Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Prolog — Bocah Menyebalkan


__ADS_3

"Tolong ya, Bu. Sebagai Tante yang baik, ajarkan pada Nabila agar dia menjadi anak yang baik, jujur saya sudah pusing dengan kelakuan ajaibnya. Jadi, untuk yang sekian kalinya saya minta tolong agar Nabila tidak membuat masalah lagi di sekolah."


"Saya malu–"


"Emang ibu aja yang pusing, saya juga pusing, Bu. Masalahnya ini anak bapaknya kerja terus dan minta saya ke sini. Saya itu cuma tetangganya. Ibu pikir gampang apa ngatur anak yang bukan anak saya?!"


"Belum lagi anaknya bandel naudzubillah, ibu pikir saya mau ke sini hah? Ibu jangan marah-marahin saya sembarangan, dong. Tugas guru kan juga mendidik di sekolah!" Balas Clara yang tak mau kalah sembari menggebrak meja Bu Rina karena emosi.


Bagaimana tidak emosi, tugas kuliahnya belum selesai, belum lagi dia baru putus cinta dan sekarang duda karatan di samping rumahnya itu lagi-lagi memintanya untuk datang ke sekolah putrinya?


Kurang menderita apalagi Clara, jelas dia mengamuk saat seseorang memakinya seperti itu. Jadi dari pada berlama-lama dia keluar dari ruangan itu dan menemui Nabila yang kini nampak cengar-cengir di hadapan ruang BK.


Oh Tuhan kenapa engkau harus mengirimkan bocah menyebalkan ini pada Clara. Kesabarannya setipis kertas, belum lagi Nabila yang selalu mengajaknya perang. Ingin rasanya Clara buang ke lautan agar di makan paus orca.


"Kenapa?!" Sungut Clara.


"Tante jangan marah-marah terus dong, udah jomblo, pemarah lagi. Emang Tante gak malu ya marahin anak kelas 5 SD di sekolah? Tante mau diviralin? Seorang Tante memarahi anak lucu dan manis di sekolahnya sendiri, sungguh tidak berperasaan. 1 like \= Pahala," ucap Nabila.


Nahkan ada lagi kan jawabannya yang membuat Clara naik darah. "Tante gak mau tau ya, kalau sekali lagi kamu buat masalah, urusin sendiri!"


Tanpa berkata apa-apa lagi Clara meninggalkan Nabila yang kini malah mengejarnya. Mencoba membujuknya agar tidak marah. Sebenarnya Nabila ini manis loh, tapi entah kenapa kelakuannya di luar nalar.


Minggu ini saja dia sudah membuat 3 masalah. Pertama menyontek di kelas, kedua mengerjai guru yang sedang mengajar dan sekarang dia memukul anak orang dengan sapu sampai benjol.


Serius kalau Clara setiap hari mengurusi Nabila, dia bisa penuaan dini, hipertensi, jantungan, bahkan kemungkinan dia mati muda.


"Tan, jangan marah, dong?" Kali ini Nabila berdiri di hadapan Clara dengan tatapan memelas. Membuat Clara harus menghela napasnya beberapa kali.


Kali ini Clara marah besar, dia sedang tidak mood kalau bocah ini mengajaknya perang argumen. Dia tidak akan bisa.


"Kenapa sih kamu buat masalah terus, Bil? Bisa gak kamu jadi anak yang biasa aja gitu, nurut sama gurunya dan gak buat macem-macem? Kamu ini kenapa loh, maunya apa?" Kali ini Clara bertanya pelan mencoba menangkan dirinya sendiri, dia ini anak psikologi akan keterlaluan kalau dia langsung menghakimi anak yang ada di hadapannya ini meskipun sangat ingin.


"Aku mau punya Mama yang bisa peduli sama aku, aku mau papa tanya kabar aku dan bicara sama aku."


"Kamu tinggal bilang papamu, bilang kalau kamu mau punya Mama, bilang papamu biar gak kerja terus, mudah, kan? Jangan kaya gini."


"Aku maunya Tante Clara yang jadi Mamaku!"

__ADS_1


Degh ...


Apa-apaan ini? Seketika Clara terdiam mendengar ucapan Nabila beberapa detik yang lalu.


.


.


.


Sesampainya di rumah Clara langsung merebahkan diri. Pada kenyataannya kalimat terakhir yang Nabila lontarkan itu sukses membuatnya kepikiran.


Meskipun itu kalimat yang diucapkan anak SD tapi Clara dapat melihat kesungguhan dalam matanya. Nabila sangat menginginkannya untuk menjadi ibu sambung.


Namun seketika Clara menggelengkan kepalanya. "Apasih, Clara! Itu cuma akal-akalan Nabila aja kali. Ngapain juga lo perduli. Udah bapaknya kaku banget, nyebelin, anaknya juga nyebelin. Yang ada lo bisa hipertensi!"


