Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Saat ini Clara dan Galen sudah ada di sebuah restoran yang cukup elite. Tadinya sih Clara tidak enak mau makan di sini, dia lebih suka makanan di pinggir jalan. Lagi pula harganya pasti mahal, tapi berhubung dia jalan dengan bos besar sepertinya tidak masalah kalau Clara menguras dompetnya, bukan matre tapi realistis.


Mereka berdua duduk di ruangan private yang sengaja Galen pesan, padahal untuk apa juga di private karena mereka hanya makan siang biasa. Memang begini kali ya cara bermain orang kaya.


Ya Clara bukan dari keluarga tidak mampu, tapi sederhana gitu loh. Jadi kalau diajak kesini dia harus pikir-pikir lagi, karena uangnya lebih baik di pakai ke hal yang lebih berguna.


"Jadi kamu mau jadi ibu sambung Nabila?" Tanya Galen yang nampak sibuk dengan layar iPad yang ada di tangannya.


"H–Hah, kan itu tadi saya minta tolong aja, Pak," protes Clara.


Galen mendengar nada panik itu terkekeh, dia senang saja mempermainkan gadis yang ada di hadapannya ini. Melihat itu Clara mengernyitkan dahinya. Rasanya orang yang ada di hadapannya ini tidak jelas.


Galen lalu mengambil sebuah paper bag besar yang sudah dia siapkan sejak dalam perjalanan lalu memberikan pada Clara. "Buat kamu."


"I-ini apa?" Tanya Clara, bisa terlihat jelas loh kalau itu barang mewah, terlihat dari paper bagnya saja sudah mahal.


"Pakai itu untuk ke acara anniversarry orang tua saya besok."


"Tapi kenapa?!"


"Saya sudah bantu kamu dan sekarang bantu saya juga untuk pura-pura menjadi calon istri saya agar orang tua saya tidak rewel."


"Apaan??! Gak mau, saya gak mau ah, Pak!" Tolak Clara mentah-mentah. Jalan begini saja dia tidak mau sebenarnya apalagi harus menjalani peran sebagai calon istri seorang duda seperti Galen. Ah pasti akan merepotkan dirinya. Secara juga duda ini pemain wanita. Bagaimana kalau dia dilabrak seperti di film-film? Atau karena kata kastanya berbeda jadi dia diusir secara tidak hormat? Tidak, tidak mau!


"Saya tidak suka ditolak dan tidak menerima penolakan. Anggap saja ini hutang Budi kamu terhadap saya yang sudah menyelamatkan reputasi kamu di kampus."


Tentu Galen memahami situasinya, Clara dimanfaatkan dan akan dipermalukan satu kampus. Bukankah dia sangat berjasa dalam hal ini? Wajar kan kalau dia ingin mendapatkan bayaran setimpal? Ini namanya bisnis, tak heran dia menjadi pebisnis yang sangat sukses.


Clara membulatkan matanya, apalagi Galen mengatakannya tanpa rasa berdosa begitu. Yaampun bagaimana ini? Belum lagi Nabila jiga pasti ikut, ini kenapa malah jadi rumit sih. Seketika Clara menyesali perbuatannya beberapa jam lalu.


"Pak, harus banget ini. Bayar pake yang lain gak bisa?" Tanya Clara mencoba bernegosiasi.


"Tidak, pesanan kita sudah datang. Silahkan di makan. Setelah ini saya juga yang akan antar kamu pulang sampai selamat. Mari."

__ADS_1


Galen mengatakan itu tanpa rasa berdosa sedikit pun. Setelahnya dia menaruh iPad milik ya dan menyuapkan pasta carbonara itu ke dalam mulutnya. Sekilas senyuman itu terbit dari bibirnya, salah sih kalau Clara berurusan dengan seorang Galen. Dia tidak akan bisa lepas.


Clara merutuki dirinya dalam hati, tamat deh riwayatnya. Sudah akan digosipkan di kampus, sekarang harus begini pulang.


"Maaaaa tolong, Clara mau diculik duda gila!!!" Batin Clara menangis.


.


.


.


Beres makan siang, benar saja dong Galen mengantarkannya pulang, tidak lupa juga dengan membawa Nabila pulang. Karena sudah waktunya pulang. Tadinya dia ingin pindah ke belakang, tapi Nabila menolaknya dengan mengatakan kalau dia ingin rebahan di kursi belakang. Cih sangat menyebalkan!


