Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Sintia dan Clara


__ADS_3

"Happy anniversary, Ma, Pa. The best wishes for you both," ucap Galen sembari menyalami Sintia dan Gerda. Iya mereka berdua adalah orang tua Galen.


"Manis sekali, terima kasih," ucap Gerda seraya menepuk bahu putra.


"Soo sweet sekali, Sayang. Terima kasih ya sudah datang ke sini, ngomong-ngomong ini—" Mata Sintia mengarah ke arah Clara yang kini nampak mematung di tempatnya sembari memperhatikan mereka.


Galen tersenyum lalu mengenggam tangan Clara dan menariknya lembut untuk mendekat. "Calon istri saya, Ma. Dia Clara."


Sintia dan Gerda menebarkan senyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Bahagia? Tentu, Galen itu tipikal orang yang pemilih. Jadi sulit sekali mencarikan jodoh kedua untuknya. Jadi saat diperkenalkan dengan wanita pilihan putranya itu mereka senang.


"Clara, Tante." Clara tersenyum lalu bercipika-cepiki dengan Sintia.


"Cantik sekali, panggil Mama saja. Jangan panggil, Tante. Mama senang loh kalian berdua ke sini," ucap Sintia dengan nada yang bahagia.


"A-ahh iya, Ma. Oh iya, ini ada hadiah kecil. Semoga kalian suka." Clara tersenyum lalu mengulurkan paper bag yang dia bawa kepada Sintia.


Dia menerimanya dengan senang hati, selain ramah Sintia juga mengagumi parah cantik Clara apalagi sekarang melihat Nabila yang nampak begitu menyayangi Clara sampe memeluknya terus dengan erat.


Iya, mereka senang melihatnya. Berbeda dengan Clara yang sekarang ingin mengamuk karena kelakuan bocil kematian ini. Tubuh Clara bahkan sampai tidak bisa bergerak karena Nabila memeluknya dengan erat.


"Oma Tante Clara cantik, kan? Boleh jadi mamaku, kan? Yang dandanin Nabila itu tante Clara loh, Oma. Tante Clara juga jago, masak. Masakannya enak banget, pokoknya top deh,", puji Nabila.


"Oh ya? Lain kali kita cicipi masakan Tante Claranya ya?" Kata Gerda pada cucunya sambil ber tos ria dan di sambut oleh kekehan yang lainnya.


Clara memejamkan matanya sekilas. Terlalu berlebihan ini. Kata siapa Clara jago memasak? Bagaimana kalau dia nanti di tes atau bagaimana kalau dia disuruh memasak di depan Sintia? Ahh bocah ini kenapa menyusahkan dirinya saja sih?!


"Hhee, Iya Om ... " Pada akhirnya Clara hanya mengiyakan saja dulu. Meskipun dia kesal sekali rasanya karena melihat Galen terlihat sedang meledeknya.


Tapi yasudahlah, semoga saja ini tidak jadi panjang dan pertemuan ini cukup sampai di sini. Jadi dia tidak akan repot lagi kedepannya.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama acara pun di mulai. Memang acara yang sudah dibuat semewah ini tidam mungkin kalau berjalan dengan biasa saja. Clara sampai tak henti-hentinya memuji apa yang ada di hadapannya.


Bagaimana tidak, Gerda memberikan sebuah pulau private kepasa istrinya sebagai hadiah anniversary mereka. Sungguh, hal seperti ini hanya bisa ditiru oleh orang-orang yang berada saja.


"Suka acaranya?" Tanya Galen setengah berbisik.


Clara hanya mengangguk, namun itu membuat Galen sedikit melengkungkan senyumnya. "Kalau kamu benar benar mau menjadi istri saya, saya bisa memberikan lebih dari ini.


Clara menelan air liurnya dengan susah payah, apalagi saat merasakan tangan Galen yang merapikan helaian rambut manisnya. Membuat Clara baru merasakan sensasi yang seperti ini. Namun dia kembali ke alam sadarnya.


"Gak berminat!" Setelah mengatakan itu Clara meninggalkan Galen dan berjalan untuk mencari makanan. Sungguh, meresahkan sekalu Galen Mahardika itu. Lebih baik dia mengisi perutnya saja.


Galen yang mendapat respond seperti itu tidak marah, dia malah memasukan satu tangannya ke dalam celana seraya memijat pangkal hidungnya sebentar. "Menarik."


.


.


.


