Dinikahi Om Galak

Dinikahi Om Galak
Aku Butuh Kamu!


__ADS_3

" Om, aku lapar. "


" Ck! "


Devan berdecak, Namun segera menyeret Nina keluar dari kamar. sepertinya dia harus banyak sabar menghadapi wanita muda seperti Nina.


" Pelan-pelan, Om. kasar banget sih! " Protes Nina.


Devan menarik kasar tangan Nina keluar dari kamar hotel. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terlalu lama di dalam kamar bersama wanita, apalagi Nina yang terus saja mengikis stok sabarnya.


Tidak merespon perkataan Nina, devan memilih diam dan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya. dia menarik beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Nina.


" Aku sibuk. Carilah makan dan kendaraan untuk pulang. ingat! kita lupakan apa yang terjadi kemarin dan hari ini. Anggap kita tidak kenal. Paham? "


Nina menatap devan, kemudian beralih melihat tangan laki-laki itu yang terulur memberikan beberapa lembar uang. Nina ragu dan mengambilnya, tapi sekarang dia tidak membawa uang sama sekali, bahkan ponsel dan tasnya kemungkinan dibawa oleh yola. jika lebih mementingkan ego, Nina akan menolak uang itu. sayangnya, dia harus realistis, kebutuhan perutnya tidak dapat diganggu gugat.


Nina mengambil uang itu dari tangan devan dan tersenyum. setidaknya, uang itu cukup untuk makan dan memesan kendaraan menuju rumah yola.

__ADS_1


" Makasih, Om. "


" Hm. "


Ponsel devan berbunyi. dia merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu dari dalam sana. segera dia angkat dan pergi menjauh dari tempat Nina berdiri.


Nina beberapa kali melihat ke arah devan untuk memastikan apakah laki-laki itu sudah selesai dengan obrolannya. Nina tidak enak kalau harus pergi dari sini tanpa pamit dulu pada devan.


Setelah devan selesai dan kembali, Nina segera pamit, perutnya sudah lapar dan sia harus makan segera.


" Aku harap kita tidak bertemu lagu, "Ucap devan.


" Menjauhlah dariku dan anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya. "


" Males juga dekat-dekat, Soalnya Om galak, " Ucap Nina.


" Terserah. "

__ADS_1


Nina melihat devan dan laki-laki dewasa itu seperti menahan diri untuk tidak emosi. nina puas melihat ekpresi devan yang menurutnya lucu. Nina segera keluar dari hotel dan menjauh dari devan.


" Makan dulu, baru ke rumah yola, " Ucap Nina lirih.


Nina melihat minimarket yang ada diseberang jalan. dia harus masuk ke minimarket itu untuk membeli beberapa barang. untung saja devan memberikan yang lebih, yang bisa digunakannya untuk membeli jajan dan kebutuhan lainnya.


Jika dilihat lagi, devan laki-laki dewasa dengan wajah tampan dan tubuh yang bagus. Dia sepertinya juga berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, terlihat sempurna di mata para wanita. Nina sempat kagum saat pertama kali melihat devan. Namun, kekagumannya luntur karena sikap devan yang keras dan tegas sehingga terkesan galak.


Nina membayar dikasir, setelah itu keluar dari minimarket. dia melihat dia anak kecil yang mencari makanan ditempat sampah. Nina menghampiri keduanya dan memberikan jajan dan cemilan yang dibelinya tadi. mereka tersenyum kegirangan dan pergi dengan riang.


" Harusnya aku bersyukur, kalau saja aku nggak tinggal di rumah papa setelah kepergian mama, mungkin saja nasibku sama dengan mereka. "


" Walaupun dia memperlakukanku sangat buruk, setidaknya aku akan berterima kasih sedikit saja sebelum meninggalkan rumah itu, " Gumam Nina.


" Andai saja ada om-om kaya yang mau menikah denganku dan membahagiakanku sampai tua, aku akan menerimanya dengan senang hati. sayangnya mana ada yang mau denganku, " Ucap Nina lirih.


Nina mencari taksi yang sedang mangkal disekitar sana,

__ADS_1


Untung saja ada satu taksi yang belum mendapatkan penumpang. Nina segera masuk ke dalam taksi yang membawanya kesebuah tempat makan. selanjutnya yang harus dia lakukan adalah mengisi perut. Tadi, Nina sempet membeli beberapa roti, namun dia berikan pada anak kecil tadi, jadilah dia harus segera sampai ditempat makan karena perutnya sudah meronta-ronta.


__ADS_2