Dilamar Anak Duda

Dilamar Anak Duda
Kenalin, Pacar Baru Gue!


__ADS_3

Clara bergegas menuruni mobil Galen setelah pamit pada pria itu. Dia tidak bisa lama-lama di mobil itu. Bukan hanya anaknya saja yang meresahkan, tapi bapaknya juga meresahkan. Tobat deh Clara menghadapi duda beranak satu itu yang sejak tadi menggodanya.


Kan ngeri ya, dia jadi takut sendiri. "Dasar pedofil! Gue kan masih kicik gini, dia malah ngomongin nikah, punya anak, kissing! Duda gila!" Gerutu Clara sembari terus berjalan menelusuri loby kampus.


Tanpa dia sadari kalau kedua temannya itu mengekor dari belakang, iya mereka juga melihat Clara turun dari mobil mewah dan terdapat hot daddy di sana.


"Ciee, gebetan Lo sekarang daddy-daddy?" Goda Diva dari belakang.


Clara yang kaget langsung berbalik dan mendapati kedua temannya ini sedang senyam senyum penuh arti. Ah apalagi ini, apa mereka melihat Galen tadi? Oh tidak, mau ditaruh di mana mukanya?


"Keren Daddy lo, kenalin dong." Kini giliran Verona yang menggoda Clara seraya menggandeng gadis itu untuk masuk ke kelas.


Diva juga begitu, pokoknya sekarang dia diapit oleh keduanya. Membuat Clara jadi tidak bisa kemana-mana sekarang. "Aduhhh kalian salah paham anjir."


"Salah paham gimana, orang jelas tuh."


Clara menggeleng, nahkan sudah dia duga. Kalau ketahuan begini dia yang akan dicecar berbagai pertanyaan oleh teman-temannya. "Aduh bukan gebetan gue. Lo tau kan si Nabila tetangga gue itu?"


"Bocah nyebelin yang pernah nyeburin lo ke selokan?" Tanya Diva.


"Bocah yang suka buat onar terus lo, harus ke sekolah buat urusin tu anak?" Tanya Verona.


"Iya itu! Nah itu bapaknya dia. Tadi gue dipaksa bareng sama bocah, mau gak mau gue ikut," ucap Clara.


Diva dan Verona melongo sih. Jadi itu duda yang ada di dekat rumah Clara? Kalau begini caranya mereka jadi tidak menyukai sesama mahasiswa tapi duda juga boleh. "Gue bakalan sering-sering main ke rumah lo!"


Clara menatap heran pada Diva. Kesambet apaan ini anak sampai ingin main ke rumahnya hanya karena ada Galen. "Dia duda karatan 10 tahun, yakin lo?"


"Loh sekarang bukan liat status, asal nyaman ya gas aja. Kenapa lo gak jadi ibu sambungnya Nabila si bocah kampret itu?" Tanya Diva.


"Ogah. Lo tau gak sih om-om itu suka buat asusila. Masa semalem gue mergokin dia dari balkon lagi ciuman di taman rumahnya. Gila mata gue ternodai!"

__ADS_1


"Gila?! Sumpah?! Tapi biasanya om duda itu jago muasin!" Sambung Verona. Jangan heran, dari mereka bertiga dialah yang paling mesum.


"Gila loh, pikiran lo kotor banget! Kenapa bahas Pak Galen sih. Nyeremin!" Ucap Clara. Masalahnya dia jadi kepikiran kata kata Nabila lagi yang memintanya jadi ibu sambung.


Bikin kacau pikiran saja. Belum lagi Galen menyinggung soal pernikahan sepanjang jalan, apa Nabila itu sudah bilang pada ayahnya atau bagaimana tidak tau deh. Bikin repot saja anak kecil itu.


"Ih dia keren tau, hot daddy. Kaya, tampan, mapan, ah gila perawanin dedek, Om!" Teriak Verona yang membuat semua orang menatap ke arah mereka.


Sumpah bikin malu, daripada mereka ikut malu, akhirnya Clara dan Diva memutuskan untuk meninggalkan Verona sendirian masuk ke kelas. Lagian kenapa harus membahas Galen sih. Mana siang ini sudah itu akan menjemputnya untuk makan siang lagi. Mampus.


.


.


.


Hari ini hanya ada dua matkul dan Clara sudah menyelesaikannya tepat jam 12. Saat dia sedang asik bercanda, tiba-tiba matanya tertuju pada Galen yang sudah bersidekap dada di pintu mobil dan menatap Clara yang baru keluar.


