
POV Reyhan
" Gue kasih Lo kesempatan terakhir buat batalin pernikahan ini! Atau Lo bakal nyesel!"
Dea memberi ultimatum pada ku. Tapi kamu harus tau Dea, bahwa aku gak akan pernah menyesali apapun!
Cukup sekali aku menyesal dulu.
" Tapi, sayangnya aku sama sekali gak berniat membatalkan pernikahan ini. Bahkan kalau bisa, sekarang juga kita pergi ke KUA."
Ku pandang Dea yang begitu kesal pada ku.
" Lo bener-bener nyebelin ya! Sebenernya mau Lo tuh apa sih!"
Dea semakin galak, semakin cantik. Bahkan dulu aku penasaran dan tertarik padanya karna dia galak? Dan mau bagaimana pun kamu mengancam ku, aku akan tetap bertahan.
" Mau aku..... nikahi kamu." Jawab ku santai.
" Reyhan!!!!" Dea terlihat frustasi. Tapi, aku sangat senang melihatnya marah seperti ini. Karna jika marah sungguh menggemaskan.
Teringat dulu saat kami masih kuliah, Dea selalu disebut dengan cewek galak. Yang ucapannya ceplas-ceplos, tapi apa adanya.
__ADS_1
Dea tidak seperti perempuan pada umumnya yang berdandan WAW hanya untuk menarik perhatian pria. Tapi, Dea adalah wanita yang sederhana, apa adanya, dan tak memilih untuk berteman. Sekali pun temannya dari kalangan bawah.
Awalnya aku tak perduli dengan wanita di sekitar ku. Tapi, aku mulai perduli pada seorang Dea sejak salah satu teman ku menjadikannya taruhan.
" Siapa di antara kalian yang berani mencium Dea si cewek galak itu, gue kasih apartemen." Ucapan Beni salah satu teman ku yang namanya cukup populer di kampus.
" Gue mah ogah! Salah sedikit, babak belur gue. Mending gue jadi penonton aja." Jawan Zidan si playboy di kampus.
" Lo playboy tapi penakut! Ok gue berani, inget janji Lo Ben." Ucap feri menatap Beni.
" Lo tau gue? Gue orang yang pantang menarik omongan gue."
Feri berjalan dengan percaya diri menuju meja tempat Dea dan Mia yang sedang makan. Tanpa aba-aba Feri langsung mencium Dea.
Tapi detik berikutnya, membuat semua orang tak percaya termasuk aku.
Plaak
" Lo berani nyium gue! Bosen idup!"
Dea yang emosi langsung menampar Feri. Bahkan Dea sudah mencengkram kerah baju Feri, meski Dea lebih pendek dari Feri, aku bisa melihat tenaganya jauh lebih kuat dari Feri.
__ADS_1
" Udah, De. Ini kampus! Apalagi kita di kantin." Mia mencoba menengahi. Karna tindakan Dea cukup membuat gaduh suasana kantin.
" Gue gak perduli! Dia udah berani lancang sama gue! Dan dia harus terima akibatnya!"
Feri yang tadinya PD seketika nyalinya cium saat menghadapi kemarahan Dea. Dan sebelum Dea berhasil memukul Feri, Dea sudah lebih dulu di geret paksa oleh Mia.
Sejak saat itu, aku mulai penasaran dan tertarik padanya. Meskipun awalnya susah, namun perlahan aku bisa meluluhkan hati Dea. Tapi, semua keindahan dan kebersamaan itu sirna karena sebuah kejadian yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
_______________
" Dea, bisakah kamu memaafkan aku." Setelah lama hening, ku beranikan bicara.
" Apa yang perlu di maafkan? Karna aku juga gak perduli dengan apa yang kamu lakukan!"
Kata-kata Dea cukup menusuk hati. Tapi, aku sadar berada di posisi Dea juga tak mudah. Mungkin jika aku menjadi Dea, bisa jadi sudah ku cincang wanita itu bersama pacarnya jadi kornet.
Tapi, Dea saat itu memilih pergi setelah memergoki pacarnya bersama wanita lain dalam satu selimut dengan kondisi setengah telanjang dan berpelukan.
" Tapi aku mau jelasin sama kamu."
" Dan aku tak butuh penjelasan!" Kilatan amarah itu terpancar dari matanya.
__ADS_1