Diary Fika

Diary Fika
Episode 8 PERPISAHAN DENGAN TEMAN SEKELAS


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak interview. Dan aku


masih tetap tidak masuk kuliah karena memang masih belum ada kepastian. Waktu tiga


hari ini aku gunakan untuk berlatih naik motor peninggalan almarhum Ayah. Supaya


ke depannya aku tidak harus naik angkutan umum lagi karena makan waktu yang


cukup lama. Meskipun awalnya dulu aku sudah belajar naik motor waktu SMA tapi


mash belum lancar. Kini tinggal melatih haluan dan berkendara di jalan raya. Kalau


ada kesempatan akan mengurus SIM C.


Dan hari ini aku menerima telepon panggilan dari Pt.


Panasonic Gobel yang memeberitahukan jika lamaran dan interviewku diterima dan besok


aku diharapkan hadir untuk menanda tangani kontrak kerja. Terima kasih ya Alloh


engkau mengabulkan semua doa doaku.


Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Dengan perasaan


cemas, gugup dan takut salah bercampur aduk jadi satu. Pukul 07.00 aku sudah


sampai di perusahaan aku dipersilahkan masuk ke ruang personalia untuk membaca


tugas dan menandatangani kontrak. Tigasku adalah menyusun laporan pengeluaran


perusahaan secara berkala, harian, mingguan dan bulanan serta laporan tahunan.


Aku ditempatkan di ruangan bersama 4 orang lainnya,


mereka adalah Erwin, 27 tahun masih single dengan wajah yang agak serius, Rony,


25 tahun sudah berpacaran dengan Rena yang juga teman satu tim denganku usianya


22 tahun mungkin juga seumuran denganku dan terakhir mbak Wati  usia 32 tahun sudah menikah dan punya 2 anak.


Mereka berempat menyambutku dengan welcome dan yang bertugas mengajariku adalah


Mbak Wati selaku ketua tim.


Pukul 16.00 pun tiba saatnya untuk pulang. Kami berlima


berpisah, dan pulang ke rumah masing masing. Sebelum pulang aku sempat bertemu


dengan Mas Ardi. Ia menanyakan bagaimana kerjaanku tadi apa ada kesulitan atau lancer.


Aku jawab dengan penuh percaya diri bahwa pekerjaannya lancer dan menyenangkan


teman dan senior turut membimbing dengan telaten.


“Baguslah kalau begitu, aku turut senang


mendengarnya.” Mas Ardi mengungkapkan kebahagiaannya. “Oh iya habis ini kamu


mau langsung pulang kan?”


“Eh … sebenarnya aku mau langsung ke kampus aku mau


izin ikut kuliah sore hari karena dulu aku ikut kuliah pagi sedangkan sekaranag


pagi aku harus bekerja, jadi agar aku tetap bisa kuliah aku harus ikut kuliah


yang sore hari”


“Ah iya… kamu memang sepupuku yang paling rajin dan

__ADS_1


semangat dalam belajar. Tapi apa kamu tidak capek jika masih harus kuliah


sepulang kerja?” Mas Ardi agak khawatir.


“Aku akan berusaha untuk tetap menjaga kesehatan,


Mas Ardi tenang saja!” kataku meyakinkan.


“Aku bangga dan percaya padamu” Kata Mas Ardi seraya


mengusap kepalaku. “Sebenarnya aku mau saja mengantarmu tapi aku masih ada


urusan jadi kamu nggak apa apa kan pulang sendiri?”


“Nggak apa apa mas, selama belum dapat panggilan aku


telah belajar naik motor tapi aku masih belum berani karena belum mengurus SIM.


Nanti kalau ada kesempatan aku akan mengurusnya”


“Kamu kan kerja sekarang, gimana kalau ngurus di


temanku memang agak mahal dari yang ngurus sendiri tapi kamu tidak usah ikut


ujian hanya langsung datang dan foto di Polres, bagaimana kamu tertarik?”


“Iya kedengarannya bagus itu, kalau ada informasi


lebih lanjut hubungi aku ya mas, kapan bisanya?”


“Ok nanti aku hubungi kamu, tapi kamu butuh izin


untuk antri ke POLRES”


“Iya juga, masa baru masuk sudah izin”


“Terima Kasih, Mas”


Kami berpisah. Aku berjalan ke jalan raya yang hanya


berjarak sekitar 100 meter dan mencari angkutan dnegan jurusan kota S.


Sesampainya di kampus, aku bertemu dengan Shinta,


Zilda, Bagas, Anto mereka langsung menyerbuku dengan setumpuk pertanyaan,


kemana saja aku selama ini? Bahkan Zilda dan Shinta tak segan segan memelukku


karena mereka rindu padaku.


“Aku kira kamu tak akan kembali kuliah lagi, Fik?”


Zilda teman seasramaku yang rumahnya di Surabaya, teman terdekatku setelah


Shinta “Aku jadi kesepian sekarang”


“Kan masih ada Shinta, Zil?” Bantahku.


“Shinta itu sibuk ngurusi pacarnya tu” elak Zilda


sambil metanya melirik pada Anto, karena memang mereka sudah pacaran.


“Iya, Fik apa kamu tidak kasihan sama calon pacar


kamu itu!” (sambil melirik pada Bagas), “Dia yang paling merana selama kamu


absen kuliah” Shinta ikut menggodaku.


“Apa sebaiknya kita kasih kesempatan mereka untuk

__ADS_1


saling ngobrol melepaskan rindu” Anto ikut memberi usul.


“Apaan sih kalian ini! Sebenarnya aku datang ini mau


izin untuk ganti kelas sore”


“Apa…???” Teriak mereka bersamaan. Dan aku mulai


bercerita keadaanku saat ini yang harus bekerja mereka menyimak dengan seksama.


“Ya, kita tak bisa kuliah bareng lagi donk!” kata


Bagas dengan nada sedih.


“Iya, Fika jadi nggak seru kalau kamu tidak ada”


Zilda pun menyesalkan.


“Ya harus bagaimana lagi teman, ini suatu pilihan


yang harus aku hadapi dan jalani, aku mohon dukungan dan doa kalian semoga aku


selalu kuat menjalani ini” mereka terharu dengan kata kataku dan tanpa terasa


kami berpelukan bersama seperti Teletubis. Jadi hari ini aku sengaja mengirim pesan


pada mereka untuk sepulang kuliah agar tidak langsung pulang tapi mereka ikut


kegiatan extra kurikuler kampus supaya bisa bertemu denganku sore ini.


Dan bersama Shinta, Zilda, sedang Bagas dan Anto


menunggu di luar mereka mengantarku ke ruang Dekan untuk meminta izin berganti kelas


dari kelas pagi ke kelas sore dengan alasan bekerja. Awalnya Pak Dekan agak


keberatan namun dengan alasan yang mendasar yakni karena orang tua sudah taka


da yang membiayai kuliahku.


“Sebenarnya kamu bisa kan mengajukan program


beasiswa dan Bidikmisi mengapa kamu harus bekerja?”


“Tapi di keluarga saya tinggal saya dan ibu jadi


tidak ada yang mencari nafkkah pak, kalau bukan saya memang siapa lagi?”


“Iya Bapak tahu, kalau memang seperti itu keadaannya


Bapak juga tak bisa mencegahnya yang penting kamu tetap bisa kuliah. Tapi kamu


tidak bisa ikut program besasiswa lagi seperti yang sebelumnya kamu dapat”


“Iya Pak, saya paham dan mengerti dan saya bisa


menerimanya. Terima kasih atas pengertiannya pak”


Setelah itu kami bertiga kelaur dari ruangan Pak


Dekan.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2