
Setelah Mas Ardi pulang, aku mulai menyiapkan segala
sesuatu yang berkaitan dengan surat lamaran pekerjaan dan data diri. Besok aku
mulai ke rumah Pak RT untuk meminta surat pengantar lalu ke kelurahan untuk
mengurus Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Polres. Sudah kususun surat
lamaran pekerjaan dan dokumen diri. Sejenak aku baru ingat kalau aku masih
punya SKKB usai aku mengurus lulus SMA dulu. Sebentar aku lihat apakah masih
berlaku. Kubuka lemari berkas dan benar saja SKKB nya masih berlaku. Untung
saja masih keburu untuk datang membawa persyaratan besok.
Pukul 06.00 aku telah siap dengan segala hal yang
diperlukan. Aku memilih kemeja putih dan rok hitam serta jilbab hitamku. Aku
persis mahasiswa yang mau ujian Negara atau mirip SPG bank syariah. Bismillah
aku berangkat dijemput mas Ardi karena dia termasuk ‘orang dalam’ yang
memberitahuku mengenai lowongan pekerjaan ini. Pukul 06.30 kami telah sampai di
depan perusahaan. Dan disana telah berjajar beberapa pelamar pekerjaan yang
serupa denganku penuh harap agar dapat mengisi bagian bagian yang dibutuhkan
dalam perusahaan alat elektronik terkemuka di negeri ini.
Aku melirik jam tanganku baru pukul 06.45 dan mas
Ardi sudah masuk ke kantor sejak10 menit yang lalu. Ia berpesan agar aku sabar
menunggu di kursi antrian beserta para pelamar kerja lainnya.
“Kamu tunggu di sini, Fik! Aku masuk untuk check
lock dulu kamu tunggu sampai giliranmu tiba ya!” pesan Mas Ardi.
Satu persatu nama nama pelamar dipanggil hingga
pukul 08.20. barulah giliranku untuk masuk ruang interview. Di sana ada satu
kursi yang saling berhadapan namun yang kursi untuk calon pekerja dan tiga
kursi untuk penginterview. Satu wanita dan dua orang laki laki dan ketiganya
sudah berumur lebih dari 30 tahunan atau mungkin sudah 40 tahunan ya mungkin
mereka sudah senior dan sudah lama bekerja di perusahaan ini.
Dari sesi pertanyaan pertama sampai ke 20 pertanyaan
__ADS_1
telah aku jawab satu persatu dengan percaya diri dan mantap. Salah satunya
adalah pertanyaan yang paling berkesan yaitu alasan utama aku melamar kerja di
perusahaan ini aku jawab sejujurnya. Yaitu untuk mendapat penghasilan untuk
biaya hidupku dan ibu serta untuk biaya pendidikanku. Lalu mereka bertanya
memang tidak ada yang bertugas mencari nafkah. Aku jawab bahwa Ayah telah
tiada. Dan mereka tanpa sadar jadi terdiam dengan tatapan iba mereka mengatakan
kalau sesi interview telah usai aku lalu disodori beberapa lembar kertas ujian
agar aku mengisinya. Soalnya berisi pengetahuan dasar dan pengetahuan umum.
Pukul 11.00 aku baru selesai dan salah satu pihak
perusahaan yang telah menanyaiku nomer hand phone yang aktif agar sewaktu waktu
jika ada hasil interview keluar bisa sewaktu waktu dihubungi. Lalu bersama
pelamar yang lain aku keluar. Dan duduk duduk sejenak di ruang kantin di sana
untuk minum air mineral karena tenggorokan sangat haus sejak tadi pagi tidak
minum ditambah suasana tegang saat interview tadi.
Sambil minum aku membuka ponselku dan ada pesan dari
lagi? Aku tertegun sesaat dengan situasi seperti ini tak mungkin aku berterus
terang jika hari ini aku pergi melamar kerja. Pasti mereka akan menganggap jika
aku mau berhenti kuliah. Dan ini juga jadi pertanyaan dari Bapak Iwan salah
satu yang menginterview aku tadi jika aku masih kuliah bagaimana aku bisa
bekerja? Lalu kujawab aku akan pindah jam kuliah sore hari pulang kerja. Dan Bu
Rima juga bertanya antara pendidikan dan pekerjaan mana yang menjadi
prioritasku. Aku jawab pekerjaan bu. Kenapa? Tanya bu Rima. Dulu saat saya
tidak bekerja dan hanya kuliah prioritas hidup saya adalah pendidikan namun
setelah saya memutuskan untuk bekerja maka prioritas saya adalah pekerjaan.
Mereka hanya mengangguk anggukan kepala mereka.
Saat tengah asyik melamun dan mengingat ingat
interview tadi ada panggilan dari Bagas.
“Assalamu ‘Alaikum Fika, kamu sebenarnya dimana ini?
__ADS_1
Koq tidak membalas pesanku?”
“Waalaikum salam. Maaf, Gas aku sedang ada keperluan
jadi tidak sempat”
“Kalau aku boleh tahu kamu akan tetap kembali kuliah
kan?” Tanya Bagas to the point.
“Iya aku usahakan…” belum sempat bicara panjang
lebar Mas Ardi datang menghampiriku.
“Bagaimana interview kamu tadi? Lancer kan?”
“Oh iya nanti aku kabari lagi ini aku sedang sibuk.
Maaf” aku memutus panggilan.
“Alhamdulillah, mas aku harap sih lancar urusan
diterima dan tidaknya aku pasrahkan kepada Tuhan karena Dia yang maha
menentukan segalanya. Yang penting aku sudah berusaha.”
“Bagus… Bagus … kamu memang sepupuku yang penuh
dengan semangat dan optimism yang tinggi.” Lalu mas Ardi mendekatkan kea rah
telingaku dan berbisik “Aku sudah upayakan pada pak Cipto kalau kamu adalah
saudara sepupuku yang rajin dan cerdas. 80 % kamu akan diterima kerja” seringai
mas Ardi dengan penuh percaya diri.
“Semoga saja mas!”
“Oh iya kamu kan mahir bahasa inggris dan computer
kan?”
“Yah lumayan lah mas”
“Di sini nanti yang diminta adalah dua kemampuan
tadi. Makanya aku mereferensikan kamu” lalu mas Ardi menawarkan apa aku akan
makan apa? Mie ayam apa bakso? Lalu aku jawab bakso saja.
Usai makan mas Ardi yang membayarnya. Dan mengatakan
kalau habis ini aku boleh langsung pulang mungkin hasilnya akan keluar dalam
minggu depan agar aku siap siap saja. Dan kami berpisah mas Ardi kembali kerja
__ADS_1
sedang aku kembali pulang.