Dinikahi Om Galak

Dinikahi Om Galak
Mengikuti Devan


__ADS_3

" Aku tidak butuh tissu, tapi aku butuh kamu! "


Nina terkejut. Dia pikir devan akan mengusir, tapi diluar dugaan, Devan baru saja mengatakan kalau membutuhkannya.


" Maaf, Maksudnya?" Tanya Nina.


Devan masih menatap Nina dengan serius. dia berdiri untuk berhadapan dengan Nina yang tingginya hanya sebatas ketiak. Mungil sekali, pikir Devan.


" Aku butuh kamu, paham tidak?" Ucap Devan.


" Nggak paham. Butuh buat apa?" Tanya Nina.


Nina sampai harus mendongak untuk menatap mata Devan. Dia ingin tahu apa maksud perkataan Devan tadi, apakah dia serius mengatakannya atau hanya sekedar candaan. Nina terbilang nekat menghampiri Devan saat seperti ini. padahal tadi, dia sempat ragu dan ingin kembali ke mejanya, namun sesuatu mendorongnya untuk mendekati laki-laki bertubuh tinggi itu.


" Ikut aku! "


" Apa? "


Devan berjalan lebih dulu, sementara Nina bertahan ditempatnya berdiri. dia masih mencerna semua perkataan devan barusan.

__ADS_1


Merasa Nina tidak mengikuti langkahnya, Devan menoleh dan berdecak. dia kembali dan menarik tangan Nina untuk keluar dari tempat makan itu.


" Tunggu, Aku memesan makan dan belum membayarnya, bahkan belum sempat memakannya, " Ucap Nina lirih.


" Tunggu diluar aku akan mengurusnya, " Ucap Devan.


Nina tidak berani membantah. Dia keluar dan menunggu Devan. perutnya melilit karena lapar, tapi apa daya Devan tidak membiarkannya makan dan menyuruh menunggu disini.


" Lapar banget, nasiblah gk jadi makan enak, " Ucap Nina.


Nina memegang perutnya karena lapar. dia sesekali menengok kedalam tempat makan dan Devan belum juga keluar.


" Om kita mau kemana sih? " Tanya Nina.


" Aku belum makan Om daritadi lap... "


Nina tidak melanjutkan perkataannya karena baru saja Devan menyodorkan kantong plastik berisi makanan.Bau harum menyeruak dari dalam kantong plastik itu. sepertinya Devan lama berada didalam tempat makan tadi karena menunggu pesanannya jadi.


" Untukku, Om?" Tanya Nina.

__ADS_1


" Kalau tidak mau silahkan buang, kalau mau silahkan makan," Jawab Devan.


" Mau lah, aku lapar, sejak pagi belum makan. " Nina mengambil burger dari dalam kantong plastik itu dan memakannya dengan rakus. Nina tidak peduli, karena perutnya sudah terlanjur lapar. Biarlah Devan yang menilai minus, yang penting perutnya tterpuaskan saat ini.


" Makan Hati-hati! Jangan mengotori mobil," ucap Devan.


Nina menghentikan makannya dan menoleh pada Devan. dia ingin berkomentar tapi lebih peduli dengan makanan yang ada ditangannya.


" Iya, Iya, Bawel banget sih, Om."


Nina melanjutkan makan dengan lebih Hati-hati. Dia tidak mau melihat bagaimana ekpresi Devan saat ini, sepertinya laki-laki dewasa itu kesal dengan ucapannya.


" Mau kemana, Om? "


Nina sudah selesai makan dan minum. keadaan perutnya sudah membaik dan dia bisa berpikir dengan jernih.


" Nggak tahu. "


Nina menoleh dan menatap wajah Devan. Dia kembali teringat dengan kejadian ditempat makan tadi. harusnya, Devan sedang patah hati saat ini. dia sudah disakiti oleh wanita yang dia cintai, bahkan dia rela menunggu wanita itu bertahun-tahun namun berakhir pengkhianatan. kalau itu terjadi pada Nina, dia pasti sudah menangis dikamar berhari-hari dan menyembunyikan dirinya dari khalayak ramai untuk berapa waktu, karena hati yang tersakiti butuh waktu untuk sembuh.

__ADS_1


Nina ingin menghibur Devan, tapi dengan cara apa, dia sendiri takut salah bicara dan berakhir


__ADS_2