Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Si Paling Meresahkan


__ADS_3

Clara menutup pintu kamarnya rapat-rapat, sejenak dia mengingat kembali apa yang terjadi 2500 detik yang lalu saat Galen mencium bibirnya dengan lembut.


Perlahan dia memegang bibirnya, rasanya bagaimana ya. Gemetar, senang, apalagi merasakan bibir tebal yang lembab dengan aroma mint, membuatnya Clara merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Aaaaaaaaa first kiss gue diambil duda!! Gak relaaaa!!"


Clara menjatuhkan dirinya dan menghentak-hentakan kakinya di lantai seperti anak kecil yang merengek karena tidak mendapat mainan. "Dasar duda gila, mesum, bisa-bisanya gak sopan ambil first gue yang harusnya buat Jin Chang Wook! Dasar manusia paling nyebelin!! Aaaaaaaa."


"Gila ya itu pak tua, pacar gue aja gak ada yang berani cium gue kaya gitu!"


"Terus kenapa tadi gue malah Nerima gitu aja?! Kenapa gue kaya gak bisa nolak?! Lo udah gila beneran, Clara!" Clara berusaha mewaraskan dirinya tapi ciuman itu terbayang-bayang diingatkannya. Dia terus memutar kejadian beberapa menit lalu yang membuatnya seperti merasakan nirwana.


Tapi di satu sisi Clara nampak frustrasi dengan kelakuan Galen. Sudah anaknya meresahkan, kini bapaknya juga meresahkan. Bisa tidak sih kalau dia pindah saja dari sini?! Sayangnya tidak bisa, mereka hanya memiliki warisan dan hanya rumah ini saja.


Bukannya apa-apa, dia masalahnya jadi kepikiran. Kenapa Galen menciumnya, bukankah kalau mencium seseorang pertandanya dia menyukai orang tersebut?  Clara penasaran saja, kenapa Galen bersikap begitu manis padanya.


Pertama saat di kampus, tapi itu wajar sih karena mereka kan akting, tapi saat di restoran dan tadi? Ahh kenapa juga sih Clara jadi kepikiran, begini nih Clara. Dia itu mudah jatuh hati, tapi mudah bosan juga. Jadi jangan heran kalau dia ginta ganti pasangan.


Namun kali ini perasaannya aneh, apa efek dari ciuman memabukkan Galen ya? Harus dia akui kalau Galen itu dominan dan dia suka dengan yang seperti itu.


Untuk orang yang baru pertama kali merasakannya, jujur Clara langsung menyukainya. Dia seperti mau lagi – Mau lagi? Ralat, tidak. Tidak mungkin dia mau lagi. Pasti ini karena efek first kissnya di ambil.


"Eh tapi ciuman enak juga, gue kan udah grand opening? Berarti kalau gue pacaran lagi boleh ciuman dong?" Clara menutup mulutnya dengan ujung jari-jarinya.


Nahkan semakin ngaco nih pikiran Clara, dia berciuman saja seharusnya tidak boleh ini ada acara grand opening segala. Memang susah ya berurusan dengan hot duda. Pikirannya jadi kemana-mana.


"Kalau kaya gini kayanya gue gak bisa deh ikut ke acara pesta itu, mau ditarik di mana muka gue? Mana gue tadi kaya nikmatin banget lagi. Tapi emang iya, sih."


Clara bangkit lalu merebahkan dirinya di kasur. "Gimana ya caranya gue batalin acara besok?"

__ADS_1


"Apa gue pura-pura ketiduran aja? Atau mendadak kerkom? Tapi masalahnya dia udah nolongin gue, tapinya lagi lo mau terjebak berapa lama sama duda karatan itu sih? Bisa kacau kalau berurusan sama orang tua."


Karena menurut Clara kalau sudah sampai tahap orang tua tapi bercanda itu namanya kelewatan, membohongi orang tua sendiri demi kenyamanan. Dia tidak mau membuat orang memiliki harapan, secara tidak langsung orang tua Galen akan menumbuhkan harapan pada Clara kan? Ya itu kalau dia tidak dihujat atau direndahkan ya nanti di sana.


Clara menghela napasnya panjang. "Haduhh, ribet banget sih jadi lo, Clara. Banyak drama sih, makanya hidup lo berubah jadi banyak drama begitu.


.


.


.


Malam harinya, Clara sibuk mengerjakan tugasnya. Namun tiba-tiba pintu diketuk dan ternyata itu adalah ibunya. Beliau bilang kalau di bawah ada Galen. Mendengar itu malas sekali Clara.


