Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Dicium Om Duda


__ADS_3

"TANTE CLARAA!!" Nabila menggedor-gedor pintu kamar Clara dengan brutal. Padahal Clara pulang dari kampus tadi langsung tertidur karena kelelahan.


Besok dia juga libur jadi tugas masih bisa dia selesaikan besok. Jadi sudah pasti mau dibangunkan dengan cara apapun dia tidak aka  terpengaruh.


"TANTE!" TANTE KEBO BANGET SIH PANTES JADI PERAWAN TUA, KATA DI NOVEL KALAU PERAWAN TUA SUSAH PUNYA ANAKNYA. EMANG MAU YA TANTE KASIH ADEK BARU BUAT NABILA!" Teriak Nabilla yang masih tak mendapatkan jawaban dari dalam.


Nabila terus menggedor-gedor pintu itu namun tiba-tiba ...


Ceklek!


Pintunya ternyata tidak dikunci. Melihat itu Nabila tersenyum bahagia dan langsung berlari ke dalam untuk membangunkan Tante Claranya itu. "TANTE KEBAKARAN!"


Nabila berteriak sambil mengetuk-ngetuk sisi jam weker yang berada meja dengan pulpen. "TANTE CLARA KEBAKARAN!!!"


Mendengar itu Clara langsung terperanjat kaget dan turun dari kasurnya untuk belar ke luar kamar. "HAH KEBAKARAN!! TOLONGG!! TOLONG!! TOL–"


Clara menghentikan langkahnya saat menyadari kalau dia sedang dikerjai sekarang. Tubuhnya berbalik dan melihat Nabila yang sedang tertawa puas sambil memegangi perutnya karena ngakak brutal.


"NABILLA!!!!" Clara yang tak terima langsung mengejar Nabilla yang keluar dari kamarnya sambil meledek.


"TANTE JELEK WLEKK!"


Aissh anak itu sangat menyebalkan sekali. Bagaimana tidak marah, dia lelah, dia juga sedang menstruasi hari ini dan Nabila mengacaukan semua moodnya untuk tidur lama. Menyebalkan sekali.


Ibu Clara yang melihat itu hanya tertawa saja melihat kelakuan Clara dan juga Nabila. Mereka nampak seperti adik kakak sekarang dan itu membuat dia bahagia karena memang dia tidak memiliki anak lain selain Clara.


Tanpa sadar Clara mengejar Nabila sampai ke luar membuat Clara menghentikan langkahnya karena sudah terlalu cape mengejar anak tidak ada akhlak itu.


"Payahh!!" Ledek Nabila sambil mendekat.


"Demi deh, Tante Clara lagi gak mood. Kenapa sih kamu gangguin Tante Clara terus, Bil?" Kesalnya.


"Karena cuma Tante yang bisa diajak main."


"Tante itu banyak kerja–"


"Bantuin aku kerjain PR. Pelajaran matematikanya sudah banget, katanya kalau nilai aku gak bagus gak akan naik kelas," ucap Nabila yang kali ini nampak benar-benar tulus menatapnya.

__ADS_1


"Gak bisa, Bil–"


"Sekali aja, Tante. Tante mau aku gak naik kelas ya? Udah anak broken home, gak punya mama, gak punya sanak sodara, papanya sibuk, gak naik kelas lagi. Bayangkan Tante kalau Tante di posisi Nabila gimana?" Tanyanya dramatis.


Sial! Umpat Clara dalam hati. Meskipun dia keras begini dia tidak tegaan orangnya, mana bisa dia membiarkan Nabila tidak naik kelas. Tapi kalau dibantu dia apa tidak keteteran?


"Ayoklah, Tante. Help me please right now. I need you Soo much," kali ini Nabilla berkata manis sembari menunjukkan puppy eyesnya pada Clara.


"Yaudah ayok!" Tapi jangan rewel.


"Ayok!" Kata Nabila yang langsung saja menarik tangan Clara untuk ikut ke rumahnya.


Pada akhirnya Clara menyerah saja, lagian kenapa sih Galen tidak menyempatkan waktu untuk mengajak anaknya belajar kenapa jadi harus dia yang bertanggung jawab? Menjadi mahasiswa psikologi membuatnya menjadi merasa bertanggung jawab selagi dia bisa membantu.


Apalagi Nabila adalah anak yang kekurangan kasih sayang orang tuanya. Serius deh cape kalau menjadi Clara, dia saja sering perang batin sendiri kalau menghadapi masalah ini.


.


.


.


Nabilah nyengir tanpa ada rasa bersalah, membuat Clara ingin sekali mencubit ginjalnya tapi sayang dia anak orang lain. "Belajar!!!"


"Aduh, Tan. Kalau di hp nih otak Nabilla cuma 500mb gak akan cukup kapasitasnya kalau dipake belajar terus. Harus ada hiburannya," ucap Nabilla memberi pembelaan untuk dirinya sendiri.


