Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Duda Gila!


__ADS_3

Sudah ada 6 jam lebih Clara mengerjakan tugasnya. Tubuhnya ini rasanya remuk karena berjam-jam duduk di depan layar begini. Bisa-bisa juga minus matanya itu semakin besar. Apalagi ini sudah malam. Dia belum makan malam.


Tapi sudah menjadi resiko juga sebagai mahasiswa semester akhir begini. Jadi mau tidak mau dia juga harus melewati prosesnya. Diliriknya Nabila yang sudah tertidur di kasurnya.


"Yaampun anak ini, gimana caranya gue bawa pulang ini bocah ya?"


Clara sedikit merenggangkan otot-ototnya. Apa dia bangunkan saja ya? Tapi tidak tega juga apalagi Nabila pulas sekali tidurnya. Ahh merepotkan saja bocah ini.


Tok ... Tok ... Tok


Pintu kamar Clara diketuk seseorang. Dengan segera dia beranjak dari tempat duduk dan berteriak. "Bentar!"


Membuat ketukan itu berhenti, saat Clara membuka pintunya ternyata itu adalah Galen–Ayahnya Nabila. "Pak Galen."


Dia nampak menganggukkan kepalanya pelan. "Maaf sudah merepotkan kamu lagi hari ini."


Clara terdiam, dia tidak tau juga harus membalas apa. Sejujurnya dia kesal, tapi jika sudah berada di hadapan orangnya dia tidak bisa kesal.


"Apa kesalahan Nabila kali ini?" Tanya Galen.


"Mukul anak orang sampe benjol," singkatnya.


Galen menghela napasnya, apalagi yang Nabila perbuat hari ini. Sudah dipastikan besok dia harus datang ke sekolah dan meminta maaf secara langsung kepada orang tua anak yang disakiti oleh putri semata wayangnya.


"Baik, akan saya urus. Nabila mana?"


Clara melirik ke arah Nabila dan menunjuknya dengan dagu. "Tuh."


"Kalau begitu saya izin membawa Nabila pulang, boleh saya masuk?"


Clara mengangguk, baguslah kalau bocah itu di jemput bapaknya. Jadi dia tidak usah repot-repot mengantarkan Nabila pulang ke rumahnya. Nabila ini sedikit berisi masalahnya. Memang tidak gendut tapi ya berat.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Clara, Galen pun masuk ke dalam kamar untuk menggendong putrinya, setelah itu dia kembali keluar kamar seraya menatap ke arah Clara. "Terima kasih karena mau mengurusi Clara hari ini."


"Iya sama-sama, Pak. Boleh saya bilang sesuatu?"


"Ya?"


"Sering-sering ajak Nabila bicara, dia butuh sosok ayahnya di rumah. Itu kenapa dia cari perhatian di luar."


Mendengar itu jujur Galen tertohok. Dia sadar sih selama ini terlalu sibuk bekerja dan jarang mengajak Nabila untuk Quality Time. Mungkin perkataan Clara akan dia pertimbangkan. "Akan saya usahakan, kalau begitu saya pamit."


Clara mengangguk, setelah Galen menuruni anak tangga, Clara pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Namun, saat masuk ke dalam Clara malah terdiam dan menyandarkan dirinya di pintu.


Kenapa dia merasa jadi ibu sambungnya Nabila sih. Kenapa juga dia jadi membayangkan kalau dia dan Galen adalah sepasang orang tua yang sedang mendiskusikan anaknya? Geli sekali.


Memang sih harus dia akui kalau meski tua begitu Galen masih terlihat muda dan tampan. Belum lagi tubuh atletis, berkharisma dan mapan pastinya. Secara dia CEO perusahaan besar di kota ini. Tapi ya tetap saja.


"Kenapa lo jadi mikirin ini sih, Clar. Nabila itu bicara kaya gitu karena ngawur aja. Adanya lo buat dia jadiin tempat caper. Kenapa juga dipikirin. Ini pasti karena efek putus. Oke, oke lo tenang tarik napas ... Buang. Lo itu Sagitarius, lo pasti bisa move on, apaan cowok kaya begituan banyak kali!"


.


.


.


Kebetulan di bawah sedang makan malam, Tadi – Ibunya Clara menatap wajah anaknya yang sedang murung tapi sambil menguyah makanannya. "Mukamu itu loh kenapa ditekuk terus?"


"Sebel sama Nabila," jawab Clara to the point.


