
Nina tidak habis pikir kenapa bisa dirinya berurusan dengan seorang Devan. jika dipikir lagi, ini bukan salah Devan, melainkan Nina. dia lah yang memulai pertemuan ini. sejak awal di club itu, Nina lah yang membuat masalah lebih dulu dengan mabuk dan menabrak tubuh Devan. Lalu hari ini, dialah yang lebih dulu menghampiri Devan dan memberikan tissu pada laki-laki itu. Walaupun kenyataannya, tissu itu tidak berguna, dan justru Devan menyeret Nina ke tempat ini.
Nina terus saja mengamati semua gerakan Devan, setelah dia mengganti kemeja nya dengan kaos, laki-laki dewasa itu mengambil minuman yang ada di sebuah rak tertutup. Mata Nina membulat ketika Devan menuju ke arahnya dengan membawa sebotol wine.
Minuman itu lagi. Nina menelan ludahnya kasar. Dia berjanji untuk tidak menyentuh minuman beralkohol itu lagi. Nina tidak mau membuat masalah ketika dirinya dalam keadaan mabuk.
" Apa yang akan kamu lakukan? Minum wine?" tanya Nina.
Devan yang duduk disebelah Nina hanya menoleh dan menatap tajam. Devan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Nina dan sibuk menuangkan wine itu ke dalam gelas.
Nina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Nina pikir Devan laki-laki yang taat aturan dan tidak sembarangan Minum-minuman beralkohol, namun sepertinya Nina salah. Devan sekarang sudah meneguk wine itu.
" Mau? " Tanya Devan.
__ADS_1
Nina menggeleng. Dia tidak mau berurusan dengan minuman itu. Walaupun baunya sangat menggoda, tapi Nina harus kuat iman. Lebih baik dia minum air putih daripada minum wine itu.
" Sudah, Om. Nanti mabuk gimana? "
Dengan wajah polosnya Nina meminta Devan untuk berhenti minum. Nina sekarang duduk lebih dekat dengan Devan dan menarik tangan laki-laki itu yang hendak mengarahkan segelas wine ke mulutnya. Gelas berisi wine itu terguncang dan tumpah sedikit. Devan langsung menoleh dan tatapannya mengarah tegas pada Nina.
Nina menatap balik Devan tanpa melepas pegangan tangannya. Dia tidak ingin Devan terpengaruh wine dan mabuk. hanya itu.
Nina kembali teringat kejadian di tempat makan. Devan merasa sedih dan kecewa dan menurut nya untuk melampiaskan itu dengan mabuk.
" Lalu untuk apa menyuruhku ikut bersamamu kesini " tanya Nina.
Harusnya dia bertanya sejak tadi pada Devan. Nina hanya mengikuti Devan tanpa tahu apa yang diinginkan oleh laki-laki itu. Harusnya Nina takut, namun entah kenapa Nina justru merasa aman saat bersama Devan. Perasaan yang tidak pernah dia dapat ketika di rumah.
__ADS_1
" Untuk apa lagi, tentu saja menemaniku minum. "
Nina bernapas lega. Kalau hanya menemani nya minum itu tidak jadi masalah, asal Devan tidak berbuat Macam-macam padanya.
" Kenapa harus minum sih, Om? Kan ada cara lainnya. Makan misalnya? Atau pergi ke tempat yang menenangkan dan jauh dari hiruk pikuk keramaian " Ucap Nina.
" Hm. Aku jarang minum kok. Ini baru kedua kalinya aku minum " Ucap Devan.
Baru dua kali? Nina yakin Devan tidak akan kuat lama minum wine itu. Devan sebentar lagi pasti roboh dan mabuk.
Nina menoleh dan Devan sudah menuangkan wine ke dalam gelas untuk yang ketiga kalinya dan laki-laki itu sepertinya sudah mabuk.
" Sedih boleh, Om, tapi jangan berlarut-larut. Om Devan pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dia. "
__ADS_1