"Masalahnya kamu emang gak mau belajar aja dan banyak mainnya, udah ah Tante Clara mau kerjain tugas!" Kesal Clara yang akan segera bangkit tapi Nabila menahannya.


"Jangan, iya ini aku belajar."


Kalau sudah diancam begini barulah Nabila menurut dan kembali belajar. Sumpah ya ini anak itu sebenarnya pintar tapi dia hanya malas saja sampai membuatnya menjadi terlihat bodoh.


Hooaaammm ...


Tiba-tiba Clara mengantuk. "Bil bapakku punya kopi gak, Tante ngantuk banget."


"Ada, ke dapur aja buat."

__ADS_1


"Gak mau ah, apaan gak enak lah di rumah orang main nyelonong masuk. Mba Darmi kemana?" Tanya Clara.


"Gak ada, lagi pulang kampung. Bikin aja sih, Tante. Anggap aja latihan jadi mamanya Nabila. Nanti kan tinggal bareng papa sama Nabila,", jawabnya enteng.


"Yeeuu bocah! Ngarep!" Clara yang mendengar itu mendengus kecil. Memang siapa sih yang mau jadi ibunya Nabila. Langsung saja dia meninggalkan Nabila dan berjalan ke arah dapur yang cukup jauh dari ruang tengah ini.


Tidak ada loh list dirinya untuk menikah dengan duda apalagi duda beranak satu dan anaknya bentukan Nabila seperti ini. Lebih baik dia menjomblo.


Awalnya Clara ragu tapi karena dia sangat mengangguk ya sudah lah. Perlahan dia mengambil coffe capsulle dan menggunakan mesin kopi di sana. Dia sudah biasa sih seperti ini di rumah.


Lalu dia menghela napas sambil menunggu kopinya. "Mama, mama, dia pikir aku mau apa nikah sama bapaknya!" Gerutu Clara yang tanpa dia sadari kalau Galen kini sedang menatapnya seraya bersidekap dada.


"Memang kamu tidak mau menikah dengan saya?"


Suara itu menginstruksinya untuk menatap ke arah pria itu. Membuat jantung Clara rasanya mau melompat, jadi Galen mendengarnya. Mati sih ini, dia harus apa?


Clara masih berusaha untuk stay cool tapi Galen kini berjalan ke arahnya. Clara yang merasa di sekali memundurkan langkahnya, membuat dia sedikit gemetar di tatap seperti itu.


Perlahan tapi pasti sampai akhirnya tubuhnya mentok menabrak ujung pantry, Clara mengeratkan pegangannya saat Gale semakin mendekat. Dalam hitungan detik dia berhasil mengukung gadis kecil itu dengan bertumpu di antara tubuh Clara.


"B-bapak mau ngapain?!" Tanyanya cepat.


"Kenapa gugup?" Tanyanya dengan wajah datar.


"E-enggak kenapa-kenapa!" Elaknya. Padahal dia sedang overthinking karena takut Galen menciumnya seperti yang dia lakukan pada perempuan malam itu.


"Kamu takut saya cium?"


"Iyalah! Emang siapa yang mau dicium sembarangan sama orang yang suka cium banyak cewek!"


Galen hanya terkekeh. Mata Galen menatap mata indah milik Clara, lalu turun ke hidung bangirnya dan terakhir di bibir Cherry milik Clara yang nampak masih fresh dan belum terjamah oleh siapapun. Perlahan dia memiringkan wajahnya.


Dengan lembut dia mengecup bibir Clara dan sontak membuat Clara terdiam dan mematung. Apa-apaan ini?! Clara ingin berontak tapi seolah mendadak kamu, apalagi kini Galen tidak hanya menempelkan bibirnya.


Galen menghisap bibir bawah Clara yang terasa manis dan cocok di lidahnya. Membuat Clara malah memejamkan matanya sambil mengeratkan pegangannya pada pantry. Bisa Galen rasakan kalau ini ciuman pertama Clara karena dia sangat kaku.


Tapi jangan pertanyaan soal kejantanannya, dia ini sudah pro masalah beginian. Sampai akhirnya dia mendominasi ciuman panas ini dan baru melepaskannya setelah Clara kehabisan napas.

__ADS_1


Ditatapnya mata yang perlahan terbuka itu dengan senyuman yang terlihat manis di pengelihatan Clara. Lalu dia berbisik. "Bibir kamu paling manis."


Setelah mengatakan itu Galen menjauh dari Clara dan meninggalkan gadis itu dalam keadaan mematung. Jantung Clara berdegup kencang. "AAAAAAA MAMAAAAA CLARA DICIUM OM DUDA!" Batinnya menangis.


__ADS_2