
Pagi ini seperti biasa Clara akan berangkat ke kampus, karena motornya tiba-tiba kempes akhirnya Clara memutuskan untuk memesan ojek online saja sambil memakan donat gula yang sudah dibuatkan oleh ibunya.
Namun saat akan memesan tiba-tiba Nabila turun dari mobil dan memeluk Clara dengan erat. "Selamat pagi Tante jomblo."
Clara mencibir, cih ini masih pagi dan Nabila sudah mengajaknya untuk perang mulut. Aduh tidak deh dia harus datang ke kampus dengan mood yang bagus. Masa iya rusak hanya karena menanggapi bocah seperti Nabila.
"Pagi."
"Jutek banget Tante Clara, Tante tau gak katanya orang yang suka marah-marah cepet tua. Nanti gak ada yang mau sama Tante, tapi Tante mau gimana pun gak ada yang mau sih, jadi ya gapapa deh," katanya asal.
Astagfirullah sabarkan Clara, dia harus sadar kalau yang dihadapinya ini adalah anak berusia 11 tahun, masih anak-anak. Tapi logikanya menolak, meskipun anak-anak begini tapi Nabila kelakuannya tidak ada akhlak. "Apasih?!"
"Nabila, cepat. Papa ada meeting," ucap Galen dari dalam mobilnya.
"TUNGGU KITA AJAK TANTE CLARA YA PA?" Teriak Nabila.
Terlihat anggukan dari dalam jendela sana. Aduh gimana sih kok jadi Nabila mengajaknya pergi bersama. Dia ini masih malu loh karena ketangkap basah memergoki Galen berbuat asusila semalam.
Nahkan dia jadi terbayang lagi saat melihat Galen dari jarak yang lumayan dekat seperti ini. Tapi lamunannya sekarang pecah. "TANTE CLARA MASUK IH."
Nabila mendorongnya untuk masuk ke kursi belakang bersamanya. "Gak usah, Bil. Tante Clara udah mau persen online."
"HEMAT! Ayok ihhh," ajak Nabila dengan paksa.
"Ayok, Clar. Kampus dan kantor saya juga searah kok," ajak Galen.
Mendengar itu Clara menghela napasnya, haruskan? Oh tidak, bagaimana ini? Dia malu, bagaimana kalau Galen marah padanya karena tidak sopan mengintipnya semalam.
Tamat deh riwayat Clara, lagian kenapa sih dia harus terlahir menjadi orang yang rasa ingin taunya besar begini. Jadi Boomerang untuk dirinya sendiri, kan?
Tapi karena dia sudah dipaksa akhirnya Clara masuk saja ke dalam mobil, membuat Nabila tersenyum puas karena diikuti kemauannya. Setelah mereka sudah siap, Galen pun melakukan mobilnya.
"Tante itu apa?" Tanya Nabila seraya menunjuk donat yang ada di dalam keresek yang dia pegang.
"Donat, mau?" Tanya Clara seraya mengulurkan keresek itu pada Nabila.
__ADS_1
Nabila mengangguk, tapi yang bikin melongo bukan itu. Di dalam sana ada 3 buah donat untuk makan siangnya nanti tapi dengan tidak akhlaknya Nabila mengambil semuanya dan memakannya detik itu juga. "Makasih Tante Clara."
Clara menghela napasnya. "Tante kira kamu ambilnya satu."
"Loh tante kasih satu kresek ke Nabila, bukan salah Nabila kalau ambil semuanya. Udah Tante tenang aja, nanti papa Nabila ke kampus Tante ajak makan siang, iya kan pa?" Ucap Nabila pada sang ayah.
"Eh–?" Tanya Clara tak paham. Kenapa ini jadi makan siang dengan bapaknya sih? Kacau sekali Nabila, sepertinya dia memang ngebet sekali ingin Clara menjadi ibunya.
Galen juga nampak bingung menjawab pertanyaan putrinya, tapi kalau tidak dia ikuti Nabila bisa marah seharian padanya. Semalam juga dia terbangun dan marah kepadanya karena jarang memiliki waktu. "Iya, Sayang. Nanti papa jemput Tante Clara."
"Eh gak usah, Pak. Saya ikhlas kok itu donatnya dimakan, gapapa gak usah. Nanti saya cari makan di kantin, gapapa," jawab Clara cepat.
Yakali dia mengiyakan, mau ditaruh di mana wajahnya? Bisa-bisa nanti dia di sangka simpanan om-om atau menjadi sugar baby om-om kaya. Tidak deh. Tidak mau dan itu tidak boleh sampai terjadi.
