Diary Fika

Diary Fika
Episode 5 PADAMNYA OBOR


__ADS_3

Setibanya di RSUD, dan setelah membayar ongkos taxi aku berlari kea rah bagian informasi menanyakan di mana ruang rawat Ayah dan tak berapa lama aku sampai di dean ruang ICU yang di sana telah ada Ibu dan Kakak Fina yang sedang gelisah menunggu ayah yang belum sadar dari komanya. Segera aku menghampiri Ibu dan kami saling berpelukan dan juga dengan kak Fina.


“Bagaimana kondisi Ayah, Bu?”


“Seperti yang kamu lihat Fik, masih belum sadar dari kemarin di bawa ke sini”


“Kenapa Ayah sampai pingsan?” Aku meminta penjelasan dari Ibu karena aku tak tahu menahu tentang kondisi Ayah, sejak aku berangkat kuliah dan tinggal di asrama aku tak tahu jika ayah sakit.


“Tekanan darah Ayah tinggi sudah setahun yang lalu memang kami tidak pernah mengatakan kepadamu supaya kamu lebih focus hanya pada study kamu” Ibu berusaha menjelaskan yang membuat aku tercengang tak pernah


menyangka jika Ayah mengalami keadaan seperti ini.


“Sejak kapan ayah dibawa kemari?”


“Kemarin malam, Fika. Kamu tadi tidaka ada kuliah kah?” Kak Fina ikut menanyaiku.


“Aku sudah minta izin pada dosenku”

__ADS_1


Menjelang malam aku masih setia menunggu di depan ruang ICU sedang Kak Fina sudah pulang karena dia punya keluarga dua anaknya,


Ana dan Fajar yang masih membutuhkan Ibunya di rumah. Tinggal aku dan Ibu yang masih setia menunggu dan beberapa kerabat dan tetangga yang menjenguk secara bergiliran.


Aku membaca surat Alquran di Musholla mendoakan kesehatan Ayah sedang ibu masih berada di depan ruang ICU. Dalam doaku aku menitihkan air mata memanjatkan doa agar Ayah segera membaik seerti sedia kala.


Menejelang fajar, ibu membangunkanku yang tertidur di kursi depan ruang tunggu ICU, Ibu bilang jika ayah drop dan menyuruh secara bergantian masuk ke ruang ICU untuk menemui secara langsung ayah bergantian


dengan Ibu tadi.


Aku melangkahkan kakiku masuk ke ruang ICU dengan baju khusus dan masker khusus. Namaak olehku ayah yang terbaring lemah dengan mata terpejam dan dengan napas yang berat aku merasa Ayah sedang berjuang


menyusruh kami keluar. Dan selang beberapa menit kemudian dokter menyatakan jika ayah sudah meninggal.


Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun… jadi tadi itulah saat terakhir ayah aku bersamanya aku melihat ayah yang sakarat maut. Air mata membanjiri kedua pelupuk mataku. Dan tanpa terasa tubuhku jadi sangat ringan tanpa bobot.


***

__ADS_1


Saat sadar aku telah berada di ruang rawat. Dan didampingi oleh Kak Fina dan kak Agung suaminya. Aku segera beranjak dan menanyakan bagaimana ayah apa sudah dimakamkan?


“Kamu pingsan karena sejak pagi belum makan dan kurang darah karena kurang isturahat beberapa hari sebelumnya yah?”


Aku mengangguk lalu kak Fina mengatakan jika aku sudah pingsan selama 1 jam dan kini jenazahnya akan diberangkatkan karena tadi menunggu proses. Segera kami pulang dengan naik mobil kaka gung karena Ibu ikut


berada di ambulance dan telah berangkat terlebih dahulu.


Setelah semua proses mengurus jenazah selesai segera jenazahnya di bawa ke kuburan. Aku Ibu dan Kak Fina hanya berada di rumah duka sambil membaca doa dan tahlil.


Setelah satu jam berlalu para pentakziyah kembali dari makam dan tampak olehku sosok yang taka sing yaitu cowok yang akhir akhir ini PDKT kepadaku, iya dialah Bagas kenapa bisa dia ada di sini bahkan ikut melawat ke kubur.


“Kamu tahu dari mana kalau ayahku…” tanyaku pada Bagas


“Aku yang memberi tahunya karena sejak kamu pingsan handphone mu bordering terus dan terpaksa Kakak angkat dan ternyata dia yang menghubungi kamu menanyakan kondisi kamu terpaksa kakak beritahu dan rupanya dia langsung datang ke sini ketika kamu masih di rumah sakit tadi” kak Fina menjelaskan panjang lebar sambil melirik ke arah Bagas. “Rupanya ini calon adik ipar yah!” Kak Fina mulai menggoda lagi sedangkan aku hanya manyun dan Bagas senyum senyum tak jelas dengan muka merona.


“Apaan sih… kak!” protesku.

__ADS_1


“Oh iya Fik sebentar lagi teman teman kita akan datang ke sini makanya aku berangkat duluan ke sini”.


Bersambung...


__ADS_2