Diary Fika

Diary Fika
Episode 6 BANGKIT KEMBALI


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, teman teman kuliahku terlihat datang ke rumah ku mereka adalah Shinta, Zilda, Erika Anto, Ryan dan Arif mereka semua adalah teman satu tongkrongan denganku setiap waktu istirahat atau ada jam kosong. Kadang kami pergi ke kantin atau warung depan kampus atau kami sekedar duduk duduk di kosan aku Shinta, dan Zilda sedang Erika rumahnya dekat dengan kampus jadi ia hanya butuh naik motor bisa sampai di kampus.


“Kami turut berduka sedalam dalamnya, Fika” Ucap Arif si ketua kelas kami yang juga mendapat julukan pak Ustad karena penampilannya yang agamis. Namun ia sering menjadi bahan omongan teman teman karena ia agak lugu dan sering memberi nasehat pada teman teman yang dirasa melakukan salah atau tidak mau mengerjakan tugas.


Arif memimin pembacaan doa dan tahlil untuk Ayah. Setelah baca doa kami ngobrol sebentar.


“Fika, kamu akan tetap kuliah kan?” Shinta mencoba mengawali percakapan.


“Insya Alloh, Shin. Tapi selama 7 hari ini aku tetap


di rumah. Mengenai kuliah aku masih belum tahu, mohon doanya saja”


“Wah, aku akan tidur sendiri, Fik kalau kamu pulang” Zilda teman sekamarku ikut menimpali. Kami bertiga saling berpelukan tanda saling berat melepaskan. Namun waktu jua yang harus memisahkan dan kami pun berpisah tak tahu apakah ini perpisahan sementara atau perpisahan untuk waktu yang lama.


Setelah semua teman teman pulang sepi melintasi diri menjelang malam, hanya tinggal aku, Ibu karena Kak Fina harus pulang besok ia masih harus pergi bekerja begitupun mas Agung dab anak mereka Ana dan Fajar juga harus tetap bersekolah.


Ibu memanggilku untuk berbincang di ruang keluarga. Aku sudah mengira apa yang akan disampaikan oleh ibu karena sekarang Ayah yang bertanggung jawab mencari nafkah keluarga telah tiada. Sedang ibu sejak muda tidak pernah bekerja karena fisik beliau tidak terlalu kuat, beliau terbiasa membantu menjaga Ana dan Fajar selama Kak Fina bekerja. Sedangkan kak Agung kerjanya keluar kota dan pulangnya juga tidak menentu. Dulu semasa Ayah masih hidup beliau sering menjemput Ana dan Fajar sepulang sekolah kini taka da lagi yang bisa melakukan semua itu.


Tak terasa menetes air mata di pipi mengenang almarhum yang telah menghadap ilahi.


“Fik, Ibu minta maaf jika setelah ini kamu mungkin tidak bisa tinggal di kost lagi karena ibu tak ada temannya di rumah. Jadi jika kamu masih mau kuliah kamu sebaiknya PP saja ya!” ucap ibu membuyarkan lamunanku dari mengenang ayah.

__ADS_1


“Iya bu…” jawabku singkat sambil berusaha menghapus air mataku, untung saja ibu tidak memperhatikanku. “Saya akan mencari kerja bu  setelah ini…”


“Maafkan Ibu, Ka. Seharusnya kamu tidak memikirkan tentang mencari nafkah, harusnya kamu itu hanya mikir tentang belajarmu, nak!” Ibu berucap sambil meneteskan air mata. Tak tega aku melihat Ibu yang sudah menjelang usia senjanya harus ditinggal Ayah sendiri.


“Ibu jangan bicara seperti itu!” Aku memeluk ibu kami berdua saling menangis. “Aku ikhlas dengan semua ini! Sudah seharusnya  seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya, dan sekarang Fika hanya punya ibu jadi sudah menjadi kewajiban Fika untuk menjaga dan melindungi Ibu” usai bicara kami saling masuk ke kamar masing


masing. Aku memeriksa ponselku tertera beberapa pesan dari Bagas, Zilda dan Mas Andra, saudara sepupuku.


“Semoga kamu tetap bisa sabar dalam menghadapi cobaan ini! Percayalah aka nada hikmah dibalik sebuah ujian” pesan dari Bagas.


“Fika, akankah kamu kembali 7 hari mendatang? Sekarang aku sudah kangen sama kamu, aku kangen bercanda, makan bareng kamu, ngantri mandi dengan kamu… kamu adalah teman baikku… aku hanya memeluk bantal


dan guling kamu sebagai ganti kamu mala mini” Pesan dari Zilda memang anak dari kota S ini sangat manja paling tak bisa tidur sendiri sejak di rumah.


***


Pukul 8 lebih 10 menit terdengar suara motor di halaman rumah dan aku yang sedang menyiram bunga melihat ke arah sosok yang melepas helmnya sketika aku letakkan selang dan mematikan kran setelah melihat Mas Andra yang melepas helmnya. Ia tambah tampan saja kulitnya kini bersih padahal seingatku dulu terkesan agak gelap dan kusam kini entah ia perawatan di salon mana sehingga kulitnya menjadi kinclong.


“Mas Andra, masuk yuk sarapan dulu di dalam!” ucapku mempersilahkan masuk dan sarapan sedang dari dalam mendengar aku menyapa ada tamu ibu pun keluar menghampiri kami.


“Nggak usah, Fika aku sudah sarapan di rumah tadi”

__ADS_1


“Ardi toh yang datang, kata ibu kamu kemarin kamu habis dari luar kota ya?” Ibu membuka percakapan.


“Iya, Bi aku baru saja dari Bandung” Mas Ardi menjawab


“Wah jauhnya mas! Memang kamu kerjanya di luar kota atau apa?” aku ikut menanyainya maklum kita memang jarang bertemu kalau hari raya itupun kalau ia tidak sedang ke luar kota.


“Nggak selalu Fik, memang kerjanya nggak nentu tergantung tempat proyeknya berlangsung pindah pindah lah. Kalau sudah selesai yah pindah lokasi”


“Memang kerjanya arsitek yah lumayan ya gajinya, Ardi” Ibu mulai menggoda keponakan dari suaminya tersebut.


“Alah bi, sama saja semakin besar pendapatan semakin besar pula pengeluaran juga!. Kamu sendiri gimana Fik sudah semester berapa kamu sekarang?”


“Semester 5” jawabku singkat.


“Kalau begitu kurang dua tahun lagi yah?” Mas Ardi mencoba menebak dan aku hanya menganggguk.


“Itulah Ardi… Fika sekarang ingin mencari kerja kalau kamu ada kebetulan info mengenai lowongan kerja kamu beritahu Fika” Ibu langsung menyampaikan maksud hati kepada Mas Ardi.


“Iya Fik sepertinya di PT Panasonic di PEER sedang membutuhkan tenaga produksi kemarin aku dapat info dari temanku kamu sebaiknya mencoba datang ke sana tapi aku tanya dulu pada temanku. Sebentar aku telepon dia dulu yah!”


Tak lama kemudian Mas Ardi sedang menelpon seseorang dan mereka terlihat serius berbicara di telepon. Tak lama kemudian Mas Ardi mengakhiri percakapaan di telepon.

__ADS_1


“Fika, besok kamu datang ke alamat ini” Mas Ardi menunjukkan ponselnya ke sebuah alamat perusahaan “Besok adalah hari terakhir lowongan ini tadi aku sudah menghubungi kenalanku yang juga kerja di sana. Semoga kamu beruntung” ucap Mas Ardi seraya mengusap kepalaku.


“Aamiin…” ucap aku dan Ibu bersamaan.


__ADS_2