Dinikahi Om Galak

Dinikahi Om Galak
Perkara Burung


__ADS_3

" Itu... Om, burungnya takut kabur, udah mau keluar, " Ucap Nina sambil menutup matanya dengan kedua tangan.


" Burung siapa? Mana ada burung! "


" Burung om devan! "


Nina menutup matanya dengan tangan namun bisa melihat devan dari celah jarinya. devan langsung melihat kebawah dan terkejut melihat handuk yang melingkar di pinggangnya sudah terlepas entah kemana.


Nina replek berbalik membelakangi devan yang sedang mencari handuknya.


" Sudah belum, Om? Cepetan nanti burungnya kabur, " Ucap Nina.


" Diam! kemana handuk itu? " ucap devan.


Nina melihat kebawah dan terdapat handuk bercampur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. selimut itu tebal hingga menyeret handuk devan yang terjatuh tadi.


Nina mengambil handuk itu dan memberikannya pada devan dengan masih membelakangi nya.


" Ini Om, Handuknya, " Ucap Nina.

__ADS_1


Devan menarik handuk dari tangan Nina dan memakainya. Nina masih bertahan membelakangi devan. dia tidak menyangka kalau akan melihat pemandangan luar biasa seperti tadi. walaupun masih terbungkus ****** *****, tapi Nina tebak ukurannya memang besar.


Nina segera menggeleng untuk mengusir pikiran negatif nya, bahkan dia sampai harus memukul kepalanya agar cepet hilang.


" Kamu kenapa? membayangkan apa yang kamu lihat tadi? " Tanya devan yang sukses membuat nina terbatuk.


" Ngomong apa sih, Om! "


" Mau mandi sendiri atau aku mandikan? " Tanya devan yang sukses membuat Nina melangkah cepat menuju pintu kamar mandi.


Nina segera mengunci pintu dan melepas selimut yang menutupi tubuhnya. dia menatap jantungnya yang sejak tadi berdetak lebih kencang.


Nina segera membuang pikiran negatifnya dan menuju shower untuk mengguyur tubuhnya. Nina yakin saat ini ayah dan hani sangat marah karena dia semalam tidak pulang ke rumah. mereka tidak akan membuang waktu untuk mencari Nina. mereka hanya cukup menyiapkan tenaga untuk memarahi nina habis-habisan. Tak jarang, hermawan akan memukul nina dengan menggunakan rotan jika nina berani membantahnya. nina tidak betah dirumah dan lebih suka menghabiskan waktu diluar seperti bekerja dan bermain dengan sahabat-sahabatnya. Nina tidak mau memikirkan itu dulu, sekarang dia harus lepas dari devan dan mencari yola, karena ponsel dan tasnya pasti dibawa yola pulang.


Nina sudah selesai mandi dan melilitkan handuk ditubuhnya. sebenarnya Nina malu hanya menggunakan handuk begini, tapi selimut yang tadi dipakai untuk menutupi tubuhnya terkena air dan basah, tidak mungkin Nina menggunakan nya lagi.


Nina mengatur debaran Di dadanya yang tak kunjung hilang. dengan ragu dia membuka pintu dan melihat sekitar. dia melihat devan tidak ada dikamar. kemana dia? apa pulang?


Dengan mengendap, Nina keluar dari kamar mandi dan melihat sekitar, dia masih melihat ponsel devan tergeletak di atas nakas, itu artinya devan belum pulang. mungkin saja dia pergi keluar kamar.

__ADS_1


Nina menyisir rambutnya menggunakan sisir fasilitas hotel. dia mengeratkan handuknya lagi, namun tetap saja terlihat terbuka begini membuatnya tidak nyaman. Nina duduk dikasur dan menunggu devan.


Suara pintu kamar terbuka dan devan masuk. Nina langsung menggunakan bantal untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. devan masih menatap Nina kemudian melempar kantong plastik pada Nina berisi baju. Devan juga sudah menggunakan setelan jas yang dipakainya kemarin malam, itu artinya baju yang di laundry sudah diantar. Nina tersenyum dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi. dia memakai bajunya kemarin yang sudah dicuci dan disetrika.


Nina keluar dari kamar mandi dan melihat devan berdiri didekat kasur. dia menatap Nina dengan serius membuat Nina sedikit gugup.


" Setelah ini pulang lah dan anggap kita tidak pernah bertemu, " Ucap devan.


Nina mengangguk dan hendak melangkah, namun suara perutnya membuat langkah itu berhenti.


Kruyuk


Kruyuk


Nina berhenti dan menoleh pada devan.


" Om, aku lapar. "


" Ck! "

__ADS_1


__ADS_2