"Oh gini ya rasanya punya mama dan papa utuh," celotehnya dari belakang.


Clara menoleh dan menatap Nabila tajam, namun dia kasian juga sih dengan Nabila yang bilang seperti itu. Kasian dia tidak memiliki ibu sampai dia harus menjadi anak yang cari perhatian begini.


"Apasih, Bil. Mama mama aku ini bukan mama kamu!" Kesal Clara.


"Loh, Sayang. Kamu lupa dengan lamaran saya barusan?" Tanya Galen jahil.


Nabila tentu tau dong akal-akalan ayahnya. Tidak mungkin Clara menerima lamaran ayahnya atau ayahnya melamar Clara. Karena Galen sudah bilang kalau dia akan melamar seseorang pasti akan bilang terlebih dahulu pada Nabila.


"Apasih, Pak. Allahu, udah deh mending saya turun di sini aja," ucap Clara frustrasi.


Nabila tertawa kencang di belakang, bagaimana ya? Dia senang saja menjahili Tante Claranya itu. Bagi Nabila ada kepuasannya tersendiri dan membuat Nabila tidak kesepian karena ada ocehan dan Omelan dari Clara.


"Dih Tante malu-malu, padahal mau juga sama Papanya Nabila. Lagian pacarmu yang kemarin itu jelek tau, Tan. Kaya jamet kuproy!" Ledek Nabila.


"Sembarangan apa kamu bilang?! Jadi kamu bilang Tante seleranya jamet kuproy gitu?!" Tanya Clara kesal.


Setelah itu Nabila terbahak-bahak. Sebenarnya tampan saja sih, tapi menurut Nabila papanya lebih tampan dan Clara lebih cocok dengan Galen daripada dengan Darren. Namanya juga anak-anak, tapi biasanya anak-anak itu jujur. Tidak tau ya kalau anak-anaknya seperti Nabila ini.

__ADS_1


Nabila tertawa puas saat melihat raut wajah dongkol Clara sementara Galen sih santai saja dengan kalemnya dia masih bisa tersenyum melihat pertengkaran anak dan calon mamanya ini. Tunggu calon mama? Sudah gila memang Galen.


"Besok minta dandanin Tante Clara ya, Sayang. Ada acara di rumah Oma dan Opa," ucap Galen.


"Acara apa, Pa?" Tanya Nabilla


"Party."


"Tante Clara ikut?!!" Tanyanya tak menyangka.


Galen hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan, membuat Clara malah menghela napasnya karena tidak tau harus bagaimana. Lagi, merepotkan saja. Masa iya harus dia juga yang mendandani Nabila.


Berbeda dengan Nabila yang kini malah memiliki ide untuk melancarkan keinginannya. Dia memang bodoh dalam pelajaran tapi kalau soal begini tentu dia jagonya.


"Pak saya banyak tugas besok," ucap clara mencoba mencari alasan.


"Besok kamu bukannya tidak ada acara?" Tanya Galen.


"Loh kata siapa, Bapak?! Saya ini mahasiswa kolot udah pasti sibuk, nahkan sotonya Nabila ini turun dari bapaknya," celetuk Clara.


"Setiap Minggu di hari besok kamu selalu ada di rumah, jadi?"


Clara memejamkan matanya, ini Galen tau darimana sih? Perasaan mereka jarang bertemu, jarang bersapaan tapi sudah seperti Intel saja. "Tapi tugasnya banyak banget!"


"Saya bisa bantu, mau saya bantu?" Tanyanya.


Clara semakin ketar ketir ini, kenapa sih susah sekali menghindar dari ini semua. Dia tidak mau ke sana, sudah pasti akan semakin rumit ke depannya. "Pakk ... "


"Kamu sendiri yang memulai permainan, tapi tidak mau memainkannya sampai akhir," ucap Galen dengan tampang datarnya.


"Oke!"


Clara tak dapat berkutik lagi dengan itu, dia yang memang memulai segalanya. Dia juga yang harus bertanggung jawab. Nabila tidak tau sih apa yang terjadi dengan papa dan Tante Claranya tapi yang pasti dia senang sekali karena Clara ikut bersama mereka nanti.

__ADS_1


__ADS_2