
Seperti perjanjian, sore ini Clara sudah direcoki oleh kedatangan Nabila yang meminta Clara untuk mendandaninya. Serius sih, menikah saja belum ada di dalam daftar hidupnya, apalagi mengurus anak seperti ini, Nabila pula.
Namun karena sudah mengiyakan, Clara juga tidak enak dan akhirnya mengalah untuk merias gadis kecil itu. Nabila ini cantik, kulitnya putih. Bahkan bisa diliat kalau dia seperti boneka hidup, tapi sayang saja menyebalkan.
"Tante awas aja ya bikin aku kaya dakochan!" Peringat Nabila saat Clara memoleskan bedak di wajahnya.
Clara menghela napas pelan. "Banyak mau."
"Harus dong, biar nanti Oma sama Opa tau kalau calon istrinya Papa Nabila itu pintar merawat calon anaknya yang menggemaskan ini."
"Gak ada yang mau jadi mama kamu!"
Nabila memajukan bibirnya, sebenarnya dia sedih sih. Tapi untuk menaklukan tante Claranya ini pasti membutuhkan waktu. Lihat saja, nanti juga Papanya akan segera membuat tante Claranya itu jatuh cinta.
Beres dengan riasan make up, kini Clara membantu Nabila untuk menata rambutnya ala princess yang tadi sudah dia diktekan. Clara fokus mengerjakannya tanpa menyadari kalau Nabila dari kaca menatapnya penuh harap.
"Oh gini ya rasanya diiketin rambut?" Gumamnya.
Mendengar itu Clara tidak menanggapi perkataan Nabila. Dia masih diam sambil tetap fokus pada apa yang dia kerjakan sekarang. Nabila tersenyum. "Tante Clara tau gak, orang-orang kalau ke sekolah cantik. Mereka suka cerita kalau diiketin rambut sama mamanya."
"Kamu kan bisa minta tolong mba," balas Clara yang entah kenapa sedikit tersentuh hatinya mendengar ucapan Nabila.
"Beda tau rasanya, lagian Nabila gak mau."
"Maunya apa?" Tanya Clara.
__ADS_1
"Maunya Tante jadi mamanya Nabila."
Clara berdecak, nahkan ini kenapa tadi Clara memilih diam. Karena dia tau ujung dari percakapan ini adalah Nabila memintanya menjadi seorang ibu. "Emang kamu pikir nikah itu tinggal menikah? Dunia orang dewasa belum bisa kamu pahami, jadi lebih baik kamu minta aja papamu buat ajak ke rumah mamamu itu."
"Tante mau aku ke rumah nenek sihir itu?" Tanya Nabila sembari mengadahkan kepalanya pada Clara.
Nenek sihir? Sungguh, jadi Nabila mengetahui ibunya dan memangilnya seperti itu? Memang benar-benar kurang didikan anak ini. "Hushhh gak boleh gitu loh, itu mama sendiri. Tapi ... Jadi kamu tau mamamu ada di mana?"
"Tau, siapa bilang aku gak tau? Udah ah aku males bahas orang itu, kan ada tante Clara yang bakalan jadi mama aku."
Clara memejamkan matanya, yang begini nih yang tidak boleh dibiarkan. Perlahan Clara membalikan tubuh Nabila menghadapnya lalu dia berlutut di hadapan gadis kecil itu dan menatapnya lekat sembari memegang bahunya. "Tante gak tau ada masalah apa antara kamu, papa kamu dan mama kamu. Tapi bagaimana pun juga dia mama kamu, jangan kaya gitu."
"Dengerin Tante Clara. Mama kamu itu udah berjuang melahirkan kamu loh, dia juga yang nahan sakit waktu mengandung kamu, jadi walau bagaimana pun, mama kamu–"
"Aku cuma minjem perutnya aja kok, kalau memang mama sayang aku dia gak akan nyakitin anaknya sendiri, bakalan ngasih tau anaknya kaya tante Clara begini. Bukannya malah nyakitin anaknya, kan? Jadi aku cuma minjem perutnya aja, kan?" Tanya Nabila dengan tatapan dalam.
