
Setelah kunjungan kami ke rumah Bagas ketika ia tidak enak badan beberapa hari yang lalu. Hubungan di antara aku dan Bagas terkesan agak canggung. ditambah ulah teman teman yang terkesan menjodohkan kami berdua. Aku lebih bersikap sewajarnya namun entah Bagas jadi lebih sering mendekat jika di kelas ia akan lebih memilih duduk di sebelahku yang membuat aku jadi tambah tidak nyaman. Sedangkan Shinta, dan kawan kawan lebih gencar memojokkan kami.
Ketika aku, Shinta, Erika akan pergi ke kantin usai perkuliahan usai Bagas dan Anto mengekor kami dan mengatakan jika akan mentraktir kami semua.
"Kalian makan apa saja ntar aku yang bayar hari ini"
"Alhamdulillah.... " Jawab kami kompak .
"Sering sering aja kayak gini, Gas!" Anto menimpali.
“Doain aku dan Fika jadian aku akan ajak kalian makan di warung lesehan. Kalian yang pilih tempatnya aku manut
saja, ya nggak Fik?” Bagas berkata dengan nada percaya diri sambil melirik ke arahku. Aku hanya melengos tak menjawab.
Usai makan kami kembali ke kelas. Namun baru saja aku hendak masuk kelas tiba tiba ponselku bordering, nama Fina kakakku muncul segera aku angkat dan kuurungkan niat masuk kelas.
“Ya, Hallo kak Fina ada apa?”
“Fik, kamu segera pulang… Ayah sakit”
“Apa….Kak! Ayah sakit…. Sakit apa?”Aku terkejut bukan main.
“Pokoknya kamu pulang saja ini kami baru saja sampai di RSUD kamu segera ke sini ya!”Suara Kak Fina sambil menahan tangis.
__ADS_1
“Baiklah Kak Fina aku segera pulang tunggu bentar aku izin sama dosen dulu!”
“Iya, hati hati di jalan kamu ya!”
Telepon pun terputus. Aku segera masuk kelas menuju meja dosen yang baru saja datang saat aku menelpon tadi lalu aku meminta izin.
“Maaf, Pak saya mau izin pulang dulu Ayah saya sakit.”
Pak Hadi agak sedikit terkejut sambil tersenyum dan berkata “Iya kamu sebaiknya pulang dan jenguk ayah kamu,
semoga Ayah kamu lekas sembuh! Kamu hati hati di jalan ya!”
Aku mengangguk dan segera keluar, aku sampai tak berpamitan pada teman temanku namun aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang.
menerima telepon.
“Aku buru buru, Gas nanti aku jelasin ke kamu. Kamu sebaiknya balik ke kelas dulu!”
“Aku nggak akan tenang sebelum tahu kenapa kamu sangat khawatir begini” Bagas tetap mengikuti aku berjalan. Bahakan sampai di depan pintu masuk kampus.
“Nanti aku WA kamu, aku duluan ya!”
Bagas hanya tercengang menatap kepergianku yang sudah naik angkutan umum meninggalkan ia yang masih berdiri di depan pintu kampus. Buru buru kurogoh ponselku dari tasku lalu aku mengirim pesan WA ke nomer Bagas aku mengatakan jika Ayah sedang sakit makanya buru buru pulang dan minta maaf tadi tidak bisa terus terang karena panik dan mohon doanya saja!
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian terdengar bunyi pesan masuk dari Bagas.
“Aku turut sedih dengernya, semoga ayah kamu segera diangkat penyakitnya dan diberikan kesembuhan. Kamu yang tabah yah aku akan selalu berada di sisimu karena aku sayang kamu”
Apa apaan anak ini, pikirku di saat
aku sedang panik masih sempat sempatnya ia bilang kalau ia sayang padaku apakah
ini pertanda kalau ia menyatakan perasaannya. Memang selama ini aku tak terlalu
merespon sikapnya yang terkesan pendekatan karena aku masih berpegang teguh
pada kata kata ayahku untuk tetap belajar tanpa adanya hubungan dengan lawan jenis.
Aku segera pulang dengan naik taxi supaya bisa lebih cepat untuk sampai tujuan. Dengan cemas dan perasaan gelisah mendengar keadaan Ayah yang tiba tiba jatuh sakit bercampur kaget dengan pernyataan cinta
dari Bagas membuat aku jadi banyak pikiran hingga tak mendengarkan supir taxi
yang menanyakan tujuanku.
“Mau kemana Mbak?” Pak supir yang berusia paruh baya mengulang pertanyaannya sampai dua kali aku baru tersadar dari lamunanku.
“Langsung ke RSUD kota B pak! kalau bisa agak cepat sedikit ya, Pak"
__ADS_1