Dinikahi Om Galak

Dinikahi Om Galak
Om Tampan


__ADS_3

"Bukankah rugi Jika aku tidak menikmati tubuhmu? "


"A...Apa? "


Nina mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya. matanya mulai Berkaca-kaca membayangkan apa yang dilakukannya tadi malam. Apakah semudah ini dia menyerahkan Keperawanannya kepada orang lain, dalam keadaaan mabuk pula. Nina menunduk, berusaha mengingat kejadian tadi malam, namun kejadian satu malam pun dia tidak ingat.


Nina berusaha memeriksa titik sensitif nya dibawah sana, namun tidak merasa sakit sama sekali, harusnya jika melakukan hubungan pertama kalinya akan sakit dan sakitnya masih terasa setelah selesai. Namun, dia tidak merasakan apapun, apa laki-laki tadi berbohong? lalu kenapa dia hampir telanjang begini? Tanya Nina dalam hati.


Nina mendongak dan melihat laki-laki tadi yang dia perkiraan beda umur dengannya 5-10 tahun. laki-laki itu sedang duduk di kursi dan meminum kopi. Nina menelan ludahnya kasar, mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu. Nina takut kalau saja laki-laki itu ternyata jahat dan akan menyakitinya. tapi, tidak ada pilihan lain, Nina harus berani bertanya.


"Ka... kamu siapa?" Tanya Nina.


Laki-laki itu tidak merespon pertanyaan Nina dan masih menikmati secangkir kopi ditangannya. Dia kembali meminum kopi itu, kemudian menoleh kepada Nina.


" Harusnya aku yang bertanya, siapa kamu? "


Nina menelan ludah kasar. tatapan mata laki-laki itu sngat tajam dan menusuk, membuat nyali Nina menciut seketika.

__ADS_1


" Namaku Nina, om."


Nina tanpa sadar menggunakan panggilan itu padanya. panggilan yang sama digunakan waktu menggodanya di club malam.


" Om? Kapan aku menikahi adik ibumu? "Tanyanya ketus.


" Maaf aku hanya mengira kalau umurmu jauh lebih tua dariku, " Ucap nina dengan takut.


" Namaku devan, Ada yang ingin kamu tanyakan?"


Bukannya merespon perkataan nina mengenai umur, devan justru menatap tajam pada wanita yang ada didepannya. sorot mata devan membuat nina kagum sekaligus takut secara bersamaan, devan, laki-laki dewasa dengan tubuh bagus dan wajah yang tampan. beberapa saat nina tidak berkedip matanya.


"Melakukan apa? lebih jelas kalau tanya karna kita melakukan banyak hal, " ucap devan dengan senyum menyeringai.


Jantung nina berdetak lebih kencang dari biasanya. bagaimana tidak, devan mengatakan hal yang membuat nina malu.


" Me... melakukan itu, maksudku... berhubungan selayaknya suami istri, " Ucap nina.

__ADS_1


Nina tidak menyangka akan menjawab perkataan devan seperti itu. Nina malu, tapi apa boleh buat, dia harus menyelesaikan ini semua dan harus jelas, apakah dia sudah berhubungan badan dengan devan.


" Menurutmu?" Tanya devan.


" Aku gak ingat," Jawab Nina.


" Memangnya kamu tidak bisa menebaknya?" Tanya devan.


Nina diam dan berpikir. sepertinya memang belum terjadi apa-apa antara dirinya dengan devan. Nina kembali memeriksa dibagian sana dan rasanya seperti biasa.


" Nggak terjadi apa-apa antara kita, benarkan, om?" Tanya Nina.


Devan berdecak kemudian berjalan naik ke atas kasur mendekati nina. wanita itu semakin mundur dan mengeratkan selimut ulang menutupi tubuhnya. dia saat ini takut dengan tatapan devan yang tidak bisa diartikan. devan terlihat sangat misterius dan tidak bisa ditebak.


Devan hanya tersenyum dan mendekati Nina yang sedang ketakutan. keduanya saling menatap dalam diam, hingga tangan devan meraih selimut yang menutupi tubuh Nina.


Nina pikir, devan akan menarik selimut iitu, jantung nya sudah berdetak tidak karuan dan takut, namun diluar dugaan devan justru menaikan selimut Nina mencapai lehernya sampai atas.

__ADS_1


"Aku tidak tertarik dengan gadis kecil sepertimu," Ucap devan sambil turun dari atas kasur.


__ADS_2