
Diceramahi oleh laki-laki itu.
Ingin diam, tapi mulutnya ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur laki-laki itu. Entah, mungkin Nina sudah tidak waras. dia baru saja bertemu dengan Devan, bahkan laki-laki itu yang membawanya ke hotel. seharusnya Nina lebih waspada dan tidak berurusan dengannya kembali, namun nyatanya Nina lagi yang kembali mendekati duluan.
" Om? lagi sedih ya?" tanya Nina.
" Menurutmu?" Tanya Devan.
" Aku pikir kamu sedang sedih," jawab Nina.
" Baguslah kalau tahu," Ucap Devan.
Laki-laki itu meskipun sedih tapi ekpresi nya tetap sama, terlihat cool dan tegas. nyali Nina menciut beberapa kali bertatapan dengannya. Apa kabar wanita yang menjadi istrinya nanti, apakah setiap hari disuguhi ekpresi seperti itu? pasti istri nya akan takut melihat wajahnya yang tegas dan sepertinya dia juga tidak romantis. Nina jadi membayangkan nasib istri Devan nantinya. kasihan sekali.
" Membayangkan apa? " tanya Devan yang membuat lamunan Nina buyar.
" Ouh, engga! aku engga membayangkan apa-apa" Ucap Nina.
__ADS_1
" Siapa tadi namamu? "
" Nina, Om "
" Usiamu tidak jauh beda darimu, Kenapa harus memanggil Om? Kamu membuatku jadi lebih tua " Protes Devan.
" Bukannya memang sudah tua, Ya? "
" Sembarangan " Gertak Devan.
Nina terkekeh. dia harap Devan bisa lebih terhibur walaupun hanya candaan seperti itu.
" Hotel " Jawab Devan.
Nina menelan ludahnya kasar dan menoleh pada Devan. Laki-laki itu baru saja mengatakan akan membawa Nina ke hotel. Nina merinding, dia jadi membayangkan apa yang akan Devan Lakukan padanya. sementara Devan masih marah, emosi dan kecewa dengan wanita tadi di tempat makan. Pikiran Devan yang sedang kacau bisa saja membuat tindakannya menjadi tidak terkontrol juga.
" Bercanda " Ucap Devan.
__ADS_1
Nina bernapas lega, akhirnya Devan tidak membawanya ke hotel. lalu, kemana dia akan membawa Nina?
Nina diam dan pasrah saja kemanapun Devan akan membawanya. lebih baik Nina berada dimana pun asal tidak pulang ke rumah. dia malas jika harus berurusan dengan ayah dan kakak tirinya yang tidak pernah memperlakukan dengan baik itu.
Mobil Devan berhenti di sebuah kafe kecil. Nina segera turun dan mengikuti langkah Devan masuk ke kafe itu. Nina terkejut setelah masuk lebih dalam, kafe itu ternyata dalam nya sangat luas, padahal jika dilihat sekilas dari luar, bangunan kafe ini tampak kecil.
Devan menyapa beberapa orang. sepertinya dia sering datang ke tempat ini dan sudah mengenal baik pegawai disini.
Devan berbicara dengan salah satu pegawai kafe, sementara Nina menunggu agak jauh dari tempat Devan. pegawai itu sempat melihat ke arah Nina dan tersenyum sebentar, kemudian kembali berbicara dengan Devan.
setelah selesai, Devan mengajak Nina kesebuah ruangan khususnya, yang seperti bisa dipesan secara VIP. Nina langsung duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Devan berdecak melihat tingkah Nina yang menurut nya persis seperti bocah.
Devan melepas jas dan kamejanya lalu berganti dengan kaos. Nina melihat Devan bertelanjang dada dan membuat matanya tak berkedip sekalipun.
" Bukan tontonan gratis " ucap Devan.
" Salah sendiri berganti baju sembarangan, wajar jika menjadi tontonan gratis " balas Nina.
__ADS_1
" Ck."
Devan langsung menatap kesal pada Nina. membuat wanita itu harus memalingkan mukanya dan bersikap acuh. Nina tidak habis pikir kenapa bisa dirinya berurusan dengan seorang Devan lagi.