Bukannya tidak suka, hanya saja dia terkuras energinya untuk berada di acara ini. Jadi Clara memilih untuk menetralkan dirinya dengan menyendiri di sini. Semua ini masih terlalu asing untuk Clara yang biasanya datang ke pesta ya hanya untuk merayakan ulang tahun teman-temannya. Kalau acara seperti ini dia baru pertama kalinya.


Namun tanpa Clara sadari ternyata Sintia memperhatikannya, iya dia memang mencari Clara karena putranya sedang sibuk dengan kolega bisnis dan juga Nabila yang sedang asik bersama sepupunya. Tentulah dia merasa khawatir. Perlahan, Sintia menghampiri Clara dan duduk di samping gadis itu.


Clara yang merasakan seseorang duduk di sampingnya spontan bergeser dan menatap ke arah samping. "E-eh, Tante."


Sintia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Kenapa di sini?"


Clara sedikit terkekeh. "Emm, mungkin karena gak biasa di acara pesta kali ya, Tan? Tante ada apa ke sini?"

__ADS_1


"Tante tadi mencari kamu, ternyata ada disini."


Entah kenapa jantung Clara mendadak berdebar dengan kencang. Apa yang ingin Sintia katakan padanya sampai mencarinya ke sini. Apakah ...


"Jadi sudah berapa lama hubungan kamu dengan Galen, Sayang?"


Nahloh, lagi-lagi Clara menelan air liurnya dengan susah payah. Bagaimana ini, dia harus menjawab apa? Takut-takut kalau nanti jawabannya berbeda dengan Galen.


Melihat kegelisahan Clara, Sintia terkekeh. "Sudah Tante duga."


"M-maksudnya, Tan?"


"Kamu dipaksa Galen untuk berpura-pura menjadi calon istrinya, kan?" Tebak Sintia.


Ini lebih mengagetkan sekali sih untuk Clara. Bagaimana bisa Sintia langsung menebak ke arah sana? Apa dia tidak cukup baik ya dalam berperan malam ini? Bisa kena semprot Galen nih kalau begini caranya. Clara tidak menjawab, dia memilih mencari aman namun itu terlihat lucu di mata Sintia.


"Tante sangat hafal dengan Galen, Tante tau bagaimana dia jujur dan bagaimana saat dia sedang berbohong."


Clara menghadapkan dirinya pada Sintia lalu menggenggam tangan Sintia sambil menunduk. "Tante maafin Clara ya, Clara gak bermaksud buat bohongin tante. Serius deh. Ini karena Clara sama Pak Galen—"


"Calm down, santai Clara. Tante tidak marah, justru Tante yang harusnya minta maaf karena Galen membuat kamu ada di posisi seperti ini. Tapi Clara ... " Sintia menggantungkan omongannya.


Membuat Clara harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Perlaha. Clara memberanikan diri saat tangan Sintia yang berbalik menggenggamnya. "Tante tau saat Galen menyukai sesuatu."


"Selama ini tidak pernah ada yang dia kenalkan pada kami, kalau pun harus berpura-pura mungkin sudah sejak lama dia lakukan tapi sekarang dia memilih untuk membawa kamu. Tatapannya, bagaiman cara dia memperlakukan kamu, Tante tau kalau Galen merasa nyaman dengan kamu. Terutama Nabila."


Napas Clara tertahan. "Tante kayanya salah paham deh. Begini, Tan. Clara sama Pak Galen tetanggaan dan Nabila sering main ke rumah. Karena Pak Galen sibuk di kantor kadang Pak Galen minta saya buat mengurusi sekolahnya Nabila. Jadi itu gak mungkin deh, Tan ..."


Sintia mengangguk paham, tapi tetap saja. Ada naluri seorang ibu dalam dirinya, Clara tidak akan paham soal itu. "Oke, mungkin belum kelihatan. Tapi tolong jangan bilang pada Galen dan Papanya kalau tante mengetahui ini ya. Tante sih berharap kalau kamu bisa lebih dekat dengan Galen. Tante berharap sekali kalau kalian bisa menjadi pasangan yang sebenarnya."

__ADS_1


"Mungkin Galen terlihat seperti orang yang penuh dengan ego, mutlak dan keras. Tapi jika sudah mencintai sesuatu akan dia jaga dengan sepenuh hati."


Clara diam, tidak tau harus menanggapinya bagaimana. Kenapa situasinya jadi rumit begini ya? Dia pikir kalau Sintia tau soal kebohongan ini, semuanya akan mudah. Oh Tuhan ...


__ADS_2