Clara, Verona, dan Diva melongo. Bisa-bisanya duda itu memanggil Clara saat dia menjadi pusat perhatian begitu. Belum lagi Clara memang famous juga. Aduh jadi bahan gosip deh ini.


Clara yang merasa dipanggil buru-buru turun dan diikuti oleh kedua temannya yang kini mesem-mesem melihat ketampanan seorang Arsenio Galen Mahardika. "Pak Galen beneran ke sini?"


"Saya kan sudah berjanji, ayok," ajaknya.


"Tapi–"


Galen tak menghiraukan wajah pucat Clara yang ada di hadapannya, langsung saja dia menggenggam tangan Clara dan menariknya ke pintu seberang. Namun ....


"Clar!" Darren tiba-tiba datang dengan raut wajah emosi.


"Apa-apaan?" Lanjutnya.

__ADS_1


Clara yang ditatap seperti itu keanehan, kenapa ini orang marah-marah, bukannya dia sudah tidak ada hubungan lagi ya dengan pria itu. "Hah?"


"Baru putus dan lo udah punya yang baru? Gila!" Ketusnya seraya melirik ke arah Galen dengan sinis.


Tatapannya seolah meremehkan karena merasa Clara mendapatkan yang jauh dibawahnya. Memang sih Darren yang memutuskan Clara, tapi sungguh gadis itu memiliki yang baru secepat ini apalagi om-om?


Clara sebenarnya ingin menyangkal, tapi entah kenapa raut wajah Darren ini menyenangkan untuk dipermainkan. Kalau belum pernah melihat seorang wanita memporak porandakan hati seorang pria. Biar Clara tunjukan sekarang. "Emang kenapa? Bukannya lo yang putusin gue ya?!"


"What? Iya gue tapi, are you kidding me, Clar? Lo gak gamonin gue apa?" Tanyanya tak percaya, pasalnya Darren sudah percaya diri sekali kalau Clara ini sangat mencintainya kemarin.


"Gamon? Oh sorry, gue gak suka buang-buang waktu. Kalau ada yang pasti kenapa engga, kenali pacar baru gue. Arsenio Galen Mahardika, CEO MH Group, mapan, kaya tampan dan matang. Ayok kenalan!" Clara menatap Galen yang kini menatapnya heran. Tapi gadis itu memberi isyarat agar Galen mau mengikuti permainannya.


Alis Galen terangkat seolah memberikan penawaran, lalu Clara mengangguk saja seolah apapun yang Galen inginkan akan dia penuhi. Membuat Galen tersenyum miring dan mengulurkan tangannya dengan matang. "Galen, saya calon suami Clara."


Clara membulatkan matanya, tunggu! Calon suami katanya? Mendadak Clara tergagu, apalagi Diva dan Verona yang kini nampak kaget, belum lagi orang-orang yang menjadikan ini tontonan.


Lagi, tiba-tiba Galen merengkuh pinggang Clara agar mendekat membuat napas Clara tercekat. Kenapa jadi begini sih? Niatnya kan hanya untuk memanas-manasi mantannya. Kenapa jadi diperkenalkan sebagai calon istri. Ini gila, pasti dia akan benar-benar jadi bahan perbincangan mulai hari ini.


Di satu sisi Darren masih tak percaya dan menerima uluran tangan Galen. Bisa Galen rasakan kalau tangan Darren berkeringat, nampaknya pria ini kaget. Galen jadi merasa gentleman sekali sekarang.


"Lo gila," ucap Darren seraya menatap Clara. Dia merasa dipermalukan sekarang, dia memang bertaruh untuk mendapatkan Clara lalu membuatnya gagal move on tapi yang ada sekarang bukan gagal taruhan lagi, tapi wajahnya juga jadi taruhan.


"Emang gila, yaudah sana! Cowok kaya lo itu banyak kali di pasar, bisa gue dapetin. Muka kaya lo itu cocoknya jadi keset welcome, udah biasa aja, berengsek lagi, pergi! Gue mau makan siang sama calon suami gue!"


Mendengar itu Darren mengepalkan tangannya dan pergi dari sana. Hari ini tidak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Dipermalukan oleh seorang Clara.


Memang sialan Clara, tidak salah juga sih dia mendapatkan julukan fuckgirl kampus, karena dia memang semudah itu mendapatkan tambatan hati baru. Namun mereka tidak tau saja kalau sekarang Clara ketar-ketir, apalagi jaraknya sedekat ini dengan Galen. "Pak–"


"Iya calon istri, ada apa?"


What the hell ! KENAPA JADI BEGINI?!

__ADS_1


__ADS_2