"Gapapa ih, Tan. Kenapa sih takut banget sama papa Nabila. Pokoknya Nabila gak mau tau papa nanti siang harus ke kampus Tante Clara gantiin donat yang Nabila makan!"
"Nabila–"
"Tante diem deh ini urusan anak dan papanya!" Ucap Nabila sok tegas.
Nabila senyum kemenangan, sementara clara sudah depresi sepertinya berada di tengah anak dan bapak ini. Kenapa juga sih Nabila gencar sekali mendekatkan ayahnya pada Clara, jelas-jelas dia tidak menyukai om-om apalagi duda!
Beberapa menit pun berlalu akhirnya mereka sampai di sekolah Nabila. Clara pun ikut turun untuk pindah ke kursi depan, karena ya tidak enak saja kalau dibelakang. Nanti dia malah merasa disupiri.
"Tante akur-akur ya sama papa di jalan, Nabila mau sekolah!" Ucapnya.
"Iya," balas Clara seadanya.
"Tante, papa jago ciuman loh," bisik Nabila. Yang sontak saja membuat Clara membulatkan matanya.
"Nabila! Masih kecil loh!" Kesal Clara.
Nabila pun tertawa, setelah itu dia menyalami mereka lalu berlari masuk ke dalam sekolah. Membuat Clara menggelengkan kepalanya akibat kelakuan si bocil itu.
Tidak salah juga sih selama ini dia hidup bebas tanpa pengawasan, sekecil itu dia lebih suka menonton drama Korea dan juga membaca novel romantis. Ampun deh, Clara yang pusing kalau begini.
__ADS_1
Galen pun menahan tawanya seraya menatap ke arah Clara dengan wajah yang dibuat setenang mungkin. "Ayok masuk."
Clara terdiam, nampak ragu sebenarnya. Tuhkan kejadian semalam terbayang lagi dalam ingatannya. "Tenang, walaupun saja jago berciuman tapi saya tidak akan melakukannya kalau kamu tidak mau."
Clara kembali membulatkan matanya, jadi tadi dia mendengar percakapannya dengan Nabila, ah bikin malu saja. "E-enggak gitu, Pak."
"Sudah ayok, nanti kamu terlambat." Galen hanya senyam senyum dan berbalik untuk memasuki mobilnya.
Sementara clara mengikutinya sembari mengumpat, memang Nabila ini selalu saja menjadi biang masalah dalam hidupnya. Kan malu ya sampai ditanya begitu, apalagi semalam– Sudahlah lebih baik dia sekarang masuk dan melupakan semuanya lalu bersikap seolah terjadi apa-apa.
Mobil pun kembali melaju, mereka berdua terdiam seperti sepasang kekasih yang sama-sama dilanda kecanggungan. "Jadi sekarang semester 6?"
"Iya, Pak," jawab Clara seadanya.
Galen mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham. Sebenarnya hanya untuk mengisi keheningan sih. Karena sejujurnya dia juga jarang berinteraksi dengan wanita selain rekan kerjanya. Jadi baru dengan Clara.
"Emm ... Pak?" Tanya Clara ragu.
"Ya?"
"Soal tadi gak usah dipikirin, saya gak perlu diajak makan kok. Seneng aja berantem sama Nabila, gapapa kok gak usah diganti juga donatnya," ucap Clara.
"Kalau saya mau bagaimana?" Tanya Galen yang kini malah menatapnya sekilas.
"M-maksudnya, Pak?" Tanya Clara yang tak paham. Sebenarnya paham tapi maksudnya tidak bisa dicerna begitu saja oleh otak Clara.
"Biar saya ajak kamu makan siang nanti, kebetulan saya kosong," katanya.
"E-eh gak usah, Pak. Gak usah beneran, nanti saya–"
Galen terkekeh, membuat Clara malah kebingungan dengan sikap duda yang ada di sampingnya. Dia ini tidak waras kah tiba-tiba tertawa begitu? "Tenang saja, kenapa kamu jadi panik? Saya hanya ajak kamu makan siang bukan menikah."
Oh shitt, kenapa juga Galen bilang seperti itu. Clara tidak berpikir akan diajak menikah kok, tentu bahasan seperti ini membuatnya jadi semakin awkward. "Tapi, Pak–"
"Saya menepati janji pada Nabila, jadi anggap saja ini janji saya pada anak saya sendiri. Kamu tidak boleh menolak," ucapnya.
__ADS_1
Clara memejamkan matanya sesaat, kenapa jadi seperti ini sih? Padahal dia tidak mau berurusan lebih jauh dengan Galen ini semenjak tadi malam.