Diary Fika

Diary Fika
Episode 10. SUASANA DI TEMPAT KERJA


__ADS_3

Semenjak bekerja, jadwalku berubah drastis dari yang dulu bangun siang setelah sholat shubuh tidur lagi atau bersantai di pagi hari karena jam masuk kuliah jam 8, sekarang harus bangun sebelum shubuh, untuk sholat sunnah. Lalu usai shubuh baca quran, karena kalau untuk membantu ibu di dapur beliau melarangnya dengan alasan beliau bisa melakukannya sendiri.


Pukul 06.00 aku sudah siap siap berangkat karena masuknya jam 07.00 dengan naik motor aku berkendara dengan kecepatan sedang karena jarak perusahaan dengan rumahku tidak terlalu jauh. Lagipula aku juga sudah mendapat


SIM C jadi berani naik motor di jalan raya. Kerjaanku adalah menyusun laporan pengeluaran barang harian bersama teman satu timku Rony, Erwin, Rena dan diketuai oleh Mbak Wati kami berlima berkolaborasi untuk menyusun laporan pemasukan yang dikerjakan oleh Rony, sedang Rena dan Erwin pengumpulan data dan


surat jalan.


Menjelang akhir setiap MInggu yakni hari Jumat kerjaan kami akan menumpuk dan mengharuskan lembur sampai pukul 5 sore namun pada hari Senin- Kamis kami pulang normal jam 16.00 dengan beban kerja 8 jam perhari kami


memperoleh libur pada hari Sabtu Minggu. Dan jika kami pulang melebihi jam 16.00 maka dihitung lembur. Dan yang paling mendebarkan adalah rapat akhir bulan bersama dewan direksi yang lain. Kebetulan dari tim kami yang ikut rapat adalah Mbak Wati, aku dan Rony.


Seperti saat ini awal bulan pertama sejak aku bekerja di perusahaan ini. Aku diminta oleh Mbak Wati dan Rony untuk mengikuti rapat pertanggung jawaban masing masing bagian. Dengan gugup aku berusaha menenteng


laptop menuju ruang rapat didampingi Mbak Wati dan Rony. Mereka berpesan agar aku tidak gugup dan lebih percaya diri dalam menyampaikan laporan nanti.


“Memang siapa yang akan kita hadapi nanti Mbak Wati?” tanyaku penasaran.


“Dia adalah Direktur Utama perusahaan Pak Untung, bersama direktur Pak Jaya dan Bapak Manajer yang masih muda belia dan ganteng Pak Andra, dia lumayan sulit untuk dikendalikan, lho!” bisik Mbak Wati.


“Mbak Wati melebih lebihkan, Fik! Kamu tetap harus fokus dengan apa yang sudah kamu tulis dan kamu laporkan itu kunci suksesnya!” Rony menguatkan.


Kami bertiga memasuki ruangan rapat di sana telah duduk beberapa dewan divisi dan divisi keuangan, divisi pemasaran, divisi yang lain. Dan di sebelah kiri Pak Untung dan Pak Jaya yang usianya sudah tidak muda lagi


duduklah seorang laki laki yang memang lumayan tampan dan berkharisma yang bertuliskan direktur personalia di sebelahnya duduk seorang wanita yang juga cantik dan anggun, di sebelah kanan Pak Untung dan Pak Jaya ada juga sebuah kursi yang masih kosong, yang disana bertuliskan Direktur keuangan yang mana orangnya belum datang.


Sambal menunggu datangnya semua anggota rapat berkumpul aku sempatkan untuk bertanya pada Mbak Wati mengenai personal dari orang orang penting perusahaan ini.


“Kalau yang disebelah kirinya Pak Untung itu siapa Mbak?”


“Itu Pak Hamdan, Direktur Personalia kita, dan disebelahnya


adalah sekretaris Pak Untung Mbak Mery”


“Lha itu siapa yang baru datang itu?”

__ADS_1


“Itu Direktur Keuangan Pak Vero, yang masih muda namun terkenal playboy karena dia masih keponakan Bapak Direktur Utama Pak Untung" Mbak Wati menjelaskan aku hanya mengangguk angguk.


Rapat pun dimulai setelah semua sudah hadir, dan kami yang kebagian menyerahkan laporan sedangkan yang menjelaskan adalah Bapak Manajer Administrasi Pak Andra, sedang kami hanya bertugas menyerahkan bukti fisik


laporan kami tersebut, untung saja tidak ikut bicara.


Saat giliran Pak Andra menjelaskan suasana menjadi tegang, terutama bagiku, Erwin dan juga Mbak Wati karena kesalahan sekecil apapun akan Nampak di mata para petinggi perusahaan. Untungnya tidak ada kesalahan malah


pak wakil direktur terlihat senang dengan hasil laporan yang telah kami susun, beliau menyampaikan dalam sambutannya yang sebelumnya dalam rapat akhir bulan ada saja kesalahan kesalahan kecil baik itu typo(salah ketik) maupun ketidak singkronan antara pengeluaran, dan saldo. Tapi kali ini semuanya berjalan dengan lancar dan semestinya, sehingga kami dari tim administrasi yang diketuai mbak Wati.


