.


Lalu disambut hangat oleh ibu mertuanya yang tiba-tiba muncul entah darimana asalnya.


Keduanya langsung berpelukan hangat.


Namun Aldigar langsung berjalan ke lantai atas meninggalkan keduanya yang sedang cipika-cipiki.


Ternyata kedatangan Ayudia disambut baik oleh keluarga Aldigar termasuk Ayah mertuanya.


Suasana rumah itu juga sedikit ramai. Ada kerabat yang sedang berkunjung ke rumah itu juga jadi keluarga Aldigar sekalian memperkenalkan Ayudia lebih dekat lagi dengan mereka.


Aldigar kembali muncul menghampiri mereka semua. Lalu menghampiri ibunya yang terlihat terus menggandeng istrinya dan mengajaknya ngobrol.


"Ayudia perlu istirahat Ma. Dia sedang tidak enak badan"

__ADS_1


"Oh iya ampun. Kenapa kau tidak bilang sayang. Baiklah istirahatlah dikamar sekarang. Kau pasti kecapean kan. Aldigar antar istrimu ke kamar sekarang"


"Tentu saja Ma.."


Dikarenakan sedang sakit dan pingsan tadi siang, Aldigar langsung menggandeng tangan istrinya begitu saja untuk menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Semua tampak tersenyum melihat pengantin baru yang sedang bergandengan tangan itu.


"Perhatian banget ya Aldigar. Padahal mereka baru saja bertemu dan menikah" Kata salah satu kerabat yang hanya melihat sekilas kedekatan mereka saat ini.


Syukurlah. Semoga saja mereka akan semakin dekat dan saling mencintai satu sama lain nanti.


Keduanya sudah sampai di dalam kamar yang luas itu. Ayudia merasa benar-benar sedang berada didalam istana saat ini. Namun tidak dengan suasana hatinya yang belum bisa menyesuaikan diri, ia merasa tidak tenang dan tidak nyaman walau berada di dalam istana itu sekalipun.


Ia juga terus kepikiran dengan kejadian semalam yang benar-benar menghantui pikirannya dan membuatnya semakin tidak tenang.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Ayudia terkejut melihat wajah Aldigar yang menatapnya begitu dekat sambil bertanya tadi.


"Emm tidak ada" Ia terlihat mengundurkan dirinya karena takut dengan tatapan suaminya itu.


"Tidak mungkin! Buktinya kau terkejut." Aldigar mengalihkan pandangannya, lalu bertanya kembali sambil duduk di sofa kamarnya. "Apa kau kurang tidur semalam? Semalam kau pergi kemana?"


Degg!


Entah apa maksud dari pertanyaan itu. Yang jelas ini hanyalah pertanyaan sederhana tapi membuat jantung Ayudia terasa tertusuk dan berdegup kencang.


Ayudia masih terdiam tidak menjawab apapun. Ia juga bingung harus menjawab apa.


"Sungguh aku hanya merasa bersalah dengan keadaanmu saat ini. Maafkan aku telah menelantarkan mu semalam. Aku tidak rela jika ada seorang wanita sakit gara-gara diriku. Istirahatlah sekarang. Minumlah vitaminnya. Jadi jangan berpikiran berlebihan lagi. Apa kau tidak mengingat apa kata dokter tadi? Jika terjadi sesuatu padamu maka aku yang akan disalahkan, itu sungguh merepotkan. Jadi istirahatlah dengan cukup. Dokter pribadiku akan memeriksa kembali keadaanmu nanti"


Aldigar beranjak berdiri dari duduknya lagi setelah berbicara panjang lebar. Ia keluar dari ruang kamarnya dan menyuruh istrinya untuk istirahat.

__ADS_1


Tetep saja,walaupun perhatian diam tetap menyebalkan!.


__ADS_2