
Nina masuk ke sebuah restoran yang belum pernah dia datangi sebelumnya. dia random memilih tempat makan karena sudah tidak tahan dengan lapar yang menyiksanya. Nina memilih tempat duduk dan memesan beberapa menu. uang yang diberikan Devan masih cukup untuk membeli makanan dan lainnya. laki-laki itu memberikan uang yang lumayan banyak kalah hanya untuk makan dan ongkos pulang saja.
Nina harus ke toilet, keadaan rumah makan masih sepi tapi ada beberapa pengunjung di beberapa sudut ruangan. rumah makan ini sngat luas dan berkonsep alam karena banyak bunga dan tanaman lainnya didalam dan beberapa tempat terbuka tanpa atap. nina segera menuju toilet dan menuntaskan hasrat yang sejak tadi dia pendam. maksudnya, Nina tahan.
Nina keluar dari toilet dan melihat sekitar. matanya fokus tertuju pada meja yang ada disudut ruangan. Nina menajamkan penglihatan dan benar dia melihat seseorang yang dikenalnya.
" Bukankah itu, Om devan? dengan seorang wanita? "
Nina ingin tidak peduli, namun hatinya mengatakan hal lain, padahal perutnya lapar, namun dia tahan dan memilih untuk bersembunyi di dekat rak bunga.
Dari tempatnya sembunyi, Nina bisa mendengar percakapan antara devan dan wanita itu. Nina pikir dia sudah tidak waras karena kepo dengan urusan orang lain. namun rasa penasaran mengalahkan segalanya.
" Ay, kita sudah mengenal lama, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, " Ucap devan.
" Kenapa serius sekali, Van? mau ngomong apa? " Vanya tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
Sementara devan, dengan wajah tampan nya, meskipun terlihat tenang, namun jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
" Aku dan kamu sama-sama dewasa, kita sudah berumur 30 tahun. aku juga menunggumu hingga kamu mencapai apa yang kamu cita-citakan sejak dulu. jadi... bolehkah aku menjadi teman hidupmu dalam ikatan yang sah? aku ingin melamarmu, " Ucap devan.
__ADS_1
Senyum di wajah Vanya memudar. wanita dewasa itu memundurkan tubuhnya da tidak menunjukkan wajah bahagia sama sekali, padahal devan sedang melamarnya.
" Kenapa tiba-tiba sekali, Van? "
" memangnya kenapa? Aku sedang melamarmu dan kamu tinggal mengatakan iya, apa susahnya? "
" Bukan begitu, Maksudku.... "
" Alasan apalagi, Ay? " Tanya devan.
Vanya diam untuk beberapa saat, sementara devan menatap Vanya dalam diam tanpa mengalihkan matanya dari wanita cantik itu. sudah cukup lama devan menunggu vanya. hari ini dia ingin melamar wanita cantik itu dan menjadikannya istri. Delapan tahun devan menunggu dan itu cukup membuatnya lelah. dia ingin penantiannya tidak sia-sia.
" Aku belum siap, Van, " Ucap Vanya lirih.
" Aku... Aku... "
" Kamu mencintai laki-laki lain? " tanya devan tanpa mengalihkan tatapannya pada Vanya.
Vanya menunduk dan terdiam cukup lama.
__ADS_1
Devan mengepalkan tangannya erat. emosi kini menguasai dalam tubuhnya, namun dia tidak bisa berbuat apapun. rasa cinta dan penantiannya selama ini di hancurkan oleh pengkhianatan Vanya.
" Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi, " Ucap devan.
" Van, Maafkan aku. Maaf, Aku nggak bisa menjaga janjiku padamu. aku... "
" Cukup! Pergilah! " Bentak devan.
" Tapi... "
" Pergi! "
Vanya menunduk dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. dia segera pergi meninggalkan devan.
Sementara devan masih bertahan di kursinya sambil menunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Nina berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri devan. Nina duduk disebelah devan dan mengambil tissu.
" Butuh Tissu? "
__ADS_1
Devan mendongak dan melihat wanita yang tidak ingin dia temui. namun senyum Nina membuat devan merasa lebih baik.
" Aku tidak butuh tissu, tapi aku rasa aku butuh kamu! "