Diary Fika

Diary Fika
Episode 9 SEBUAH CINCIN


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Dekan, Jam sudah menunjuk pukul 17.45 dan tak beberapa lama kemudian terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Seperti biasanya tanpa dikomando kami segera berhamburan menuju masjid, Anto dan Bagas menuju masjid bagian laki- laki sedang yang cewek menuju ke lantai atas, karena memang  masjidnya yang bagian perempuan berada di lantai dua. Usai menunaikan sholat maghrib, kami berlima menuju warung bakso favorit kami, tempatnya di depan kampus.


“Pak pesan bakso 5 mangkok, yang satu mangkok tanpa gorengan” ucap Bagas seakan hapal dengan seleraku.


“Minumnya apa Mas?”


“Saya jeruk hangat” seru Shinta


“Es jeruk” Zilda dan Anto menjawab bersamaan.


“Kamu apa, Fik?” Bagas bertanya padaku. Sedang teman teman yang lain hanya berdehem. “ Aheem…. “


“Air mineral saja” jawabku yang membuat mereka melongo.


“Hah, sejak kapan kamu jadi tidak suka minum juz alpukat ,Fik?” Zilda yang paling hapal minuman apa yang biasanya aku pesan.


“Iya lagi pengen yang seger aja” lama taka da suara dari kami berlima. Anto mencoba membuka suara.


“Jadi kamu akan pindah kelas sore ya, Fik?” aku hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Seketa mereka berubah suasana seakan sedih karena aku pindah kelas sore.


“Yah… jadi kita tidak sekelas lagi, dan tidak bisa bercanda bersama seperti saat sekarang ini lagi, donk Fik!” timpal Zilda sambil mendekat ke arahku dan dengan spontan memelukku dengan erat. Tanpa terasa air mataku


tertahan  di pelupuk mataku, entah kenapa aku sangat terharu akan kata kata Zilda barusan.


Dan sejurus kemudian Pak Shomad datang dengan mengantar 5 mangkuk bakso dan minuman yang sudah kami pesan. Kami segera menyantap bakso dengan segenap rasa yang berkecamuk di dada. Hening melanda kami berlima sambil menikmati bakso. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengatakan sesuatu.


“Kita memang tidak akan bersama sama setiap hari tapi hari Minggu kan kuliah pagi kita bersama, bahkan segala jurusan nah disana kita bisa bertemu untuk seru seruan”


“Iya, sih tapi frekuensinya jadi berkurang seminggu sekali” timpal Shinta.


“Tidak apa yang penting masih bisa ketemu” Anto ikut bersuara.

__ADS_1


“Itu akan membuat seseorang dilanda rindu menunggu datangnya hari Minggu” Zilda berkata sambil pandangannya ke arah Bagas.


Setelah semuanya selesai makan dan mengobrol mengenai kerjaanku dan apa yang aku lakukan selama tidak kuliah. Kami berlima saling berbagi cerita hingga tanpa terasa waktu telah bergulir jam 19.45.


“Wah gawat!!! Aku kemaleman, belum nyari angkutan umum”


“Kenapa kamu takut? Kan ada abang yang sanggup anterin pulang!” ledek Anto sambil melirik Bagas. Yang dilirik hanya senyum dengan jumawa. “Oh iya ini sudah malam lho da, say. Sebaiknya kalian kembali ke asrama, ayo aku antar!” ucap Anto yang berbicara kepada Zilda dan Shinta dengan sebutan say. Dan mereka berdua mengangguk lalu beranjak.


“Gas, aku balik dulu antar dua putri dewi ini, kamu juga naterin putri kamu dengan hati hati!”ucap Anto kepada Bagas dengan menepuk pundaknya. Kami pun berpisah dimana sebelumnya aku, Zilda dan Shinta saling


berpelukan dan berpamitan melepas kepergian.


“Hati- hati Fika, Bagas jangan terlalu ngebut ya!” Pesan Zilda.


***


Selama perjalanan, kami lebih banyak diam. Hingga Bagas berucap sesuatu sambil sedikit menoleh agar suaranya didengar oleh Fika.


