
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhinya keduanya sudah sampai juga dikantor Aldigar.
Semua orang tampak terkejut melihat kehadiran bos muda yang membawa wanita dan menggandengnya menuju ke lift.
Orang-orang kantor tidak ada yang tahu bahwasanya Aldigar sudah menikah dengan wanita itu. Tapi yang jelas terserah tuan mudanya saja mau menggandeng wanita manapun itu terserah dia bagi mereka.
Namun yang mereka tahu saat ini Aldigar sedang dekat dengan sekertarisnya sendiri, tapi nyatanya ia membawa perempuan lain ke kantor.
Sesaat setelah Aldigar lenyap bersama istrinya dengan lift itu ke lantai atas,sekertaris Aldigar pun tiba juga di kantor itu.
Membuat pandangan orang-orang teralihkan padanya.
Apa dia sudah putus dengan tuan muda?
Tapi dia terlihat ceria-ceria saja. Aku yakin jika dia sudah putus dia tidak akan seceria itu datang ke kantor ini.
Begitulah pandangan mereka semua sambil mengumpat di dalam hati bertanya-tanya penuh dengan pertanyaan tentang hubungan mereka.
Aldigar dan istrinya sudah masuk ke dalam ruangan besar itu. Tentunya ruangan kerja milik Aldigar. Di dalam ruangan itu juga terlihat ada meja yang bersebelahan namun sedikit lebih jauh dari meja suaminya. Sepertinya meja itu adalah meja milik sekertaris yang biasa bekerja disitu.
"Duduklah disini. Terserah kau mau melakukan apa. Semua fasilitas juga ada disini pakai saja" Aldigar menunjukkan tempat bersantainya ke istrinya.
Istrinya pun manatap rapi seluruh sudut ruangan yang tampak terasa nyaman dan bersih berkilau.
Sekertaris itu sudah berada didepan pintu masuk ruangan Aldigar. Ia tampak diam-diam masuk ke dalam ruangan sambil senyum-senyum sendiri untuk mengagetkan Aldigar.
"Pagi sayang. Muach.." Pelukan erat penuh rasa kangen. Ciuman yang mendarat tiba-tiba itu juga membuat Aldigar terkejut.
Wanita itu tidak melihat adanya wanita lain di ruangan Aldigar, karena ia terlalu fokus pada kekasihnya sejak tadi.
Begitu pula dengan Ayudia yang baru saja duduk disofa melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat tadi. Tiba-tiba saja wanita itu datang dengan gembira entah darimana asalnya dan mencium pipi Aldigar begitu saja.
__ADS_1
Wanita itu tampak kaget juga dan melepas pelukannya setelah melihat Ayudia sedang duduk di sofa.
"Apa yang kau lakukan?" Aldigar tampak kesal dan langsung menyeret wanita itu keluar dari ruangannya.
Siapa wanita itu?
"Apa kau tidak membaca pesan yang aku kirim kepadamu??" Dengan raut wajah kesalnya menatap wanita cantik itu yang tampak bingung dengan tingkah Aldigar.
"Tidak. Aku tidak peduli dengan pesan. Yang aku pedulikan akhirnya aku bisa bertemu denganmu hari ini sayang. Dua hari itu sangat lama bagiku"
"Kharisa. Berhenti memanggilku sayang untuk sementara waktu!"
Kharisa adalah nama sekertaris itu sekaligus kekasih Aldigar.
"Ada apa si? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini?" Kharisa pun bingung dan tampak kecewa dengan sikap Aldigar yang tiba-tiba berubah 180° dari biasanya.
"Ada istriku didalam"
"Apa??"
Mendengar kata itu membuat wanita itu tercekik dan terasa sesak dadanya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Aldigar hingga membuatnya terbelalak.
"Jadi mengertilah keadaan. Aku harap kau membaca seluruh pesa yang sudah aku kirim kepadamu" Aldigar pun masuk kembali ke dalam ruangannya itu.
Istrinya terlihat tanang-tenang saja sambil membuka majalah yang ada di meja untuk melihat-lihat. Seolah-olah ia tidak menyaksikan apapun tadi.
Istri???
Wanita itu masih tertegun tidak bisa berkata-kata. Sungguh sakit kenyataan yang iya terima pagi ini. Bahkan membuatnya menitikkan air mata begitu saja. Yang lebih terasa sakit lagi dengan sikap Aldigar yang berubah tiba-tiba padanya. Seharusnya hari ini keduanya saling melepas kangen masing-masing karena 2 hari tidak bertemu. Namun nyatanya mereka harus menerima kenyataan pahit yang ada saat ini.
Apa yang kau lakukan Aldigar? Kapan kau menikah denganya. Bukankah yang kemaren menikah itu kakakmu, tapi kenapa sekarang kau yang datang membawa istri.
__ADS_1
Kharisa memilih pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak bisa menahan tangisnya karena rasa sakit yang begitu dalam.
Lama Aldigar menunggu kekasihnya untuk masuk ke ruangan itu lagi. Namun ia tidak kunjung datang-datang ke ruangan. Membuat Aldigar resah dan keluar lagi dari ruangan itu untuk mencari Kharisa. Namun ternyata ia telah pergi dari kantor itu menurut informasi yang ia dapat dari para karyawan yang melihatnya pergi.
Suasana hati Aldigar semakin kacau. Bahkan sebentar lagi akan diadakan rapat bersama karyawannya, tapi kali ini ia justru mencari-cari kekasihnya yang pergi entah kemana.
Ayudia sangat bisa memahami semua itu. Pastinya terasa sangat berat bagi mereka untuk menerima kenyataan.
Ayudia hanya mampu terdiam dan menunggu suaminya yang keluar dari ruangan begitu saja tadi,sambil memandangi pemandangan indah dari atas gedung yang hampir semuanya berlapis dengan kaca. Semuanya tampak terlihat indah di pandang.
Aldigar kembali datang ke ruangan itu dengan raut wajah kesal bercampur gelisah. Pikirannya juga kacau kemana-mana. Padahal ia akan segera melaksanakan meeting.
Ayudia menghampiri suaminya untuk membenarkan dasinya yang berantakan.
"Apa dia pacarmu?" Bertanya dengan lembut dan penuh dengan senyuman membenarkan dasi suaminya.
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Dia sangat cantik. Tenangkanlah dirimu. Kau mau melaksanakan meeting kan. Habis itu kejar dia. Dia pasti tidak kemana-mana selain pergi ke tempat yang membuatnya tenang"
Salah satu karyawannya juga sudah datang ke ruangan itu untuk memanggil Aldigar agar segera masuk ke ruangan meeting.
"Mohon maaf Tuan Aldigar. Anda sudah ditunggu diruang meeting. Klien juga sudah datang menunggu sejak tadi"
"Tunggulah 2 menit"
"Baik Tuan"
Karyawan itu segera pergi. Sementara Aldigar hanya menatap istrinya dan pergi begitu saja dari ruangan ituitu setelah mengambil laptopnya.
Bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu. Sedangkan aku yang justru mengkhawatirkan perasaannya. Dan dia justru menyuruhku untuk menemui Kharisa tadi. Apa aku tidak salah dengar?
__ADS_1