
Nina melongo mendengar perkataan dari devan. dia mendadak kesal karena devan memanggilnya dengan sebutan gadis kecil.
"Lalu kemana bajuku? " Tanya nina.
" Laundry, "Jawab devan.
" Laundry? "
" Sudah kuduga kalau kamu tidak mengingatnya. kamu muntah dan melepaskan pakaian mu sendiri, " ucap devan.
" Apa? "
Nina hampir saja tidak percaya dengan apa yang dibicarakan devan. pengaruh wine sangat buruk bagi Nina. dia bisa menjadi seliar itu dalam pengaruh wine. Rasanya Nina ingin memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Duh, Nin. apa yang sudah kamu lakukan? dalam pengaruh wine itu, bisa bisanya menjadi seliar itu menggoda laki-laki, " Batin Nina.
Nina masih tidak percaya akan berakhir seperti ini. apa yang akan dilakukannya setelah ini?
" Bisakah aku pulang? Aku gatau ini dimana, " Ucapku.
" Lantai 5 Hotel, " Jawab devan.
Nina melihat sekitar. dia sudah menebak kalau tempat ini adalah hotel. kamar tampak bersih rapih sama wangi dan yang utama adalah luas.
Nina berani bertanya pada devan. Laki-laki itu sedang memegang ponsel dan fokus dengan benda pipih itu. dia tidak merespon pertanyaan dari Nina. jika dilihat lagi, devan juga tidak menggunakan baju. apakah muntahan Nina juga mengenai tubuhnya.
Nina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. dia merutuki dirinya sendiri karena sudah melakukan hal bodoh lalu berakhir seperti ini. jika saja dia tidak menuruti kata Andreas untuk meminum wine itu, tidak mungkin dirinya berakhir mabuk dan menggoda laki-laki dewasa.
__ADS_1
Sebenarnya bukan sepenuhnya salah andreas, karna Nina juga ingin mencoba minum fermentasi buah anggur itu. rasanya memang enak, sesuai dengan harganya, tapi Nina tidak ingin mengulanginya. masih ada minuman lain yang lebih enak seperti jus, teh atau kopi.
"Kamu datang ke club dengan teman? " Tanya devan tiba-tiba.
Nina awalnya menunduk, harus mendongak untuk melihat devan.
"Iya, aku datang bersama teman. "
Nina lupa mengabari teman-teman nya. mereka pasti khawatir dirinya menghilang begitu saja. Nina memeriksa dikanan dan kirinya. dia lupa kalau tidak membawa apapun disaat menuju toilet dan bertemu dengan devan. Ponsel miliknya masih berada dimeja. Nina menghela nafas pelan. Dia bingung harus memberitahu siapa tentang keadaannya saat ini.
Nina teringat dengan rumah. Dia yakin ayahnya akan marah besar karena semalam tidak pulang. Hubungan Nina dan ayahnya tidak baik. laki-laki itu seperti tidak menyayangi Nina seperti dia menyayangi kakaknya...Hani. ayah selalu membandingkan Nina dan hani. apapun yang Nina lakukan tidak akan pernah benar dan selalu salah. tak jarang, hermawan memaki, membentak dan memukul Nina. perlakuan yang berbeda itu membuat Nina muak dan ingin keluar dari rumah itu. sayangnya, Nina belum bisa melakukannya. Nina teringat dengan pesan ibunya sebelum meninggal, dia harus bersama dengan hermawan dan kakaknya apapun yang terjadi. 10 tahun sudah Nina harus bertahan dengan ayah dan kakeknya, namun tidak ada perubahan sama sekali. setelah ibunya meninggal, hermawan dan hani berubah kasar. hermawan bukanlah ayah kandung Nina dan hani adalah saudara tirinya. ibu dan Nina berhutang budi pada hermawan karena menampung keduanya dirumah hermawan hingga menjadikan ibu Nina sebagai istrinya.
" Gadis nakal! harusnya kamu dirumah, bukan di club malam seperti itu, " ucap devan sinis.
__ADS_1
" Rumah? aku lebih suka dengan club malam daripada rumah yang seperti neraka, " Ucap nina.