Diary Fika

Diary Fika
Episode 7 SECERCAH HARAPAN


__ADS_3

Setelah Mas Ardi pulang, aku mulai menyiapkan segala


sesuatu yang berkaitan dengan surat lamaran pekerjaan dan data diri. Besok aku


mulai ke rumah Pak RT untuk meminta surat pengantar lalu ke kelurahan untuk


mengurus Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Polres. Sudah kususun surat


lamaran pekerjaan dan dokumen diri. Sejenak aku baru ingat kalau aku masih


punya SKKB usai aku mengurus lulus SMA dulu. Sebentar aku lihat apakah masih


berlaku. Kubuka lemari berkas dan benar saja SKKB nya masih berlaku. Untung


saja masih keburu untuk datang membawa persyaratan besok.


Pukul 06.00 aku telah siap dengan segala hal yang


diperlukan. Aku memilih kemeja putih dan rok hitam serta jilbab hitamku. Aku


persis mahasiswa yang mau ujian Negara atau mirip SPG bank syariah. Bismillah


aku berangkat dijemput mas Ardi karena dia termasuk ‘orang dalam’ yang


memberitahuku mengenai lowongan pekerjaan ini. Pukul 06.30 kami telah sampai di


depan perusahaan. Dan disana telah berjajar beberapa pelamar pekerjaan yang


serupa denganku penuh harap agar dapat mengisi bagian bagian yang dibutuhkan


dalam perusahaan alat elektronik terkemuka di negeri ini.


Aku melirik jam tanganku baru pukul 06.45 dan mas


Ardi sudah masuk ke kantor sejak10 menit yang lalu. Ia berpesan agar aku sabar


menunggu di kursi antrian beserta para pelamar kerja lainnya.


“Kamu tunggu di sini, Fik! Aku masuk untuk check


lock dulu kamu tunggu sampai giliranmu tiba ya!” pesan Mas Ardi.


Satu persatu nama nama pelamar dipanggil hingga


pukul 08.20. barulah giliranku untuk masuk ruang interview. Di sana ada satu


kursi yang saling berhadapan namun yang kursi untuk calon pekerja dan tiga


kursi untuk penginterview. Satu wanita dan dua orang laki laki dan ketiganya


sudah berumur lebih dari 30 tahunan atau mungkin sudah 40 tahunan ya mungkin


mereka sudah senior dan sudah lama bekerja di perusahaan ini.


Dari sesi pertanyaan pertama sampai ke 20 pertanyaan

__ADS_1


telah aku jawab satu persatu dengan percaya diri dan mantap. Salah satunya


adalah pertanyaan yang paling berkesan yaitu alasan utama aku melamar kerja di


perusahaan ini aku jawab sejujurnya. Yaitu untuk mendapat penghasilan untuk


biaya hidupku dan ibu serta untuk biaya pendidikanku. Lalu mereka bertanya


memang tidak ada yang bertugas mencari nafkah. Aku jawab bahwa Ayah telah


tiada. Dan mereka tanpa sadar jadi terdiam dengan tatapan iba mereka mengatakan


kalau sesi interview telah usai aku lalu disodori beberapa lembar kertas ujian


agar aku mengisinya. Soalnya berisi pengetahuan dasar dan pengetahuan umum.


Pukul 11.00 aku baru selesai dan salah satu pihak


perusahaan yang telah menanyaiku nomer hand phone yang aktif agar sewaktu waktu


jika ada hasil interview keluar bisa sewaktu waktu dihubungi. Lalu bersama


pelamar yang lain aku keluar. Dan duduk duduk sejenak di ruang kantin di sana


untuk minum air mineral karena tenggorokan sangat haus sejak tadi pagi tidak


minum ditambah suasana tegang saat interview tadi.


Sambil minum aku membuka ponselku dan ada pesan dari


lagi? Aku tertegun sesaat dengan situasi seperti ini tak mungkin aku berterus


terang jika hari ini aku pergi melamar kerja. Pasti mereka akan menganggap jika


aku mau berhenti kuliah. Dan ini juga jadi pertanyaan dari Bapak Iwan salah


satu yang menginterview aku tadi jika aku masih kuliah bagaimana aku bisa


bekerja? Lalu kujawab aku akan pindah jam kuliah sore hari pulang kerja. Dan Bu


Rima juga bertanya antara pendidikan dan pekerjaan mana yang menjadi


prioritasku. Aku jawab pekerjaan bu. Kenapa? Tanya bu Rima. Dulu saat saya


tidak bekerja dan hanya kuliah prioritas hidup saya adalah pendidikan namun


setelah saya memutuskan untuk bekerja maka prioritas saya adalah pekerjaan.


Mereka hanya mengangguk anggukan kepala mereka.


Saat tengah asyik melamun dan mengingat ingat


interview tadi ada panggilan dari Bagas.


“Assalamu ‘Alaikum Fika, kamu sebenarnya dimana ini?

__ADS_1


Koq tidak membalas pesanku?”


“Waalaikum salam. Maaf, Gas aku sedang ada keperluan


jadi tidak sempat”


“Kalau aku boleh tahu kamu akan tetap kembali kuliah


kan?” Tanya Bagas to the point.


“Iya aku usahakan…” belum sempat bicara panjang


lebar Mas Ardi datang menghampiriku.


“Bagaimana interview kamu tadi? Lancer kan?”


“Oh iya nanti aku kabari lagi ini aku sedang sibuk.


Maaf” aku memutus panggilan.


“Alhamdulillah, mas aku harap sih lancar urusan


diterima dan tidaknya aku pasrahkan kepada Tuhan karena Dia yang maha


menentukan segalanya. Yang penting aku sudah berusaha.”


“Bagus… Bagus … kamu memang sepupuku yang penuh


dengan semangat dan optimism yang tinggi.” Lalu mas Ardi mendekatkan kea rah


telingaku dan berbisik “Aku sudah upayakan pada pak Cipto kalau kamu adalah


saudara sepupuku yang rajin dan cerdas. 80 % kamu akan diterima kerja” seringai


mas Ardi dengan penuh percaya diri.


“Semoga saja mas!”


“Oh iya kamu kan mahir bahasa inggris dan computer


kan?”


“Yah lumayan lah mas”


“Di sini nanti yang diminta adalah dua kemampuan


tadi. Makanya aku mereferensikan kamu” lalu mas Ardi menawarkan apa aku akan


makan apa? Mie ayam apa bakso? Lalu aku jawab bakso saja.


Usai makan mas Ardi yang membayarnya. Dan mengatakan


kalau habis ini aku boleh langsung pulang mungkin hasilnya akan keluar dalam


minggu depan agar aku siap siap saja. Dan kami berpisah mas Ardi kembali kerja

__ADS_1


sedang aku kembali pulang.


__ADS_2