
Hari sudah siang. Aldigar baru saja pulang kerumah. Ibunya sudah berdiri tegak menyambut dengan sengit kedatangannya.
"Darimana kamu? Mana istrimu!!!"
"Istri mana yang Mama maksud? Bukankah seharusnya Kak Man lah yang sudah beristri."
"Aldigar!. Mengertilah keadaan. Sekarang kamu keluar dan bawa istrimu kemari. Jangan memalukan keluarga!"
"Aku juga tidak tahu dia pergi kemana Ma"
"Sekarang jemput dia! Dia ada dirumahnya. Bawa dia kemari! Kau pasti yang menurunkannya dijalan kan. Mana sangat hafal itu!"
"Aldigar sangat capek Ma. Biarkan saja dia dirumahnya. Bukankah itu lebih baik." Aldigar berbicara santai seolah-olah ia menyepelekan kedaan yang ada.
"Aldigar! Jemput dia baru kau boleh masuk ke rumah. Jika kau tidak membawanya pulang jangan harap kau bisa menginjakan kaki dirumah ini lagi! Jemput!!!" Ibunya sudah terlanjur emosi dengan anaknya yang susah diatur itu. Dari dulu dia juga anak yang paling bar-bar dalam segala hal.
"Iya sudah baiklah!"
SIAL!!!
Dia pergi dengan kesal untuk menjemput istrinya. Seolah-olah ia sangat tahu rumah istrinya dimana. Padahal ia sendiri tidak tahu dimana rumah istrinya itu.
"Ada apa Ma?" Man yang mendengar ibunya marah-marah dari lantai atas terheran dan menghampirinya karena peduli.
"Adikmu benar-benar keterlaluan. Ia pulang tidak membawa istrinya. Bahkan semalam ia juga pergi entah kemana. Sedangkan istrinya baru pulang tadi pagi sendirian kerumahnya. Memalukan!"
"Maafkan Man ya Ma. Ini semua terjadi gara-gara Man"
"Tentu tidak sayang. Semua ini terjadi karena wanita brengsek itu!"
Man langsung memeluk ibunya dengan hangat yang marah-marah terus sejak tadi.
"Ohh iya,nanti sore aku akan pergi ke Thailand Ma"
"Thailand??"
"Hmm. Ada bisnis penting disana"
"Kau terlalu bekerja keras sayang. Apa tidak bisa ditunda??"
"Tidak bisa Ma. Ini acara sangat penting"
__ADS_1
Sebenarnya sebagai seorang ibu Nyonya rumah tidak ingin merasakan putranya jauh dari rumah. Terlebih dengan keadaan Man yang baru saja terpuruk karena gagalnya pernikahannya.
Ia hanya bisa berdo'a dan merestui Man untuk pergi jauh walaupun hanya sementara di Thailand.
*******
Mobil mewah Aldigar sudah berhenti tepat di depan halaman rumah yang nampak asri dan sederhana. Bahkan terbilang antik karena rumah tersebut bernuansa kayu yang begitu indah seperti kraton.
"Unik juga rumahnya"
Dengan langkah ragu Aldigar memasuki gerbang rumah istrinya itu. Lalu mengetuk pintu masuk rumah dengan hati-hati.
Tak lama ibu mertuanya pun datang membukakan pintu.
Dengan raut wajah masamnya langsung ia tunjukan kepada menantunya untuk menyambut kehadirannya.
"Mau apa kau kemari!" Dengan tegas juga ibu mertua bertanya kepada menantunya itu tanpa merubah mimik wajahnya sedikitpun. Bahkan semakin sengit menatap menantunya yang belum menjawab pertanyaannya.
Kenapa aku rasa dia lebih galak dari ibuku.
"Siang Bu. Aku ingin menjemput istriku kemari" Dengan penuh senyuman dan kelembutan Aldigar menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
Jika bukan karena perintah ibunya Aldigar pasti tidak akan datang ke rumah itu.
Maaf Bu niatan untuk menjaganya saja memang tidak ada. Lalu bagaimana bisa aku harus bersikap seolah-olah aku akan menjaganya.
"Mohon maafkan atas segala kesalahan saya Bu. Izinkan aku untuk menjemput putri ibu dan membawanya pulang."
