Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Grogi


__ADS_3

Galen tak bisa menampik kalau wanita yang dibawanya kali ini sangat cantik, meskipun ya auranya sangat tidak bersahabat, tapi tidak apa lah. Karena yang terpenting sekarang adalah, dia bisa lepas dari pertanyaan orang tuanya mengenai calon istri.


Galen dan Nabila nampak senang saat Clara mengikuti mereka dari belakang untuk masuk ke mobil, sepertinya satu-satunya orang yang tidak merasa nyaman adalah Clara. Serius, meskipun ini hanya pura-pura tapi dia seperti benar akan bertemu calon mertua.


Perlahan Galen membukakan pintu belakang untuk putrinya, setelah itu dia membukakan pintu depan untuk Clara, membuat Clara memajukan bibirnya.


"Masuk."


"Gak bisa di belakang aja ya, Pak?" Tanya Clara.


"Memang kamu pikir saya supir?" Tanya Galen berbalik.


Ah sudahlah, malas kalau diperpanjang. Akhirnya Clara memasuki mobil milik Galen dan tak lupa memasangkan seatbelnya agar aman. Setelah dirasa siap, Galen ikut masuk ke dalam lalu melajukan mobilnya.


Hening, tidak ada percakapan di sana. Namun di belakang sana Nabila senyum-senyum sendiri karena melihatnya seperti berada di tengah-tengah keluarga harmonis. Nah ini yang Nabila inginkan, tidak hanya bersama ayahnya saja.


Clara menoleh ke belakang saat mendengar kekehan kecil dari Nabila. "Kamu kenapa sih, Bil? Kesambet?"


Nabila menggeleng sambil tetap cengegesan, membuat Clara menghela napasnya. Entahlah apa yang ada dipikiran bocah itu. Malas jiga kalau berdebat dengan Nabila.


"Sayang, di sana jangan ajak tante Claranya berantem ya. Bisa terlihat akur hm?" Tanya Galen.


"Siapp papa boss, nanti Nabila akan menjadi anak paling manis buat Papa Galen dan Mama Clara," ucap Nabila antusias.


"Bil ... " Panggil Clara pelan, bagaimana tidam begitu. Nabila menyebutnya Mama, sangat aneh di pendengarannya.


"Apasih Tante Clara, salting ya karena dipanggil mama? Iya dong apalagi anaknya cantik seperti aku," kata. Nabila dengan penuh percaya diri.


"Mimpi buru seburuk buruknya," balas Clara.


"Dihhh, Tante harus tau ya. Tante itu beruntung karena Nabila langsung pilih Tante jadi calon mama Nabila. Tante tau tukang sayur yang suka lewat? Bu rt, ibu ibu pkk di perumahan kita itu? Mereka tuh berlomba-lomba daftar jadi mama Nabila. Kurang manis apa lagi coba Nabila tetep milih tante? Harusnya tante terharu." Nabila menjelaskan dengan sangat bangga, tapi mendengar itu semua malah membuat Clara memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Terharu," ledeknya.


"Nyebelin banget sih, Tante!" Nabila memajukan bibirnya sok marah, begitu juga dengan Clara yang kini bersidekap dada dan memfokuskan matanya ke arah jalanan. Membuat Galen sedikit melengkungkan senyumnya melihat tingkah mereka berdua.


Tapi kalau dipikir-pikir lucu juga kalau Clara menjadi istrinya. Untuk ukuran Galen yang sudah dewasa, jatuh cinta itu nomor kesekian sebenarnya. Dia bisa saja jatuh cinta kalau dia mau, tapi ada yang membuat Nabila sangatlah jarang.


Itu kenapa selain dia tidak mau menjalin hubungan wanita, Galen masih berpikir ulang untuk menikah lagi karena Nabila selalu tidak cocok dengan wanita-wanita yang ada di sekitarnya. Baru Clara yang disetujui sampai sebegininya.


.


.


.


Tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di sebuah rumah mewah yang sudah ramai dengan banyaknya mobil mewah yang terparkir di sana.


Sepertinya Galen ini memang sudah kaya dari dia dalam kandungan. Clara sampai dibuat takjub sih melihat rumah yang sebegini luasnya.