Usai rapat laporan bulanan, kami satu tim bernapas dengan lega dan makan makan di warung makan pinggir jalan. Aku, Erwin, Rena dan Rony serta mbak Wati saling memilih menu favorit masing masing, ada nasi rawon


kesukaan Erwin, nasi campur dan soto daging. Di tengah asyik berbincang mengenai hasil rapat tadi, Mbak Wati mendapat telepon memberitahukan kalau anaknya sedang sakit jadi ia minta maaf karena terpaksa tidak bisa ikut makan makan bersama.


“Maaf, ya aku tak bisa ikut makan kali ini karena anakku sedang sakit, tapi lain kali aku usahakan akan traktir kalian”


“Tidak usah dipikirkan, Mbak yang penting anaknya Mbak Wati cepat sembuh” Rony mendoakan anaknya Mbak Wati.


“Iya, mbak semoga anaknya lekas sembuh!” ucap aku, Erwin dan Rena bersamaan. Dan disaat menu kami datang tiba tiba ada yang datang ke kursi kami.


“Boleh tidak saya ikut bergabung dengan kalian?”


“Boleh… boleh …silahkan pak! Tapi tempatnya ala kadarnya begini maklum warung pinggir jalan” Rony menimpali karena kami tidak segera menjawab.


“Benar saya tidak mengganggu kalian?”


“Sama sekali tidak Pak” Erwin ikut berkata. Namun tetap tak bisa mengusir suasana canggung karena kami berempat jadi tidak leluasa bicara apalagi bercanda semenjak kehadiran Pak Andra. Pak Andra memesan nasi rawon.


“Tidak sangka kalau Pak Andra juga menyukai menu tradisional” guman Rena.


“Ah saya itu sama saja seperti kalian, jadi kalian jangan sungkan sungkan! Mari makan!”


Meski Pak Andra berusaha tidak menjaga jarak dengan kami bawahannya namun kami seolah masih saja bersikap hormat dan menjaga batasan. Tak lama setelah selesai makan Rony dan Rena pamitan dengan alasan ada perlu ke rumah saudara Rena yang sedang pindah rumah, karena mereka berpacaran jadi ya satu pergi lainnya pasti ikut.


“Jadi mereka berdua itu ada hubungan yah?” Pak Andra membuka percakapan menyinggung Rena dan Rony.

__ADS_1


“Ya begitulah. Pak. Pak Andra kok bisa tahu?” Sahut Erwin


“Iya berita seperti itu kan cepat menyebar, Win” Pak Andra menghela napas, “Lha kamu sendiri, Win? Apa kamu sudah punya pacar?”


“Alhamdulillah sudah Pak,”


“Siapa? Dia?”Pak Andra bertanya seraya menunjuk ke arahku yang memang sedari tadi tidak bersuara.


“Ya maunya sih pak! Tapi saya sudah punya pacar tetangga desa saya”


“Wah… enak yah tidak jauh- jauh” Erwin hanya menyeringai. “Lha kamu anak baru yah!  siapa nama kamu?” Pak Andra berbicara sambil menatap ke arahku.


“Saya Fika, pak” “Fika, Pak anak baru” aku dan Erwin menjawab bersamaan. Pak Andra tersenyum padaku dengan sangat manis. Ampun kalau ini aku orang yang GR an pasti aku mengira kalau Pak Andra naksir padaku.


“Rumah kamu di mana, Fika?” Pak Andra mencoba berbasa basi.


“Saya tinggal di jalan Slak no 5 Bangil, Pak”


“Wah, lengkap sekali alamatnya… kapan kapan boleh saya mampir ke sana?”


“Ehhm… Ehhm…“ Erwin berpura pura tengorokannya kering, menandakan respon akan ucapan Pak Andra yang to the point itu.


“Boleh nggak saya kapan kapan main ke jalan Slak no 5?” Pak Andra mencoba mengulang ucapannya.


“Ayo jawab, Fik!” Guman Erwin Karen akau masih belum menjawab karena aku hanya mengira itu sebuah candaan saja.


“Iya boleh silahkan, Pak!” Jawabanku akhirnya karena tidak tahu harus menjawab apa.


“Oh iya habis ini kalian ada acara apa? Atau langsung pulang?”


“Kalau saya langsung pulang, Pak” jawab Erwin.


“Kalau Fika juga langsung pulang? Boleh saya antar?” lagi lagi Pak Andra menunjukkan sikapnya secara terbuka tanpa tedeng aling aling.


“Maaf ya Pak habis ini saya langsung kuliah karena saya ada jadwal kuliah sore ini”

__ADS_1


“Jadi kamu masih kuliah?” Pak Andra bertanya dengan heran dan pandangan kagum, sikapnya terlihat saat tanpa sengaja aku bertatap mata dengannya. Erwin merasa jika kehadirannya mulai dirasa mengganggu hingga akhirnya ia pun pamitan pulang. Tinggal aku dan Pak Andra. Sebelum mereka pergi satu persatu Pak Andra sudah berpesan bahwa ia yang membayar makanan kita semua.


__ADS_2