"TANTE CLARAAAAA!!!" Teriak bocah kematian itu dari luar. Ya ampun baru juga Clara merebahkan dirinya loh, sudah muncul lagi bocah itu.


"TANTE SOMBONG AMAT, BUKA KEKK!" Nabila menggedor pintu kamar Clara dengan bar-bar.


Clara yakin nih kalau Ibunya ini pasti yang mengizinkan Nabila menemuinya, padahal tadi Clara sudah menitipkan pesan kalau dia tidak mau diganggu.


Dengan terpaksa Clara bangkit dari kasurnya dan membuka pintu sembari bersidekap dada. "Apalagi?!"


"Dih marah-marah terus orang tua, Tante mau penuaan dini dan akhirnya jadi perawan tua?" Tanyanya asal.


"Gimana tante gak marah-marah kalau ngadepin bocil kematian kaya kamu hah? Ngapain lagi sih, Tante mau belajar!" Kesal Clara.


"Tante gak mau belajar mencintai papanya Nabila gitu?" Tanya Nabila.


"Allahu kamu ini masih kelas 5, masih bau bawang udah mikirin cinta-cintaan. Udah ah jangan ganggu tante!"


Clara hendak membukakan pintunya namun dengan santainya Nabila menahan dan berhasil masuk ke dalam kamar Clara lalu membantingkan dirinya di kasur empuk itu.


"Nabilaa!"


"Apasih, Tan kalau mau belajar ya belajar aja orang aku gak ganggu kok."

__ADS_1


"Belum, tapi nanti pasti kamu ganggu tante!"


"Suudzon, ya Allah sesungguhnya engkau maha mengetahui segalanya kalau Nabila gak mau ganggu tante Clara. Nabila anak baik ini didzolimi ya Allah," ucapnya dramatis.


Clara menghela napasnya, serius deh kalau Nabila ini bukan anak orang lain sudah dia jual ke pasar ikan. Dramatis sekali, menyebalkan, ini beneran deh Clara hipertensi, kepalanya pusing sekali.


Jadi daripada meladeni Clara dia memilih untuk duduk di meja belajarnya dan membuka laptop. Sebagai mahasiswa semester 6 dia harus rajin agar dia bisa lulus dengan cepat.


Nabila nampak berkeliling kamar ini, sesekali Clara melirik kelakuan bocah itu. Tapi ya sudahlah lagi pula tidak ada yang perlu dia sembunyikan juga.


Nabila membuka album photo yang Clara tata dengan baik. Sesekali dia tersenyum saat melihat keakraban Clara dengan teman-temannya. "Aku gak punya temen di sekolah."


Clara masih terdiam lalu menarik napasnya dalam. "Berteman lah."


"Gak ada yang mau temenan sama aku," ucapnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Clara sembari melanjutkan tugasnya tanpa berpaling sedikit pun.


"Katanya kalau anak yang gak punya mama itu anak nakal. Mereka bilang aku bodoh juga, tapi aku gak bodoh loh tante. Aku cuma gak suka belajar aja," ucapnya.


Clara terdiam, kalau kalian bertanya di mana ibunya Nabila. Clara tidak tau, tapi yang dia tau Clara memang sejak kecil hidup bersama ayahnya. Mereka baru pindah ke sini satu tahun yang lalu.


Kasian sih, dia sering jadi bahan bully, dia tidak pintar juga karena mungkin memang dia jarang ada waktu bersama ayahnya meskipun ayahnya ini sering meluangkan waktu. Dia pasti memang membutuhkan sosok ibu. Tapi kalau dia menginginkan Clara tidak deh. Masa iya dia menikah dengan duda dan langsung memiliki anak.


Lagi pula untuk tawaran menjadi ibunya itu kan yang akan menjalani hubungan ayahnya lah, masa iya Nabila yang melamar. Ibaratnya itu tidak mungkin juga dia menanggapi ocehan anak kecil.


"Tante."


"Apa?"


"Ini pacar tante?" Tanya Nabila sembari membuka album photonya bersama Darren– Mantannya.


"Kenapa? Ganteng ya?"


"Biasa aja, siapa sih ini?" Tanyanya dengan nada tak suka.


"Mantan."

__ADS_1


Setelah itu Nabila tersenyum puas entah apa yang dia pikirkan. Tapi yang jelas Clara tak mengindahkannya. Untuk apa juga meladeni anak kecil di saat sedang tugas seperti ini.


Belum lagi Nabila itu anaknya banyak tanya. Bisa-bisa tugasnya tidak akan selesai sampai lebaran haji karena harus bertengkar dengan bocah yang satu ini.


__ADS_2