
Hari ini seperti biasanya aku pergi kuliah bersama Shinta dan Erika. Sesampainya di kampus kami bertemu dengan Anto dan juga teman teman yang lain.
Hari ini adalah jadwalnya presentasi. Aku dan teman satu timku yang terdiri dari Rima, Faishal dan Vera mendapat giliran untuk tampil pertama kali dan kami diberikan waktu 1 menit untuk persiapan materi dan persiapan yang lain- lainya. Aku memandang sekitar pada teman teman kenapa tak nampak batang hidungnya, kenapa dia belum hadir di saat yang penting seperti ini? padahal ini adalah kelasnya Pak Hadi dosen yang disiplin, tegas dalam pemberian tugas juga dalam memberikan nilai pada mahasiswanya. Dan beliau tidak segan segan memberi nilai D jika mahasiswa tersebut tidak hadir di kelasnya selama 3 kali berturut turut atau tidak mengerjakan tugas selama 1 kali tanpa alasan yang logis. Benar benar killer kata teman teman.
Satu menitpun berlalu kini kami bertiga saatnya untuk maju ke depan untuk menampilkan presentasi hasil karya ilmiah kami. Bagian yang membuka adalah Faishal dan aku bertugas menyampaikan materi dibantu Rima dan Vera untuk sesi tanya jawab kami berkolaborasi berempat untuk saling bergantian dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh rekan rekan mahasiswa yang lain.
Dua puluh menit pun berlalu dan sesi pertama untuk presentasi kelompok kami telah usai dengan tidak ada lagi yang bertanya dan menyanggah. Maka kami pun menyampaikan hasil diskusi kelompok kami. Kemudian kami kembali ke tempat duduk masing masing.
Kelas presentasi pun berlalu dengan raut tegang kami hari ini hanya ada dua kelompok yang tampil. Dan ditutup komentar serta saran dari Pak Hadi mengenai performa kami kelompok yang tampil hari ini Pak Hadi mengacungkan dua jempol karena dibuka oleh mahasiswa mahasiswi hebat berpotensi. Dan diharapkan untuk kedepannya bagi kelompok yang belum tampil harap mempersiapkan diri dengan baik sehingga bisa performa maksimal.
Kelas Pak Hadi berlalu. Kami berlima seperti biasanya pergi ke kantin untuk minum juz segar setelah satu jam lebih tegang dan deg degan.
"Hari ini mana yah yang biasanya nraktir kita? koq tidak datang?" Anton berseloroh.
"Iya nih, memangnya kemana yayang kamu, Fik kok absen saat penampilan presentasi yayangnya?" Erika ikut menimpali
"Ya mana kutahu... dia bukan apa apaku yang kalau tidak masuk kuliah harus laporan dulu sama aku" Cerocosku sekenanya.
"Iya tumben ini anak gak masuk kuliah tapi gak ada pemberitahuan sebelumnya... jangan jangan ia dan kelompoknya belum siap tampil presentasi kan hari ini memang diundi kelompok mana yang tampil duluan" Shinta ikut berargumen sambil menyeruput juz melonnya.
"Gimana kalau pulang kuliah kuta jenguk dia bareng bareng!" Anton berpendapat.
__ADS_1
"Boleh boleh... aku juga penasaran kenana ini anak?" Erika setuju usul pacarnya. "Bagaimana Fika dan Shinta?"
"Ayok..." Shinta mengamini sedang aku masih diam. Ini diambil kesempatan teman teman untuk memojokkanku.
"Duh yang kekasihnya gak ada sedih banget!!!" Seloroh mereka.... aku hanya menjawab "Apaan sih kalian..."
Kami berempat berangkat ke rumah Bagas kebetulan Anton yang pernah ke rumahnya jadi hapal jalan menuju ke sana kami ke sana naik angkutan Karena yang bawa motor cuma Anton jadi motornya Anton diparkir di kampus kebetulan rumah Bagas juga tidak terlalu jauh hanya butuh 15 menit naik motor kalau angkot yah 20 menitan sudah sampai.
