Dilamar Mantan.

Dilamar Mantan.
dilamar mantan


__ADS_3

Setelah selesai mandi, gue segera pergi ke dapur. Rasanya, masih gak sanggup jika harus bertemu Rey sekarang.


Berasa udah gak punya muka!


Kalau aja gue gak kaget pas mau bangun ada tangan yang nyantol di pinggang gue, pasti gue gak akan bertingkah konyol seperti tadi.


" Dari pada mikirin ke jadian tadi, mending gue masak aja."


Gue segera menyiapkan bahan-bahannya.


Hari ini, gue masak nasi goreng spesial.


Lebih spesial lagi untuk, Rey!


" Jangan kira kejadian tadi bakal bikin gue baikan sama Lo, Rey. Ya, sekalipun gue tau gue yang salah. Tapi, kenangan masa lalu itu gak akan hilang begitu saja! Selamat mencoba, Rey."


Gue tersenyum penuh arti memandang nasi goreng yang gue buat untuk Rey.


" Ini adalah awal, bukankah Lo sendiri yang bilang gak akan nyesel? Sekarang kita lihat."


Gue semakin gak sabar liat eskpresi Rey nanti. Membayangkan saja udah buat gue tersenyum senang.


" Wah, kayak enak nih."


Papa yang baru saja turun langsung duduk memandang masakan gue yang tersaji di atas meja.


" Ya dong, siapa dulu dia yang masak."


Gue berbangga diri! Iya lah, secara setiap masakan gue gak pernah dapat nilai buruk dari papa.


" Masaknya juga seabad sekali! Itu pun kalau lagi rajin!"

__ADS_1


Mama yang baru saja tiba langsung merontokkan kepercayaan diri ini.


Duh mama, kenapa kalau ngomong suka bener sih?


Sangking bebernya, bikin nyesek!


Hiks


" Mama."


Gue merengek sambil cemberut!


" Udah gak usah pake ngambek segala! Mana Rey? Kenapa belum turun?"


" Masih di kamar!"


Gue jawab cepat! Sebel gue lama-lama.


" Pagi, ma, pa."


Udah lancar aja manggil mertua!


" Pagi, Rey. Ayo duduk kita sarapan."


Sama Rey aja lembut banget kek ager! Eh, bukan nya ager itu lembek ya? Sutra maksudnya.


Giliran sama anak sendiri? Udah kayak macan siap nerkam mangsa!


Gue heran sejak ada manusia yang namanya Rey masuk keluarga ini? Mama jadi berubah sama gue!


" Dea, kenapa bengong? Ayo ambilin sarapan buat suami kamu." Mama menyadarkan gue dari perang antara hati dan fikiran.

__ADS_1


Gue ambilin sepiring nasi goreng yang udah gue siapin untuk Rey.


" Nih."


" Makasih." Ucap Rey tersenyum menerima piring yang gue sodorin.


" Kalau layanin suami itu lembut sedikit dong! Masak kasar gitu!" Protes mama.


Untung gak gue lempar sekalian!


" Gak papa, ma. Lagian, Dea hanya belum terbiasa." Bela Rey.


Pake sok-soak belain gue!


Biar di bilang menantu idaman gitu?


" Udah ngobrolnya, sekarang kita sarapan." Papa menengahi perdebatan ini.


Semua orang mulai makan. Dan gue hanya memperhatikan Rey yang baru saja menyuapkan satu sendok nasi goreng.


Gue mulai menghitung!


Satu


Dua


Ti....


s e l a m a t m e n i k m a t i m e m b a c a n y a


j a n g a n l u p a t e k a n l i k e 👍 k o m e n d a n

__ADS_1


m e m b e r i v o t e s e b a n y a k - b a n y a k n y a


T E R I M A K A S I H


__ADS_2