“Apa kamu bisa menerima bantuan dariku, sehingga kamu tak perlu bekerja lagi? Tapi maaf sebelumnya bukan aku mau merendahkan kamu, tapi aku nggak tega lihat kamu mondar mandir kerja dan kuliah kayak gini!”


“Terima kasih seblumnya, tapi aku ingin bekerja ini sudah merupakan keinginanku dan bentuk tekadku bahwa aku memiliki kewajiban untuk mencari nafkah setelah Ayah tiada. Aku masih ingat dengan pesan beliau agar aku


menjadi gadis yang tangguh dan tidak cengeng. Aku dulu sempat mengira jika sikap beliau dulu sangat kejam dan tidak adil di mataku. Namun kini aku baru menyadarinya”


“Aku bangga padsa kamu, Fika aku ingin kamu tahu jika aku memiliki perasaan yang tulus sama kamu”


“Iya tapi aku minta maaf untuk saat ini aku ingin lebih fokus kerja dan kuliah dulu!”


“Iya aku akan selalu mendukungmu, dan berada di belakangmu”


Tak terasa perjalanan kami telah sampai di depan rumahku, aku mempersilahkan Bagas untuk mampir sebentar agar aku bisa buatkan minuman untuknya namun ia menolak dengan alasan sudah malam tidak enak dengan tetangga.

__ADS_1


“Fika, tolong diterima ini?”  ucap Bagas seraya mengulurkan sebuah kotak beludru kecil dan saat aku menerimanya ia menyuruhku untuk membukanya. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui isi kotak tersebut ternyata adalah sebuah cincin. Aku menutup kembali dan mengembalikannya.


“Tidak, Gas! Aku tak bisa menerimanya. Apa kamu bermaksud untuk melamarku?”


Bagas hanya tersenyum lalu menyerahkan kembali kotak tersebut ke arahku, “Bukan! Anggap saja ini sebuah hadiah dari seseorang yang mengagumimu dan berharap agar kamu tidak berpindah ke lain hati”


“Jadi cincin ini sebagi ikatan yang membatasi aku agar aku tidak dekat dengan laki laki lain”


“Ya bisa dianggap seperti itu, tapi kamu tidak usah merasa terbebani, sudah yah kamu simpan saja jika kamu tidak mau memakainya aku balik dulu sudah malam, titip salam pada Ibu ya, Wassalamu ‘Alaikum”


Setlah itu Bagas pun menstater motornya dan segera berlalu. Aku segera masuk ke dalam. Di dalam Ibu rupanya masih belum tidur.


“Kamu diantar siapa, Fik?”


“Bagas, bu!”


“Kamu dan Bagas memang ada hubungan apa? Sepertinya diantara teman kuliah kamu Cuma dia yang paling sering datang ke sini!”


“Ah masa sih bu!”


“Memang kamu tidak merasa kalau Bagas itu ada rasa suka sama kamu, Fik?”


“Entahlah bu aku masih belum kepikiran untuk pacaran, aku ingin menjalankan wasiat mendiang Ayah untuk tidak pacaran selama aku belajar dan aku akan berusaha menjalankan nasehat Ayah tersebut!”


“Tapi, kamu juga kan berhak untuk bahagia, dan kalau memang Bagas itu serius suka sama kamu kan kalian bisa pacaran sambil tetap kuliah”


“Bu… tapi untuk saat ini, mungkin seperti ini lebih baik jika aku hanya berteman saja dengan Bagas”


“Ya… sudah terserah kamu, kamu lebih tahu mana yang terbaik bagi dirimu!. Sekarang pergilah tidur besok kamu kan harus kerja!”


“Iya bu” aku segera masuk ke kamarku. Dan membuka kembali kotak beludru warna merah pemberian Bagas tadi. Apa yang diinginkan anak ini? Ia berusaha mengikatku dengan sebuah cincin. Aku bertanya dalam hatiku apa aku

__ADS_1


memilki perasaan terhadap Bagas? Apa aku sudah sepenuhnya melupakan Irfan, mantan pacarku saat SMA dulu? Entahlah akhirnya aku menghempaskan tubuhku di ranjang hingga mataku terpejam dan terlelap ke alam mimpi.



__ADS_2