Mendengar instruksi itu Clara mengangguk dan melepaskan seatbelnya. Setelah pintu dibukakan oleh Galen barulah dia keluar dan merapikan sedikit penampilannya. Sekilas Clara melirik Nabila yang kini sudah menarik-narik tangannya. Sementara Galen mengambil sesuatu di bagasi belakang. "Kenapa, Nabila?"


"Kalau di depan Oma sama Opa panggilnya Sayang dong, Tante. Biar keliatan kalau tante sayang sama aku, biar dibolehin jadi mama Nabila," pinta Nabila.


"Gamau banyak mau. Gini aja kenapa sih, Bil."


Namun Nabila tidak menyerah, dia terus membujuk Clara dan Clara tetap teguh pada pendiriannya untuk biasa saja. Bagi Nabila ini sepele, tapi tidak bagi Clara. Mereka sudah salah bepura-pura dan membohongi kedua orang tua Galen. Mau kebohongan apalagi yang akan mereka buat nanti?


Belum lagi pikiran-pikirannya tentang keluarga Galen. Bagaimana reaksi mereka, apa mereka baik? Atau akan memperlakukan Clara dengan buruk seperti di film-film. Pokoknya sudah banyak deh pikiran-pikiran negatif yang ada dipikiran Clara.


"Jangan dipaksa, Sayang. Lebih baik kita masuk, Oma dan Opa pasti sudah menunggu kamu," ucap Galen menengahi. Nabila awalnya kesal, namun yasudah deh. Yang terpenting Clara ada di sini sekarang dan mereka akan bersenang-senang.


Nabila tersenyum ke arah Galen, lalu setelah itu berlari masuk ke dalam rumah besar itu dan meninggalkan Galen bersama Clara yang masih menetap di sana.

__ADS_1


Galen melirik ke arah Clara. "Maafkan Nabila."


"Gapapa."


Galen mengulurkan paper bag ke arah Clara. "Hadiah untuk mama dan papa saya. Kamu yang berikan biar mereka percaya kalau kita memang mempunyai hubungan."


Clara mengangguk pasrah dengan mengambil paper bag itu. Dia akan melangkahkan kakinya lebih dulu, namun tanpa di duga Galen menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.


Jantung Clara berdegup kencang apalagi sekarang, tangan Galen berpindah dan merangkul pinggangnya untuk lebih dekat. Aroma maskulin dan kharismatik pria itu membuat Clara tertegun sejenak menikmati perlakuan seperti ini. "E-emang harus kaya gini ya, Pak?" Tanya Clara gugup.


"Panggil saya Mas."


Apalagi ini? Tidak anak, tidak banyak maunya. Tapi Clara memilih mengiyakan saja, tidak mungkin juga dia memanggil Galen dengan sebutan bapak sementara ceritanya status mereka dekat.


Perasaan Clara tidak karuan, dia merasa minder sih sebenarnya ke acara ini. Banyak kolega dan kerabat dari keluarga Galen yang memang rata-rata kelas atas. Sementara dirinya berasal dari keluarga biasa saja.


"Yang dateng ke sini orang kelas atas semua ya?" Tanya Clara yang Amaze melihat ke sekitarnya.


"Biasa saja, hanya kolega bisnis."


Clara menganggukan kepalanya pelan, ah insecure sekali dia berada di sini. Coba kalau Galen tidak memberikannya baju dan perhiasan ini. Mungkin akan terlihat sekali kesenjangan sosial mereka.


Asik berkutat dengan pikirannya tiba-tiba suara Nabila membuat Clara menoleh. Iya dia melambaikan tangannya ke arah mereka berdua yang di sambut senyum oleh Galen.


Mendadak tenggorokannya terasa kering saat melihat kedua orang tua Galen yang menatap ke arahnya. Iya tentu dia tau karena saat tadi di mobil Galen memperlihatkan photo keluarganya dan menceritakan sedikit silsilah juga agar meminimalisir sesuatu yang mungkin terjadi.


"Aduh, Pak. Saya pulang aja ya?" Ucap Clara setengah berbisik.


"Mas ... " Peringat Galen yabg seketika membuat Clara berdecak.


"Tidak bisa, kita sudah di sini dan orang tua saya juga juga sepertinya sudah melihat kamu. Jadi berperanlah dengan baik."

__ADS_1


Galen mengeluarkan smirk-nya pada Clara. Membuat Clara merutuk dalam hatinya, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya malam ini.


__ADS_2