"Tidak! Lakukan dulu bagaimana caranya agar aku bisa mempercayaimu untuk membawa putriku pulang bersamamu!"
"Ma..."
Putrinya penasaran dengan ibunya yang marah-marah sejak tadi. Ayudia pun melihat suaminya yang datang ke rumahnya itu.
"Kau kemari?" Heran dan menetap ragu atas kedatangan suaminya. Kemaren ia menurunkannya begitu saja dijalanan dan sekarang ia datang kerumah dengan ramah untuk menjemputnya.
"Pulanglah kerumah ku" Aldigar langsung saja berbicara ke inti tanpa berbasa-basi dulu setelah melihat kehadiran istrinya. Sebenernya ia tidak ingin lama-lama berada disitu jadi ia harus mendapatkan hati mertuanya agar mengizinkan dia pulang membawa istrinya.
"Kau. Masuklah dulu. Tidak enak didengar tetangga"
"Dengar! Jika bukan atas kebaikan putriku aku pasti tidak akan mengizinkanmu masuk ke dalam rumah."
__ADS_1
Ibu mertuanya masih saja mengomel dan kesal dengan Aldigar. Aldigar hanya bisa menutup telinga tidak mendengarkan ia berbicara sambil masuk ke dalam rumah.
Sekarang Aldigar masih duduk tenang menunggu di sofa ruang tamu rumah istrinya.
Tak lama istrinya datang sambil membawakan minuman segar untuknya.
"Minumlah dulu sebelum kau pulang" Menaruh jamuannya ke meja.
"Dihh. Kau menjamu tamu atau sedang mengusirku?"
"Dua-duanya"
Ayudia langsung duduk di tempat duduk yang jaraknya lumayan jauh dari suaminya. Bahkan bersebrangan. "Percuma saja kau kesini, aku tidak akan ikut pulang denganmu juga nanti. Jadi pulanglah sendiri saja" Sikap mereka benar-benar tidak terlihat layaknya seorang pengantin baru yang seharusnya terlihat sangat manis. Justru terlihat seperti musuh yang saling bertemu dan bertatap muka.
"Sebenarnya aku juga terpaksa datang kemari. Tapi bagaimana lagi,aku harus membawa mu pulang baru aku di bolehkan pulang."
"Dihh! Itu urusanmu. Biarkan saja kau tidak dibolehkan pulang. Aku tidak mau pulang denganmu. Aku juga belum siap berada dirumahmu untuk saat ini." Ayudia berdiri dari duduknya. Ia merasa sakit kepala saat ini. Memang sejak kejadian semalam kondisi badannya kurang sehat.
Menyebalkan sekali. Berani sekali dia menolakku!
"Tunggu!. Aku belum selesai bicara denganmu"
Aldigar menghampirinya yang akan pergi begitu saja untuk merayu.
Saat ini Ayudia terlihat begitu lemas dan pucat. Ia merasa akan pingsan.
"Apa lagi.." Bahkan sesaat setelah bertanya pun ia langsung pingsan dibekapan Aldigar.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" Aldigar terkejut dengan istrinya yang tiba-tiba ambruk di bekapanya. "Hey bangun. Kenapa denganmu?"
Tangan Ayudia terasa begitu dingin,tapi leher dan kepalanya terasa begitu panas. Bahkan pelipis dan dahinya mulai bermunculan keringat.
Menandakan ia sedang sakit dan tidak baik-baik saja.
Mendengar suara Aldigar yang panik dan bingung membuat ibu mertuanya muncul dari arah dapur juga.
"Kenapa dengan putriku???" Melempar Capitan dapur yang sedang ia pegang ke lantai. Sepertinya ia memang sedang memasak sesuatu. Lalu menghampiri putrinya dengan penuh kekhawatiran meninggalkan masaknya. "Kau apakan putriku? Kenapa dia pingsan begini?"
"Sungguh aku tidak tahu Bu. Aku sedang berbicara denganya tadi, tapi tiba-tiba dia pingsan"
"Ini semua gara-gara kamu. Kau menelantarkannya semalam. Ia jadi sakit begini kan. Aku sungguh tidak tahu dia tidur dimana semalam"
__ADS_1
Aldigar hanya terdiam sambil mendengarkan ocehan ibu mertuanya. Jujur saja ia merasa sedikit bersalah dengan semua itu.