"Ya udah, semuanya udah beres. Kamu tunggu di sini atau mau pulang terserah, tante mau mandi dulu. Mau siap-siap."
.
.
.
Setelah selesai mandi, Clara menatap dirinya di cermin. Malam ini dia memakai riasan biasa saja sih, tidak terlalu tebal namun tidak terlalu tipis juga, mengingat kalau ini adalah pesta.
__ADS_1
Namun dia merasa berat sekali untuk keluar dari kamar, meskipun ibunya sudah memanggil karena Galen dan Nabila sudah menunggunya di bawah. Apa yang akan ibunya pikirkan? Apa yang akan terjadi nanti di sana? Semuanya seolah berputar di dalam kepala Clara.
Untuk sejenak Clara menarik napas, lalu membuangnya perlahan. Dia lakukan itu berkali-kali agar membuatnya sedikit lebih tenang. "Berhenti membuang-buang waktu, Clara. Lo mau gak mau harus hadapin ini, urusan nanti gimana nanti aja. Tenang, lalu temui duda karatan dan anaknya yang menyebalkan itu."
Setelah menguatkan tekadnya, perlahan Clara keluar dari kamarnya dan turun menemui Galen dan juga Nabila. Bisa dilihat dari atas sini kalau Galen sedang mengobrol bersama orang tuanya. Ah kenapa dia jadi merasa takut sih, padahal kan dia dan Galen tidak memiliki hubungan apa-apa?
Clara terus melangkahkan kakinya ke bawah untuk menemui mereka. "Ekhm."
Dehaman itu membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arahnya. Galen yang melihat kedatangan Clara bahkan menatapnya kagum. Memang tidak sia-sia mengajak Clara, bahkan dia berdandan sangat modis dengan make up yang sempurna, belum lagi wajah cantiknya yang membuatnya semakin perfect malam ini.
Clara hanya diam saja, dia juga sebenarnya malu. Apalagi Ibu dan Ayahnya menatapnya seolah menggoda seperti itu. "Cantik banget anak Ibu."
"Biasa aja," jawab Clara singkat, ya dia justru malu kalau dipuji begitu.
"Ihhhhhh Tante Clara cantik banget, kaya princess di negeri dongeng. Nah setiap hari begini dong Tante Clara. Biar orang orang tau kecantikan calon mama Nabila!" Seru Nabila.
Clara tersenyum geram, kenapa sih Nabila harus mengatakan itu di depan orang tuanya? Ahh mempersulit hidupnya saja bocah satu ini, tentu saja itu menjadi pertanyaan di dalam benak kedua orang tuanya mengenai hubungan Clara dengan Galen.
Nahkan Ibunya mulai mendekat dan menanyakan soal Galen. Namun untung saja Galen inisiatif untuk mengajaknya pergi sekarang. "Saya rasa kita harus pergi sekarang. Pak, Bu, saya izin bawa anaknya sebentar ya?"
Clara mengerjap, baru kali ini ada pria yang meminta izin langsung saat mengajaknya pergi keluar. Dia bukan terkesima, tapi ya rasanya aneh saja. Seperti menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, apa karena memang Galen jauh lebih dewasa ya jadi menurutnya ini biasa saja dan bentuk suatu kesopanan?
"Iya nak Galen. Titip anak saya ya, tolong bawa dengan selamat dan lengkap," ucap Fahri.
Galen tersenyum, membuat kedua orang tuanya lega sudah kalau membiarkan Clara pergi bersama Galen.
__ADS_1
"Sudah, sana. Hati-hati, jangan malu-maluin di sana. Harus anggun biar orang tua Galen terkesima. Kalau kaya gini gak pulang juga gapapa!" Ucap tari setengah berbisik pada Clara.
Clara mengernyit, wah bisa-bisanya ibunya ini bicara begitu. Tidak habis pikir, padahal biasanya Ibunya ini akan mengomel jika Clara telat pulang, lah ini? Clara pun menghela napas kasar, sudahlah. Lebih baik dia segera pergi agar ini semua cepat selesai. Iya semoga saja kedepannya dia tidak berurusan dengan Galen Mahardika itu. Semoga.