"Namanya juga anak kecil, wajar dong mereka nakal, Clar. Apalagi Nabila itu tidak punya ibu. Dia pasti mencari banyak perhatian dari orang banyak makanya dia begitu," jelas Tari.


"Apalagi bapaknya sibuk," tambah Fahri–ayahnya.

__ADS_1


"Tau, tapi ah udahlah aku pusing! Lagian kenapa juga Pak Galen gak cari istri aja? Nabila itu butuhnya Ibu, biar dia gak begitu lagi," ucap Clara.


"Memangnya kamu pikir menikah itu gampang? Tidak semudah itu apalagi ada anak di tengah mereka. Harus mencari yang pas juga untuk Nabila dan terkadang itu susah."


Benar sih, tapi apa jadinya kalau orang tuanya tau Nabila ingin Clara menjadi ibunya. Tidak deh tidak, lebih baik dia lupakan saja ocehan dari anak kecil itu. Dia juga memikirkan apa dulunya Galen ini menikah muda ya? Kalau di lihat dari umurnya ya begitu. Pasti dia membutuhkan sosok wanita, jelas lah. Aneh sekali makanya dia tidak memilih untuk menikah.


Tapi bukannya kalau dicoba pasti bisa ya? Maksudnya kalau Galen mau dia bisa mencoba mencari wanita yang bisa memahami Nabila, secara dia pengusaha kaya raya, pasti banyak lah pilihannya. Heran kenapa selama 10 tahun ini dia memilih menduda.


Apa dia pemain wanita di club' malam ya? Secara kan kalau pria dewasa tidak mungkin kan tidak haus belaian. Loh kenapa Clara jadi memikirkan Galen ya? Otaknya aneh, sudah sangat aneh!


Pada akhirnya setelah selesai makan Clara kembali ke kamarnya, lebih tepatnya dia ke balkon kamarnya untuk penyegaran. Rasanya baru kemarin dia masuk kuliah, sekarang sudah semester 6 saja.


Sebentar lagi skripsi dan masih ada beberapa tahap yang harus dia lewati berikutnya untuk menggapai apa yang selama ini dia. Namun matanya tiba-tiba terpaku pada kejadian yang ada di bawah sana.


Fyi, rumah Nabilla dan Clara itu berdampingan sehingga apa yang terjadi di bawah sana bisa terlihat jelas dari balkon kamar ini. Terlihat Galen di sana sedang berciuman dengan seorang wanita.


Mereka mesra sekali, membuat Clara bergidik ngeri. "Astagfirullah mata gue! Nahkan udah gue duga kalau itu duda karatan itu gak mungkin lurus-lurus aja. Bisa-bisanya ciuman gak tau tempat."


Tunggu, tapi kan itu rumahnya, ya kalau Clara merasa risih, salah sendiri kan dia melihatnya dari atas sini. Bahkan bukannya mengalihkan pandangannya, Clara sekarang malah semakin mendekat ke arah pagar penyangga dan melihatnya lebih dekat.


"Gila, giliran urusan anak aja sibuk kerja. Giliran cewek gak dimana-mana langsung di sikat. Di luar rumah lagi. Yang elite kek di kamar gitu, idih geli banget duda," cibirnya.


Mungkin ada sekitar 5 menit mereka dalam posisi itu sampai akhirnya mata Galen kini tertuju pada Clara yang mengintip dari atas sana. Nah loh, Clara yang menyadari itu membulatkan matanya. Langsung saja dia berlari masuk ke kamar karena panik. Sementara Galen hanya tersenyum melihat kelakuan abstrak Clara dari bawah sana tanpa Clara ketahui.


"Aduh kenapa pake ketauan segala sih?!! Lagian lo ngapain kepo segala sih, Clar?!" Rutuk Clara pada dirinya sendiri.


Seketika otaknya jadi kemana-mana, secara selama ini meskipun Clara gonta-ganti pasangan tapi dia pacaran di batas wajar. Ya paling sesekali pegangan tangan dan pelukan, itu pun tidak berlebihan dan sekarang dia disuguhi pemandangan seperti yang ada di dalam drama Korea?


Wajar saja kan wanita beranjak dewasa sepertinya penasaran dengan hal-hal yang masih tabu di dalam pikirannya. Namun tetap saja salah. "Lo lupain, jangan inget-inget lagi! Tapi kebayang gak sih kalau lo dicium begitu sama cowok, Clar?" Gumamnya.


"AAAAA DASAR DUDA GILA, TUKANG BERBUAT ASUSILA!"

__ADS_1


__ADS_2