Dia masih malu dengan kejadian tadi. Rasanya dia tidak ada muka lagi untuk berhadapan dengan Galen. Tapi Clara bukan anak kurang ajar yang lupa sopan santun kok, jadi mau tidak mau dia harus menemui Galen di bawah.


Galen yang berwajah datar itu biasa saja, dia malah berjalan ke sofa dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Melihat itu Clara langsung menghampirinya. "Kenapa? Saya banyak tugas, Pak."


Galen mengulurkan paper bag itu pada Clara. "Coba gaun ini dan gaun yang tadi saya berikan. Saya ingin melihat kamu lebih pantas menggunakan uang mana."


Clara mengernyit, sungguh Galen datang karena itu? Oh tolonglah, dia tidak ingin datang ke acara pesta itu, kenapa dia seserius ini ternyata? Apa dia tidak malu ya membawa daun muda sepertinya?


Merasa tak mendapatkan jawaban dari Clara, Galen menghampirinya. "Kenapa, terpesona?"


"DIHH, bapak kok bisa gitu ya GR gitu?!" Sungut Clara.


"Kamu menatap saya seperti itu, Clara. Saya sedang bicara tapi kamu menatap kagum, mau buat saya jatuh cinta ya?" Tanyanya seraya mendekatkan wajah pada Clara.

__ADS_1


Shiitt! Clara mengumpat dalam hati. Kenapa duda yang satu ini semakin memporak-porandakan perasaannya ya hari ini. Tanpa berlama-lama Clara mengambil paper bag itu. "Jangan ngaco!"


Melihat itu Galen tertawa, lucu sekali ternyata mengerjai Clara seperti ini. Baru kali ini loh dia nyaman berinteraksi dengan wanita seperti ini. Dulu dia tidak pernah merasakan sebuah euforia mencintai seseorang dengan perasan seperti ini. Termasuk pada Renatta–Mantannya.


Sebuah permainan licik membuatnya harus menikah dengan Renatta, membuatnya terpaksa menikah dan melewati beberapa fase dalam kehidupan remaja menuju dewasanya. Tapi tunggu, jatuh cinta pada Clara? Bukan sepertinya  Dia hanya tertarik saja sejauh ini.


Di sisi lain, Clara membuka kedua kotak itu. Terlihat ada dua gaun yang berbeda, yang satu berwarna dongker dan yang satu lagi berwarna hitam. "Ini apa gak kemahalan ya? Gue yakin ini harganya 2 bulan uang jajan gue."


"Emang orang kaya sukanya ngabisin duit, padahal asuransi anak tuh urusin! Malah beliin gue kaya beginian. Heran banget."


Ya bagaimana ya, ini masih tabu sekali dalam list kehidupan Clara, jadi dia merasa kalau semua ini berlebihan. Tapi ya dia senang juga, memang siapa coba yang tidak senang diberikan barang mahal? Belum lagi Galen memberikannya sepaket, lengkap dengan sepatu dan Tas.


Terlalu banyak berpikir! Dia memutuskan untuk memakai gaun berwarna hitam itu dan keluar dari kamarnya. "Pak."


Galen yang sedang fokus pada layarnya kini menatap ke arah Clara dan tersenyum simpul. Perlahan dia mendekat ke arah Clara dengan membawa sebuah kotak yang lumayan besar entah apa. "Sudah saya duga lebih bagus yang hitam. Kamu pakai ini saja."


"Banyak mau, apalagi?!"


"Kamu ini galak sekali, Clara. Padahal saat berciuman kamu mendadak menjadi paling diam," godanya.


Clara membulatkan matanya, bisa-bisanya loh Galen berbicara tidak sopan begitu?! "Pak!! Ini di rumah saya, kalau orang tua saya denger gimana?!"


"Paling saya disuruh menikahi anaknya."


Enteng sekali pria itu bicara menikah-menikah. Benar-benar duda ini seperti butuh kasih sayang sekali. Geli Clara dengan semua ini. Tapi berbeda dengan Galen yang kini malah membuka kotak itu dan memasangkan sebuah kalung berlian kepada Clara dari belakang. "Besok pakai ini."


Jujur saja suara Galen dan hembusan napas di dekat lehernya membuat Clara sedikit meremang. Apalagi yang dia pakai ini sebuah kalung berlian keluaran terbaru. Aduh makin gemetar saja. Kenapa dia merasa menjadi sugar baby?! Galen Mahardika meresahkan sekali!

__ADS_1


__ADS_2