
Tiga hari telah berlalu sejak interview. Dan aku
masih tetap tidak masuk kuliah karena memang masih belum ada kepastian. Waktu tiga
hari ini aku gunakan untuk berlatih naik motor peninggalan almarhum Ayah. Supaya
ke depannya aku tidak harus naik angkutan umum lagi karena makan waktu yang
cukup lama. Meskipun awalnya dulu aku sudah belajar naik motor waktu SMA tapi
mash belum lancar. Kini tinggal melatih haluan dan berkendara di jalan raya. Kalau
ada kesempatan akan mengurus SIM C.
Dan hari ini aku menerima telepon panggilan dari Pt.
Panasonic Gobel yang memeberitahukan jika lamaran dan interviewku diterima dan besok
aku diharapkan hadir untuk menanda tangani kontrak kerja. Terima kasih ya Alloh
engkau mengabulkan semua doa doaku.
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Dengan perasaan
cemas, gugup dan takut salah bercampur aduk jadi satu. Pukul 07.00 aku sudah
sampai di perusahaan aku dipersilahkan masuk ke ruang personalia untuk membaca
tugas dan menandatangani kontrak. Tigasku adalah menyusun laporan pengeluaran
perusahaan secara berkala, harian, mingguan dan bulanan serta laporan tahunan.
Aku ditempatkan di ruangan bersama 4 orang lainnya,
mereka adalah Erwin, 27 tahun masih single dengan wajah yang agak serius, Rony,
25 tahun sudah berpacaran dengan Rena yang juga teman satu tim denganku usianya
22 tahun mungkin juga seumuran denganku dan terakhir mbak Wati usia 32 tahun sudah menikah dan punya 2 anak.
Mereka berempat menyambutku dengan welcome dan yang bertugas mengajariku adalah
Mbak Wati selaku ketua tim.
Pukul 16.00 pun tiba saatnya untuk pulang. Kami berlima
berpisah, dan pulang ke rumah masing masing. Sebelum pulang aku sempat bertemu
dengan Mas Ardi. Ia menanyakan bagaimana kerjaanku tadi apa ada kesulitan atau lancer.
Aku jawab dengan penuh percaya diri bahwa pekerjaannya lancer dan menyenangkan
teman dan senior turut membimbing dengan telaten.
“Baguslah kalau begitu, aku turut senang
mendengarnya.” Mas Ardi mengungkapkan kebahagiaannya. “Oh iya habis ini kamu
mau langsung pulang kan?”
“Eh … sebenarnya aku mau langsung ke kampus aku mau
izin ikut kuliah sore hari karena dulu aku ikut kuliah pagi sedangkan sekaranag
pagi aku harus bekerja, jadi agar aku tetap bisa kuliah aku harus ikut kuliah
yang sore hari”
“Ah iya… kamu memang sepupuku yang paling rajin dan
__ADS_1
semangat dalam belajar. Tapi apa kamu tidak capek jika masih harus kuliah
sepulang kerja?” Mas Ardi agak khawatir.
“Aku akan berusaha untuk tetap menjaga kesehatan,
Mas Ardi tenang saja!” kataku meyakinkan.
“Aku bangga dan percaya padamu” Kata Mas Ardi seraya
mengusap kepalaku. “Sebenarnya aku mau saja mengantarmu tapi aku masih ada
urusan jadi kamu nggak apa apa kan pulang sendiri?”
“Nggak apa apa mas, selama belum dapat panggilan aku
telah belajar naik motor tapi aku masih belum berani karena belum mengurus SIM.
Nanti kalau ada kesempatan aku akan mengurusnya”
“Kamu kan kerja sekarang, gimana kalau ngurus di
temanku memang agak mahal dari yang ngurus sendiri tapi kamu tidak usah ikut
ujian hanya langsung datang dan foto di Polres, bagaimana kamu tertarik?”
“Iya kedengarannya bagus itu, kalau ada informasi
lebih lanjut hubungi aku ya mas, kapan bisanya?”
“Ok nanti aku hubungi kamu, tapi kamu butuh izin
untuk antri ke POLRES”
“Iya juga, masa baru masuk sudah izin”
“Terima Kasih, Mas”
Kami berpisah. Aku berjalan ke jalan raya yang hanya
berjarak sekitar 100 meter dan mencari angkutan dnegan jurusan kota S.
Sesampainya di kampus, aku bertemu dengan Shinta,
Zilda, Bagas, Anto mereka langsung menyerbuku dengan setumpuk pertanyaan,
kemana saja aku selama ini? Bahkan Zilda dan Shinta tak segan segan memelukku
karena mereka rindu padaku.
“Aku kira kamu tak akan kembali kuliah lagi, Fik?”
Zilda teman seasramaku yang rumahnya di Surabaya, teman terdekatku setelah
Shinta “Aku jadi kesepian sekarang”
“Kan masih ada Shinta, Zil?” Bantahku.
“Shinta itu sibuk ngurusi pacarnya tu” elak Zilda
sambil metanya melirik pada Anto, karena memang mereka sudah pacaran.
“Iya, Fik apa kamu tidak kasihan sama calon pacar
kamu itu!” (sambil melirik pada Bagas), “Dia yang paling merana selama kamu
absen kuliah” Shinta ikut menggodaku.
“Apa sebaiknya kita kasih kesempatan mereka untuk
__ADS_1
saling ngobrol melepaskan rindu” Anto ikut memberi usul.
“Apaan sih kalian ini! Sebenarnya aku datang ini mau
izin untuk ganti kelas sore”
“Apa…???” Teriak mereka bersamaan. Dan aku mulai
bercerita keadaanku saat ini yang harus bekerja mereka menyimak dengan seksama.
“Ya, kita tak bisa kuliah bareng lagi donk!” kata
Bagas dengan nada sedih.
“Iya, Fika jadi nggak seru kalau kamu tidak ada”
Zilda pun menyesalkan.
“Ya harus bagaimana lagi teman, ini suatu pilihan
yang harus aku hadapi dan jalani, aku mohon dukungan dan doa kalian semoga aku
selalu kuat menjalani ini” mereka terharu dengan kata kataku dan tanpa terasa
kami berpelukan bersama seperti Teletubis. Jadi hari ini aku sengaja mengirim pesan
pada mereka untuk sepulang kuliah agar tidak langsung pulang tapi mereka ikut
kegiatan extra kurikuler kampus supaya bisa bertemu denganku sore ini.
Dan bersama Shinta, Zilda, sedang Bagas dan Anto
menunggu di luar mereka mengantarku ke ruang Dekan untuk meminta izin berganti kelas
dari kelas pagi ke kelas sore dengan alasan bekerja. Awalnya Pak Dekan agak
keberatan namun dengan alasan yang mendasar yakni karena orang tua sudah taka
da yang membiayai kuliahku.
“Sebenarnya kamu bisa kan mengajukan program
beasiswa dan Bidikmisi mengapa kamu harus bekerja?”
“Tapi di keluarga saya tinggal saya dan ibu jadi
tidak ada yang mencari nafkkah pak, kalau bukan saya memang siapa lagi?”
“Iya Bapak tahu, kalau memang seperti itu keadaannya
Bapak juga tak bisa mencegahnya yang penting kamu tetap bisa kuliah. Tapi kamu
tidak bisa ikut program besasiswa lagi seperti yang sebelumnya kamu dapat”
“Iya Pak, saya paham dan mengerti dan saya bisa
menerimanya. Terima kasih atas pengertiannya pak”
Setelah itu kami bertiga kelaur dari ruangan Pak
Dekan.
__ADS_1