Kami pun sampai di depan rumah Bagas yang jaraknya dari jalan raya hanya 20 meter. Rumah Bagas tampak megah berlantai dua menunjukkan kalau dia anak orang berada.
Anton menekan bel dan tak lama pintu pun dibuka dan yang membuka adalah seorang wanita tua yang memakai daster sepertinya bukan mamanya deh dia lebih mirip pembantunya dan benar ketika dia bertanya mau nyari siapa? Anton menjawab Bagas dia langsung menjawab.
"Wah kalau gitu ga usah bi kita saja yang ke kamarnya" Anton berpendapat.
"Sebentar ya mas saya tanya dulu sama den Bagas!" Art di rumah Bagas pun kembali masuk namun sebelumnya mempersilahkan kita untuk duduk.
Sejurus kemudian Bagas keluar dengan raut muka yang pucat dan lesu langsung duduk dan mengedarkan pandang ke arah kami satu persatu namun aku tak berani menatapnya saat ia melihatku.
"Kenapa kalian repot repot kemari? Aku gak apa apa koq cuma masuk angin saja" Bagas memulai percakapan.
"Habisnya kamu ngilang tanpa kabar kita kan jadi khawatir, ya nggak! Apalagi Fika tu yang paling kepikiran karena kamu tidak masuk hari ini padahal ksn hari ini Fika tampil presentasi" Anton berbicara seraya meledekku... sontak aku melemparkan bantal ke arahnya. Anton hanya meringis dan menjerit kaget "Aw..."
__ADS_1
"Bohong banget kamu, Ton. Jangan mengada ada". Elakku. Sedang teman yang lain hanya berdehem dehem ria.
"Nggak apa lah Fik kamu sekali kali kasih perhatian ke Bagas biar imbang kan selama ini Bagas terus yang perhatian ke kamu" Ledek Shinta, dia paling hapal dengan sikap pendekatan Bagas selama ini setiap kali pergi ke kostan tak pernah dengan tangan kosong, entah itu buah, camilan, martabak dan lain lain belum lagi kalau jajan di kampus siapa aja yang makan dengan aku pasti dia yang bayarin.
"Kamu kenapa koq bisa masuk angin? habis begadang yah semalaman?" Amton mulai bertanya sebab sakitnya Bagas.
"Yah biasa lah begadang nyari bahan buat referensi dan persiapin untuk presentasi sampai ga tahu waktu sudah sejak dua hari lalu tidur jam 2 bahkan kemarin malam gak tidur sama sekali jadi sekarang tumbang deh" Bagas menjelaskan panjang lebar.
Di saat kami asyik dengan pikiran kami masing masing Art keluar dengan membawa nampan berisi jus jeruk dan beberapa kue brownies. Sambil mempersilahkan.
Kami pun menyeruput jus jeruknya dan ada yang mencicipi kuenya sedang aku hanya diam menunduk.
"Fika kamu koq jadi pemalu dan pendiam gini sih!" Lagi lagi Erika mulai menyerangku. "Apa sebaiknya kita balik dulu biar kalian bisa berdua dua dulu" Aku sempat melirik ke arah Bagas kebetulan ia juga sedang menatapku... Ya Tuhan malunya aku, pikirku. Mereka yang menyadari perubahan sikap kami jadi ikut tertawa tawa sendiri.
"Karena sudah tahu kondisi Bagas baik baik saja ayo kita pulang dulu biar dia bisa istirahat" Aku berinisiatif untuk mengakhiri kunjungan ini dan mereka pun setuju. Tapi masih juga aku kena serang.
"Duh perhatian banget sama kekasihnya takut sakitnya tambah parah, ya nggak Gas!" Anton masih sempat memojokkanku. Bagas hanya senyam senyum.
"Makasih untuk kunjungan kalian ya!"
Kami pun berpamitan pulang.
__ADS_1